Thursday, February 12, 2009

Alasan

Alasan

Aku sedang membuka-buka file-ku untuk mencatat kuliah “Perencanaan Pesan 2” ketika kutemukan secarik kertas yang ditempel dengan selotip transparan menggunakan spidol merah, jelas tulisan itu adalah tulisan seorang cewek, yang pasti bukan tulisanku yang cenderung “merumput”.

- Ta, bulan depan tanggal 29 kita anniversary 1 tahun loh. How about we make it super special? – Luph u much, Nina.

Ah, Nina. Aku mengenali tulisan tangannya. Pikiranku melayang. Tidak terasa sudah hampir setahun aku bersamanya. Perbedaan umur dan tingkat pendidikan tidak menghalangi kami untuk memiliki hubungan istimewa itu. Nina masih duduk di bangku kelas 3 sebuah sekolah menengah atas favorit di selatan Jakarta. Dan aku sendiri sudah memasuki tahun terakhir kuliah diploma fakultas ilmu sosial di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia.

Sejauh ini hubungan kami bisa dibilang lancar. Banyak kecocokan diantara kami. Dia tidak seperti bayanganku tentang anak-anak SMA pada umumnya. Dia mandiri, tidak banyak menuntut, tidak manja dan cara berpikirnya cukup cerdas untuk mengimbangi pikiranku yang ‘sudah kuliah’ ini. Dan mempunyai pacar seperti dia memang benar-benar mencerahkan hari-hariku. Teman berbagi dan mendukung yang menyenangkan.

Tapi memang akhir-akhir ini kegiatanku menumpuk sesak sekali. Andaikan aku bisa menggandakan diriku menjadi lima, dan bisa kubagi-bagi tugas kuliah, urusan senat, latihan bola dan kerja paruh-waktuku dan tentu saja waktu untuk Nina, pasti sudah kulakukan. Tapi sayangnya keajaiban itu tidak akan pernah bisa terjadi sampai kapan pun. Raga dan jiwaku cuma satu, dan harus bisa kubagi-bagi waktu untuk semua kegiatan itu.

Yang membuat keadaan makin memburuk dari semua hal itu, Nina-lah yang paling tidak bisa kuajak kompromi. Ia seperti tidak mau mengerti dengan situasi dan kondisiku.

“Kenapa sih kita jadi jarang hangout bareng lagi?!” katanya suatu hari padaku.

“Loh? Kita kan udah dateng bareng di pensi sekolah kamu minggu lalu?”

“Iya, tapi cuma itu. Besok-besoknya udah nggak jalan bareng lagi!”

“Aku lagi sibuk buat tugas akhir aku, sayang,” aku coba menjelaskan.

“Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu?!” ia semakin bersikeras.

“Ya nggak segitunya juga, kan aku juga kerja, latihan, ngurusin senat.”

“Terus…? Nggak ada waktu buat aku?!”

“Ya ada, kan kita tetap SMS dan telpon-telponan?”

“Apaan?! Sekarang kamu jarang banget balas SMS dan miscal-miscal aku.”

Kan malamnya aku telepon kamu.”

“Iya. Tapi malam doang, itupun cuma sebentar. Biasanya kamu langsung nge-respon SMS atau telepon-telepon aku. Mana HP kamu jarang diangkat kalo aku telepon.”

“Mungkin aku lagi di jalan, jadi gak denger telepon dari kamu.”

“Ah. Kamu selalu beralasan.”

“Please Nin, ngertiin kondisi aku.”

“Iya! Aku bisa ngerti kondisi kamu, kalo kamu juga ngerti permintaan aku!”

Aku menghela nafas. Lelah sekali kalau aku harus terus berkonfrontasi dengannya.

Minggu-minggu selanjutnya menjadi teror untukku. Kadang dia menuntut perhatian karena hal-hal sepele. Misalnya seperti minta diantar ke rumah temannya, padahal ia biasa pergi sendiri. Kalau lagi sedikit kesal atau uring-uringan, ia akan mengirim SMS dengan size 5 SMS sekali kirim. Isinya macam-macam, cenderung tidak jelas dan sulit kumengerti. Dan jika ia benar-benar lagi bad-mood ia akan menelepon aku terus menerus bahkan di tengah malam atau pagi dini hari! Tapi ketika kuangkat, ia matikan teleponnya. Memang caller ID-nya tidak dikenali, tapi aku tahu itu perbuatan dia.

Jika ada kesempatan aku mengangkat teleponnya, itupun dengan perasaan agak terpaksa, ia pasti ngomel-ngomel tidak karuan, cerewet, meradang, meminta perhatian. Aku tidak bisa me-nonaktifkan HP-ku, karena aku juga butuh komunikasi dengan teman-teman dan untuk urusan pekerjaanku. Sampai saat ini kutelan saja semua tingkah lakunya. Padahal ada saat-saat dimana aku benar-benar butuh pengertian, perhatian dan dukungan dari dia sebagai pasangan.

Bulan selanjutnya, aku sudah hampir berhasil menyingkirkan segala pikiran yang berkaitan dengannya. Nina pun seperti kehabisan kata-kata dan perbuatan untuk menarik perhatianku lagi. Teror-teror itu mereda. Akupun bisa lebih fokus kepada kuliah, tugas akhir dan pekerjaanku. Sampai suatu hari ia datang ke tempat kostku. Kulihat ia membawa buku yang sebulan lalu dipinjamnya. Aku yakin buku itu belum dibaca atau bahkan dibuka halamannya, ia meminjam buku itu agar ada alasan untuk bisa bertemu denganku lagi.

“Nin, ada yang aku pengen aku omongin sama kamu,” aku mendahului kata-katanya.

