Jangan-jangan, jam dinding itu rusak tiba-tiba?
Pikiran konyolku itu baru saja melintas di benakku. Ya, konyol, karena sejak satu jam empat puluh lima menit yang lalu aku tidak lepas memperhatikan jarum detik, menit dan jam beringsut dari angka ke angka.
Ya ampun, mengapa 1 jam itu harus 60 menit, dan kenapa 1 menit itu harus 60 detik. Berarti aku harus melewati 900 detik lagi untuk keluar dari tempat ini.
Bangku kayu yang rata dan tak berbusa ini benar-benar membuat bokongku panas. Tidak heran kalau bokong terlihat lebih gelap dari bagian tubuh yang lain. Padahal itu bagian tubuh yang paling jarang terkena matahari. Kecuali kalau ada orang yang tiap harinya cuma memakai baju dan celana dalam, tapi tidak memakai celana panjang, atau celana luar. Dan, dia berjalan merayap. Maka bokongnya akan benar-benar gosong secara harfiah.
“Bener Ran, Haryo beneran bilang gitu ke gue.”
“Ah, kepentok jendela kali tuh orang, trus ngalamin disorientasi.”
“Ya ampun, Raniii, masa lo gak percaya sih ama gue?”
“Gue percaya 101 persen ama lo, tapi gue gak percaya 101 persen ama Haryo.”
“Dia udah 1 bulan kayak orang bego cerita ke gue, dikit-dikit Rani, dikit-dikit Rani.”
“Masa iya lo percaya ama Haryo Res?”
“Eh, mmm, yah, gimana yah. Tadinya gue gak percaya…”
“Trus apa yang bikin lo iya percaya?”
“Ya gitu deh, kayaknya dia tulus, gak kayak biasanya.”
Itu pembicaraan 1 bulan lalu dengan Nares. Aku berbalik untuk memasukkan 1 dari 4 buku yang bertebaran terbuka di meja ke tas. Dan dengan posisi berbalik badan itu, aku mencuri pandang ke tempat duduk di urutan kedua dari belakang. Ternyata sosok yang kutuju itu sedang tertawa tanpa suara sambil menulis, kulihat teman sebangkunya, Anggoro, juga tersenyum lebar. Aku yakin mereka sedang main bingo. Salah satu dari sekian permainan untuk menghilangkan jenuh maupun kantuk di tengah pelajaran.
Aku kembali menatap jam dinding dengan latar belakang angka 65 itu. Suara Bu Retno tidak beritme, tidak berirama, bernada datar. Mungkin konstan di kunci D minor. Dia benar-benar seperti membaca kata per kata dari buku cetak yang dimiliki semua anak di kelas. Dan buat apa membacakan dongeng dari buku yang bisa dibaca sendiri oleh anak-anak murid? Sungguh monoton.
Aku bersandar dengan topangan tangan kiriku, sementara tangan kananku mencoret-coret bagian belakang buku tulis “Catatan Bahasa Indonesia” dengan pola yang tak menentu. Sesekali aku menatap jam dinding di atas papan tulis itu. Aku bersyukur pihak sekolah meletakkan jam dinding di atas papan tulis di setiap kelas. Kalau diletakkan di bagian belakang kelas, mungkin aku akan duduk membelakangi guru, papan tulis dan akan selalu menengok ke belakang. Dan tidak lama setelah itu, mungkin aku akan disuruh untuk ‘menutup pintu dari luar’ alias keluar selama pelajaran berlangsung.
“Rani, masa yah, tadi si Haryo cerita, kalo dia seneng banget dipinjemin handuk sama lo, katanya tu handuk mau dibawa tidur.”
“Heh? Aneh banget, itu anduk bekas keringet ama ingus gue juga.”
“Ih, lo jorok banget”
“Apaan yang jorok? Emang gue lagi pilek.”
“Trus kenapa lo kasih ke Haryo? Masa dia kena ingus lo gitu?”
