sebuah catatan kecil pada malam Selasa, 8 Agustus dua ribu enam
Aku masih terjaga pada malam Selasa jam setengah dua
dengan radio menyala tidak jauh dari telinga
dan dari kamar depan bernomor dua puluh dua masih terdengar suara
dua orang remaja belia bercanda dan ada derai tawa
Hei, ini sudah hampir jam dua
lalu kenapa mataku masih terbuka?
Angin menelusup melewati jendela
tidak membawa pergi gelisahku yang berputar di kepala
bulan tadi yang kulihat sedang purnama
warnanya sempat beraura semerah senja
Lihat, indah sekali sang bunda malam
Ya, itu bulan purnama, kata lelaki dengan senyum di matanya
Senja bulan purnama?
Ah, mengingat bulatan terangnya yang mempesonapun
tidak bisa membuatku memejamkan mata
Mungkin ucapan selamat tidur
dan untaian kata cinta dari dia
, bisa?
No comments:
Post a Comment