Dia terkesiap, seperti diserobot, “iya, aku juga pengen ngomong sesuatu.”

“Aku ingin sendiri dulu,” aku mengucapkan kata-kata itu dengan pelan tetapi tegas.

“Kenapa?” sorot mata yang tadinya keras perlahan berubah menjadi sendu.

“Aku ingin fokus ke kuliah, tugas akhir dan pekerjaanku,” kataku menjelaskan.

“Lalu? Kenapa harus sendiri? Emang gak bisa kita hadapin bareng?!” ada nada penolakan dalam pertanyaannya.

“Sepertinya sulit. Aku takut kalau lebih lama lagi kita begini, aku akan terus menyakiti dan membuatmu kecewa,” aku menatap matanya dalam-dalam.

Dia hanya menunduk diam.

“Memangnya aku salah apa sampai kamu tega mutusin aku begini?!”

“Nggak, kamu gak salah apa-apa kok Nin.”

“Aku tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan kan, Ta?”

“Tidak, kamu tidak pernah meminta macam-macam, justru itu yang membuatku makin merasa bersalah sama kamu. Aku bahkan tidak bisa memenuhi permintaan dan harapan sederhana dari kamu,” aku seperti ingin cepat-cepat menyudahi pembicaraan ini. Aku mengenal Nina, aku tahu dia tidak akan banyak melempar argumen lagi. Mungkin ia menyadari kalau toh ia akan menghadapi saat seperti ini.

“Sepertinya aku gak bisa mengubah keputusan kamu lagi,” nada suaranya terdengar bergetar. Kulihat ada yang mengalir di pipinya yang pucat. Sebenarnya aku tidak tahan melihat perempuan menangis. Hatiku pun luluh juga. Aku mengusap air mata di kedua pipinya.

“Maafin aku ya Nin, mungkin ini yang terbaik untuk kita,” dengan lembut aku membelai kepalanya.

“Ya, mungkin begini lebih baik,” ia cepat-cepat menghapus air matanya dan mencoba berkata-kata dengan biasa lagi. Ada jeda yang aneh melanda kami.

“Oh iya, aku pengen balikin buku kamu,” dia menyodorkan buku kehadapanku. Dan tepat ketika aku ingin mengambil buku itu dari tangannya, ada selembar kertas putih berukuran kartu pos yang jatuh di dekat kakinya. Sebuah foto dengan gambar aku sedang merangkul pundak seorang perempuan berambut panjang dengan latar belakang rumah di tepi pantai. Aku bisa menebak dengan persis apa yang akan dikatakan Nina ketika ia memandang foto itu dan melemparkan pandangan penuh curiga kepadaku.

“Siapa ini?!” nadanya suaranya terdengar meninggi.

“Oh, itu…” ada hening sejenak sebelum kalimatku berikutnya, “itu adalah perempuan yang pernah aku sayang dan sekaligus pernah nyakitin aku,” aku menghela napas panjang dan dalam. Sekilas kulihat sorot mata Nina masih menunjukkan kecurigaan.

“Tolong jangan tanya apa, kenapa, kapan ataupun bagaimana… Please?” kataku pelan.

Ia hanya terdiam, ekspresinya masih penuh dengan pertanyaan tetapi matanya menunjukkan kepedulian terhadapku. Ia meletakkan foto itu di atas meja di sebelah tumpukan tiga buah buku itu. Ia berdiri mendekatiku dan memegang tanganku.

“Maaf, aku hanya ingin tahu,” suaranya pelan sekali.

“Iya, gak apa-apa,” aku tersenyum kepadanya.

Aku memegang kedua tangannya, mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningnya, dan memeluknya agak lama. Tidak tahu mengapa kulakukan itu, kurasa biar ada judul bahwa ini adalah ‘putus-baik-baik’ dengan pasangan. Dan kuharap selanjutnya akan baik-baik saja.

“Sudah malam, sebaiknya kamu pulang, nanti mama nyariin kamu,” aku segera melepas pelukan dan pegangan tanganku.

“Iya,” kelihatan sekali kalau dia sedih dan terpukul.

“Kita masih bisa berteman baik kan Nin?” aku tersenyum kepadanya. Dia hanya mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Lebih baik aku pulang. Maaf, dan terima kasih untuk semuanya,” dia beranjak dari teras kostku.

“Ya, I will. Hati-hati di jalan,” aku melambai dengan pelan padanya. Ia tidak membalas lambaianku, dan langsung berjalan keluar pagar. She doesn’t even look back at me, like she used to do. Gak apalah, pikirku. Toh semua kericuhan ini sudah berakhir. Mungkin memang lebih baik begini. Ya, jauh lebih baik. Tidak akan ada lagi teror-teror dan tuntutan dari Nina.

Aku duduk dan mengambil selembar foto tadi di atas meja. Kupandangi gambar diriku dan seorang cewe berambut panjang di dalam foto itu. Dia cantik sekali. Dan wajah itu tidak pernah lepas dari ingatan dan keseharianku dalam tiga tahun terakhir ini. Ya, yang Nina tidak tahu adalah foto itu diambil waktu aku merayakan ulang tahun Marissa, yang sampai sekarang menjadi pacarku, anak jurusan filsafat angkatan 2000 universitas yang sama denganku, di vila tepi pantai milik orangtuanya,

Kuselipkan kembali foto itu di buku. Cukup mengejutkan foto itu muncul di saat-saat terakhir aku memutuskan hubungan dengan Nina. Tidak percuma aku pernah ikut dan tekun latihan teater di fakultas sastra.

Kurasa aku cukup meyakinkan di hadapan Nina.

***

No comments:

Post a Comment