“Ya abis, gue lagi makan somay, tau-tau dia abis main bola, lari sambil nyamber anduk gue. Gue panggil-panggil, udah jauh. Gue males ngejar, somay gue masih banyak.”
“Yeh, dudul lo.”
“Haryo tuh yang dudul… eh, ngapain sih si Haryo cerita yang gak penting-gak penting gitu ama lo Res? Emang apa hubungannya ama lo?”
“Denger ya tong, orang-orang juga pada tau, kalo gue ama lo itu, kayak sepatu ama kaos kaki… bau! Eh, salah, maksudnya, kayak kembar siam nempel di jidat. Kemana-mana bareng, pulang bareng, ke kantin bareng. Cuma ke toilet ama kelas aja yang gak bareng!”
“Yah, lo tau kan kita simbiosis parasit, eh, mutualisme deng, hehe.”
“Tega lo.”
“Trus kalo udah cerita ama lo, trus lo cerita ama gue. Trus kenapa?”
“Ya supaya lo tau kalo dia suka sama lo, dia seneng apa-apa yang berhubungan sama lo.”
“Tapi itu gak ada ngaruhnya buat gue.”
“Loh emang kenapa? Lo gak suka ama dia?”
“Apaan yang bisa bikin gue suka ama dia? Cuma karena dia cerita ama lo kalo dia suka gue? Apa buktinya?”
“Lah? Elo kan yang sekelas ama dia. Masa iya dia gak pernah nunjukin sedikit-sedikit acan kalo dia suka ama lo?!”
“Res, itu sama aja lo nanya gue ‘Rani, lo udah pernah liat lemur jalan kayang belum?’”
“Emang lo belum pernah liat?”
“Ampun. Maksud gue, itu hal yang mustahil akan gue lihat.”
“Yang artinya…?”
“Masya ampun Naresss. Itu artinya, Haryo gak pernah sekalipun nunjukin apa-apa yang dia ceritain ke elo!”
“HAH?!”
“Udah 1 bulan sejak lo cerita, dan sikap dia ke gue ya biasa aja. Perlakuan dia sama kayak perlakuan dia ke 29 orang temen cewe sekelas dia. Termasuk gue yang ke-30.”
“Tapi Ran, dia bilang ke gue kalo dia suka banget ama lo. Lo tuh beda, unik, dan dia belum pernah ngerasa suka kayak gitu ama cewe.”
“Nares, gue lebih percaya ada nyamuk yang berdenging di kuping gue walau tu nyamuk gak ngegigit gue. Daripada ngeliat Haryo yang hampir setiap hari ketemu, tapi gak sekalipun menunjukkan apa yang lo bilang. Jangan kan memperlihatkan, ngajak ngobrol aja nggak. Jangan kan ngajak ngobrol, menyapa aja jarang. Gue harus percaya bagian mana yang lo bilang kalo dia suka banget ama gue?”
Nah, kalo yang itu dua minggu yang lalu. Sekuat tenaga aku tidak ingin percaya dengan omongan Nares. Kalau memang Haryo suka padaku, mengapa dia lebih menceritakan itu ke Nares, yang ada di kelas 3-3 dan bukan aku, teman sekelasnya di 3-7?
“Dia itu ternyata pemalu Ran, gue juga udah berpuluh kali ratus kali bilang ama dia ‘kenapa lo nggak deketin aja, lo kan sekelas ama dia’, gitu Ran”
“Trus dia bilang apa?”
“Dia bilang gini, ‘nggak ah, gue malu. Bingung gue, ngajak ngobrol apaan? Paling maksimal gue cuma pinjem penghapus, itupun cuma gue tusuk-tusuk pake pulpen, eh, pas gue balikin dia malah sewot ke gue’”
“Ya iya lah gue marah. Itu penghapus bagus boleh nemu, malah dibolongin”
“Yee, lo kan juga nemu tu penghapus.”
“Justru karena nemu, jadi susah dapetnya. Kalo beli kan gampang.”
“Aneh lo Ran”
Bukannya aku tidak berusaha mencari tahu. Bahasa sok tingginya, aku mencari affirmation, bukti. Seeing is believing. Apalah istilah-istilah itu. Aku memang paling menghindari urusan antara perempuan dan laki-laki yang diberi sub-judul ‘percintaan’ itu. Tapi, ya tidak ada salahnya mencoba.
“Eh, gue pinjem buku cetak sejarah lo dong. Buku gue waktu itu dijadiin ganjelan meja guru, trus, abis itu gak tau lagi kemana. Gue belum ngerjain PR. Dikumpulin hari ini,” kataku suatu hari menyambangi tempat duduknya.
“Ha?” tidak ada sambutan meriah atau wajah sumringah darinya.
“Ada nggak?” aku menatapnya. Dan dia menatap meja. Mungkin ini kejadian langka, selangka Komet Halley lewat di atas langit kota Jombang. Karena aku tahu, jenis cowo seperti dia, tidak pernah memikirkan buku catatan Geografi di pinjam siapa, buku cetak Sejarahnya diletakkan dimana. Hari ini ada PR apa saja. Pelajaran apa. Meminjam buku dari dia, sama hal nya dengan mengharap Elton John menikah dengan wanita. One in a million chances, I think.
“Gak tau deh gue taro dimana,” pandangannya tidak lepas dari meja tulisnya. Aku heran, apa yang menarik dari meja itu. Apa ada peninggalan ukiran Mpu Gandring di meja itu?
“Mmm, gue beneran lagi butuh nih, lo bisa tolong cariin gak?” aku sedikit memelas ingin menguji, apakah dia akan berusaha untuk menolongku.
“Sebentar,” Tiba-tiba dia berlari keluar kelas setelah menabrak meja paling depan hingga miring. Belum sempat aku berteriak memanggil, langkah cepat dia sudah menghilang di kejauhan, meninggalkan aku yang tertegun bingung.
“Mungkin dia kebelet pengen ke toilet,” aku berbicara dengan meja, sedikit kecewa. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin saja. Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa. Tapi kalau menelaah kejadian tadi, aku bisa saja memberi penilaian negatif. Tidak mendapat afirmasi dari cerita-cerita Nares.
Kulirik jam dinding di atas papan tulis, yang diapit foto kedua presiden. Kalau diapit fotoku, mungkin jam dinding itu tidak akan ditaruh ditempat yang mudah dilihat orang, tapi akan berada di gudang yang gelap, pengap dan bau, bersama fotoku tentunya.
“Istirahat masih 15 menit lagi. Ah, masih bisa makan mi ayam nih,” pikirku.
Aku membuka sebelah pintu kelas ku sebelum ada suara langkah cepat yang mendekat, disusul dengan suara ‘brakk’ yang keras. Aku benar-benar kaget mendengar suara keras itu, kupikir aku telah membuat tulang tengkorak seseorang retak.
“Haryo!!!” aku mengenali sesosok tubuh yang sedang tergelimpang di lantai dengan memegang hidung. Dia berusaha bangun dengan meringis. Aku cepat-cepat membantu dia berdiri sambil kubantu dia berjalan ke kelas sebelum terjadi keributan dan aku dikenakan pasal “penganiayaan yang terencana”.
“Duhhh,” aku meringis, mewakili Haryo yang tidak bersuara ketika kami sudah duduk bersebelahan di bangku dia dan Anggoro. Tangan kanan dia masih menutupi hidung dan mulutnya. Keningnya berkerut seperti menahan sakit. Tapi dia tidak bersuara. Aku sedikit panik melihatnya.
“Haryo, aduh, maaf banget. Gue gak liat lo lari. Idung lo gak apa-apa? Coba sini gue liat,” aku berusaha melepas tangan yang menutupi hidungnya. Dia bahkan tidak melihat ke arahku. Pandangannya tetap tertuju ke meja. Aku heran, apa bagusnya sih meja penuh coretan itu? Aku malah ikut melihat meja itu sekilas.
“Jangan-jangan idung lo patah. Eh, tapi tadi kena idung aja kan ? Kena jidat juga nggak? Apa kena bibir juga? Pusing nggak?” aku malah mencecarnya dengan pertanyaan.
Satu menit…
Dua menit…
Tiga menit berlalu…
Dia masih diam. Aku menduga mungkin dia terkena gegar otak ringan dan benar-benar mengalami disorientasi. Karena dia tetap memandangi meja di depannya. Sempat terpikir untuk membakar meja itu. Karena Haryo lebih memilih memandangi benda mati itu daripada aku yang berusaha menolong dia. Tapi aku yakin dia tidak apa-apa, karena pandangan matanya masih fokus, tidak kosong.
Aku bergegas mengambil P3K di laci meja guru dan kembali ke sebelah Haryo yang masih diam tak bergeming. Mudah-mudahan kotak P3K ini benar-benar berisi perlengkapan yang dibutuhkan untuk menolong seseorang dalam keadaan darurat. Bukan hanya sekedar formalitas, penghabisan budget uang Kas Kelas untuk pembelian barang-barang yang seharusnya ada di kelas, selain kemoceng, pengki dan sapu kelas. Oiya, juga bunga-bunga plastik murahan dengan tetesan air tiruan di daun beserta vasnya.
Yang ada di kotak P3K itu adalah:
Satu kantong plastik berisi kapas dengan merek “Cap Halus”. Satu botol obat merah. Satu botol Betadine. Satu botol alkohol 70% dengan label kecil di belakangnya bertuliskan “Jangan diminum, bisa menyebabkan kantuk”. Satu pak kain kasa. Satu buah gunting lipat. Satu pak band-ain merek “Warna Warni”. Satu botol minyak angin yang isinya tinggal setengah. Satu jepit jemuran. Aku heran siapa yang meletakkannya disitu, apa dia pikir dengan menjepit bagian luka, bisa menghentikan pendarahan atau semacamnya?
Tapi yang paling bikin aku ingin muntah adalah sebuah kaos kaki yang sangat kumal, kotor, berwarna coklat kehijauan, ada sedikit rumput yang menempel dan yang pasti baunya yang bisa membuat seekor gajah dewasa pingsan. Aku yakin kaos kaki ini sangat ampuh untuk menyadarkan anak-anak yang pingsan ketika kepanasan upacara atau ada yang tidak sadarkan diri setelah menabrak tiang basket. Yah, kejadian itu memang ada di sekolahku.
Kembali ke kotak P3K, kaos kaki dan Haryo.
Aku segera membuang jauh-jauh kaos kaki buluk itu sebelum aku yang semaput mencium baunya. Sesaat aku berpikir, apa yang diderita Haryo? Aku agak bingung ketika mau mengobatinya. Apakah aku harus menjepit hidung dan menyumpal hidungnya dengan kapas jika memang benar hidungnya patah? Atau aku harus mengoles bibirnya dengan alkohol dan memplester bibirnya jika berdarah. Aku perlu pendekatan yang berbeda.
“Haryo, sini gue liat dulu luka lo. Kalo telat diobatin nanti bisa infeksi. Tar siapa yang repot? lo juga. Gak ada yang sudi ngurusin lo di kelas ini. Sebagai anak paling iseng, belagu, suka bikin keributan, anak-anak mungkin akan lebih mensyukuri celakanya lo daripada sehatnya lo,” mungkin kata-kata ini agak kasar, tapi berhasil menggugah kesadaran dia akan adanya gue hampir 10 menit yang lalu di sebelahnya.
Matanya beralih ke arahku. Aku tersenyum canggung. Dia membiarkanku menarik tangannya dari mulutnya. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi dengan wajahnya. Celakalah aku kalau telah membuat cacat wajah yang cukup ganteng itu. Bisa-bisa aku ditenung oleh sebagian besar cewe-cewe di sekolah ini yang suka padanya.
“Kayaknya idung lo patah dikit deh,” aku berkata pelan sambil berusaha menghilangkan darah di hidungnya. Haryo sedikit menjauhkan kepala, tapi akhirnya diam membiarkan aku mengobati lukanya.
“Tapi berita bagusnya, tulang hidung itu tulang rawan, asal lo rajin minum susu atau minum suplemen kalsium, tulang lo bisa cepet sembuh,” aku menggunakan kapas, minyak angin, untuk menjaganya tetap sadar tentu saja, betadine untuk keningnya.
“…”
“Nah, udah beres. Mungkin nggak separah yang gue kira, tapi ada baiknya nanti lo cek ke dokter,” aku menempelkan band-aid berwarna kuning dengan gambar buaya kecil-kecil di keningnya sebagai sentuhan akhir. Di dalam hidung sebelah kiri ada gumpalan kapas besar yang mencuat keluar.
Haryo masih saja diam. Tidak ada satu kata percakapan pun yang keluar dari mulutnya.
“Haryo, gue minta maaf bangeeet. Gue gak sengaja. Gue gak tau kalo lo lari ke arah kelas,” aku merasa sangat tidak enak telah menyebabkan kecelakaan kecil itu.
Ajaib. Dia mengangguk pelan.
“Syukurlah, kalo ada apa-apa, jangan nyalahin gue ya, hehe,” aku segera beranjak dari bangkunya bersamaan dengan bunyi bel sekolah tanda waktu istirahat telah usai.
Aku kembali ke bangkuku setelah mengembalikan kotak P3K ke laci meja guru dan berjanji akan membereskan isi P3K yang aneh itu suatu hari nanti. Satu persatu anak-anak mulai berdatangan. Aku masih merasa tidak enak dengan kejadian tadi. Ditambah lagi perutku yang mulai bersahutan minta diisi. Aku tidak sempat ke kantin.
Tiba-tiba sebuah buku dengan judul “Sejarah 3” diletakkan di mejaku. Aku kaget dan reflek melihat ke arah orang yang meletakkan buku itu. Haryo menatapku sekilas dan segera meninggalkan mejaku. Aku segera meraih dan membuka bagian tengah buku itu. Kudapati sebungkus roti coklat yang membuat perutku bersorak girang.
Aku membalik halaman depan buku dan tertulis:
Dede Bitraman
Kelas 3-1
Warning! Yang berasa minjem, balikin dalam keadaan utuh! Atau elo yang gue buat nggak utuh! Thx!
PS: buku ini belum lunas…
Aku menengok ke bangku urutan belakang. Anggoro sedang mentertawakan plester berwarna kuning dan menunjuk-nunjuk gumpalan kapas di hidung kiri Haryo yang hanya bisa menghalau tangan Anggoro sambil tertawa.
Dia bahkan tidak menyadari kalau hari ini tidak ada pelajaran Sejarah.
*
“Rani, kok si Haryo jadi lebih maju jidatnya? Idungnya jadi aneh gitu?”
“Oh, itu. Gak gue apa-apain kok.”
“Dia seneng banget ama plester kuning norak yang nempel di jidatnya, katanya dari lo?”
“Oh ya? Itu plester dari kotak P3K kelas.”
“Mukanya semi-bonyok gitu, tapi kok seneng?”
“Emang dia gak cerita kenapa mukanya bisa jadi kayak gitu?”
“Nggak.”
“Yah, dia lari dan nabrak pintu kelas yang lagi gue buka.”
“HAH?! Kok bisa? Trus gimana? Dia gapapa tuh?”
“Ya lo liat sendiri kan dia masih idup, jalan, berarti dia gapapa.”
“Ya ampun. Kok bisa. Emang dia lagi mau ngapain lari-lari gitu?”
“Entahlah. Mungkin mau minjem buku Sejarah yang gue minta?”
“Lo minta tolong dia?”
“Iya.”
“Dia minjemin lo buku, tapi kenapa lo hantam pake pintu?”
”Yeh, siapa juga yang niat bikin anak orang patah idung pake pintu?”
”Yeh, siapa juga yang niat bikin anak orang patah idung pake pintu?”
“Lo aneh Ran.”
Haryo lebih aneh lagi Res…
Apa dengan kejadian kemaren udah membuktikan kalo Haryo bener ada perasaan ama gue? Trus gue gimana ke dia? Apa dengan orang suka ke gue, trus gue harus suka ke dia? Kalo emang suka trus gue harus apa? Bilang ke dia?
Kalo gue nggak suka?
*
Syukurlah, sepertinya jam dinding itu berfungsi dengan baik. Waktu hampir menunjukkan jam 2 yang artinya bel sekolah akan segera berbunyi. Sebagian besar anak-anak di kelas sudah membereskan bukunya dan bersiap-siap pulang. Bu Retno merapikan buku dan peralatan tulisnya dengan lambat. Tapi tidak selambat perasaanku. Aku melihat sekeliling dengan perasaan gelisah. Kutengok sekilas bangku di urutan ke dua dari belakang. Dia ada. Tentu saja dia ada. Setiap 10 menit dari jam 12 aku selalu mencari sosoknya.
“Kalo dia suka, kenapa dia gak ngedeketin gue?”
“Dia takut.”
“Apa gue keliatan kayak orang kanibal yang langsung makan orang yang deket gue?”
“Dia malu mungkin?”
“Dia orang yang paling gak tau malu yang pernah gue kenal. Dia gak punya tali malu Res, dia cuma tau tali kolor!”
“Sabar Ran, mungkin beda kalo ama cewe?”
“Yah, berapa orang cewe yang lo tau pernah jadi gebetannya?”
”Mungkin lo bener-bener beda, dan gak kayak cewe yang biasa jadi gebetannya.”
”Mungkin lo bener-bener beda, dan gak kayak cewe yang biasa jadi gebetannya.”
“Huh!”
“Emangnya… lo juga suka?”
“Menurut lo?!”
“Mmm… dalam kasus yang unik ini, mungkin gak ada salahnya lo ngomong duluan.”
“Gue? Ngomong duluan?! Tar gue dikira cewe agresif. Lagian, kalo gue boleh milih suka ama siapa, gue gak mau suka ama dia. Cowo yang disuka ama cewe-cewe satu sekolah. Gue gak mau jadi bagian cewe-cewe itu.”
“Lo nggak sama ama cewe kebanyakan di sekolah ini. Mungkin kali ini dia bener-bener sembuh dan gak gonta-ganti gebetan lagi? Dia sebenernya baik Ran, cuma lo yang bisa bikin dia lebih menghargai cewe, maksud gue, gak main-main dengan perasaan orang.”
“…”
“Lo juga suka kan ama Haryo?”
“…”
“Dari segala curhatan Haryo tentang lo, gue pribadi berpendapat kalo bener dia suka banget ama lo.”
“…”
“Go for him. Gue selalu ada buat lo. Apapun yang terjadi.”
Kriiiiinnngggg…!!!
Ah, itu suara terindah yang kudengar seharian ini. Aku segera memasukkan semua bukuku kedalam tas. Nampaknya anak-anak yang lain jauh lebih bersemangat untuk segera meninggalkan kelas. Riuh tawa dan celotehan siswa SMA 65 segera memenuhi gedung sekolah. Tapi ada yang membuatku lebih bersemangat dibanding hari biasanya. Ada daya yang mendorong sekaligus menenggelamkan tubuhku. Kakiku terasa ringan sekaligus seperti dipaku ke tanah.
Aku sempat mencari sosok itu di lapangan. Tetapi nihil. Aku segera menuruni tangga. Aku bergerak sambil mencari-cari orang yang kutuju diantara puluhan anak-anak lain di koridor utama. Tapi tidak ada. Aku segera menuju ke gerbang utama menghampiri warung tempat anak-anak cowo berkumpul. Bahkan di sekitar gerobak penjual es kelapa muda kesukaannya. Dia tidak ada. Aku seperti mencari hantu.
Aku kembali masuk ke sekolah dan berbelok menuju ke kantin. Aku tahu warung-warung dan penjual di kantin kebanyakan sudah tutup. Tapi tidak ada salahnya aku mendatangi tempat itu.
Akhirnya pencarian yang membuat kepalaku pening dan mataku hampir berkunang-kunang itu selesai. Aku melihat dia sedang duduk di bangku panjang di kantin pojok. Aku sempat terdiam di tempatku berdiri. Dengan tidak perlunya kupandangi kedua sepatuku. Tidak penting. Yang penting aku harus menghampirinya dengan gagah berani. Seperti Raja Leonidas atas nama bangsa Sparta menolak dijajah oleh bangsa Persia . Ah, kenapa aku jadi teringat film “300” itu?
Aku berjalan dengan berusaha mengkoordinasikan langkah kaki. Kiri, kanan, setelah kanan, lalu kiri lagi. Sebenarnya itu tidak perlu juga, karena langkah kaki merupakan gerak refleks dari tubuh manusia, selama otak kanan dan kiri berfungsi dengan baik, begitu juga dengan kondisi kaki.
Sial! Mengapa harus aku yang repot-repot membawa perasaan ini. seharusnya aku tidak perlu ada beban. Apa seharusnya aku tidak perlu melakukan ini? Sudah terlanjur Rani, tidak ada kata mundur dalam kosa katamu. Dia sudah 1 meter lebih sedikit di depanmu. Lakukan saja.
“Hey Yo, tumben sendiri?” aku duduk di sebelahnya, dengan ada jarak tentunya.
“Iya,” Haryo hanya tersenyum sekilas dan langsung melihat ke arah lain.
“Kok gak bareng Anggoro, kembar identik lo? Hehe,” aku coba mencairkan suasana.
“Dia mau jemput ade-nya,” aku hanya meng-ow-kan jawaban dia.
“Idung lo udah gapapa?” mudah-mudahan aku tidak mengingatkan dirinya sebagai korban tindak kekerasan.
“Udah gapapa. Tapi untuk seminggu pertama gue bernapas dengan satu lobang idung,” ah, rupanya sudah ada beberapa kalimat panjang. Dia nampak senang sekaligus gelisah. Aku tidak pandai membaca bahasa tubuh manusia. Mungkin benar apa yang dikatakan Nares, perasaan dia kepadaku memang tidak biasa.
“Lo gak dendam ama gue kan ?” aku mencari pandangan matanya yang lebih sering menatap lantai.
Dia melihat mataku sekilas dan sedikit tertawa, “ah, ngapain dendam, lo kan gak sengaja, lagian juga lo udah bertanggung jawab atas tindakan brutal lo itu, hehe.”
Aku sedikit tersenyum sekaligus heran, tapi aku tahu dia hanya bercanda.
“Haryo.”
“Hm?”
“Gue pengen bilang sesuatu ama lo,” aku terdiam. Harus kah aku membuat pernyataan atau pertanyaan? Ada baiknya pernyataan, karena tidak ada keinginan dari dia untuk menunjukkan pernyataan duluan. Dalam hati aku merutuki Nares, jangan-jangan selama ini dia hanya membual. Cuma ingin membuatku besar kepala dan memikirkan orang yang bahkan tidak menatap ketika berbicara denganku.
“Apa?” layaknya orang yang sering membaca majalah dan menonton film bertema cinta, dan ketika ada orang yang mengatakan ‘ada yang ingin aku sampaikan’, artinya antara suka dan benci, atau rahasia bahwa dia homosexual.
“Gue…”
Haryo menatap tajam ke arahku. Menanti kalimatku selanjutnya. Dan ini membuatku berharap bangku panjang yang kududuki ini hidup, memiliki mulut lebar dan memakanku hidup-hidup. Dan aku rela ditelan bulat-bulat, dan tidak perlu menerima pandangan seperti itu darinya.
“Gue pengen nanya, lo sering ngobrol ama Nares?” sedikit memastikan omongan Nares.
“Hmm, iya, kadang-kadang,”
“Lo deket ama dia?”
“Ya, bisa dibilang gitu. Karena ternyata dia itu sepupu jauh dari ade suaminya tante gue,”
Aku hanya bisa menaikkan kedua alis tanda keheranan.
“Ouw…” aku hanya mengangguk-angguk.
“Emang kenapa?”
“Oh, nggak. Ga apa-apa, sebenernya gue mau bilang kalo…” aku belum sampai satu tarikan nafas ketika ada suara di memanggil nama salah satu dari kami di bangku panjang ini.
“Haryo!” kami berdua menoleh ke sumber suara.
Seorang cewe dengan rambut sebahu, berparas cantik indo, kira-kira setinggi aku, dengan gaya berpakaian yang feminine, kaos kaki menutupi betis, tas yang diselempangkan di bahunya, menghampiri kami. Haryo tampak terkesiap, dia tidak menanggapi panggilan itu.
“Udah lama nunggu aku?” dia duduk sangat dekat dengan Haryo dan menaruh tangan di paha Haryo.
“Oh, belum, gak kok, belum lama,” Haryo gelagapan.
“Maaf yah, tadi rapat OSIS-nya ribet,” dia mengibaskan rambut ke belakang dengan gaya slow motion. Aku dapat mencium aroma jeruk terbawa angin ke hidungku.
“Gapapa,” Haryo tersenyum salah tingkah ke arahnya dan sekilas melirikku.
Sesaat hening melanda. Cewe itu sedang mengikat rambutnya menjadi ikatan kuncir kuda. Haryo terlihat meremas kedua tangannya sendiri. Dan aku hanya berusaha menebak siapa gerangan cewe itu.
“Rani, udah kenal belum, ini…”
Cewe itu mengulurkan tangannya, “Ami…”
“Rani,” aku mengulurkan tangan dan kami bersalaman menyeberangi Haryo.
“… cewe gue,” Haryo meneruskan kalimatnya.
“Hay,” aku tersenyum lebar sambil mengingatkan diri untuk bernafas. Aku lupa kalau bernafas juga mekanisme refleks dari tubuh. Yah, untuk saat ini, sepertinya aku harus secara sadar memerintahkan otak untuk bernafas.
“Kakak temen sekelasnya Haryo yah?”
Ternyata dia adik kelas, tapi aku jarang melihatnya.
“Iya, kok gue jarang liat lo ya?” aku mencoba memenuhi rasa ingin tahu ku.
“Iya, aku baru pindah dua minggu lalu,” dia tersenyum sangat manis dengan suara manja kepadaku. Haryo mematung di antara kami.
“Ow, baru pindah. Pantas…”
“Udah yuk say, we gotta go,” aksen berbicaranya kentara kalau dia bukan pindahan dari luar kota , tapi dari luar negeri.
“Oh, iya. Mm, Ran, gue duluan yah,” Haryo seperti tak berani melihatku.
“Iya, gue juga mesti balik,” sebelum mereka berdiri, aku sudah berdiri duluan.
“Thanks Yo, ati-ati idungnya dijaga, hehe,” aku melambai ke arah mereka dan berjalan cepat ke arah koridor utama sekolah dan keluar gerbang sekolah. Keluar dari ruang yang selalu aku hindari. Ruang yang disesaki dengan perasaan.
I went and even before I asked him,
He already got the answer.
I supposed not to asked him anything
Maybe before I qive him the curiosity
I should questioning myself,
Did I ever really fall for him?
A tree fall down in the middle of forest
Who ever heard it fallen?
No one
No comments:
Post a Comment