Wednesday, March 15, 2017

Jangan Berhenti

“Silakan hot chocolate-nya kak.”

Aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kepada pelayan dengan tato bertuliskan “4:30” di bagian dalam lengan tangan kanannya, terlihat ketika menyodorkan pesanan ke mejaku yang memang memilih sisi menghadap jendela. Dan aku sempat berpikir, kenapa di menuliskan angka “4:30” itu sebagai campuran tinta permanen seumur hidupnya. Apakah ada kenangan tertentu dengan kombinasi angka itu? Atau itu waktu dia dilahirkan? Atau mungkin ada alasan religius? Semacam surat tertentu dalam kitab suci beserta ayatnya? Bagaimana kalau dia salah memilih tato itu?

Sepertinya terlalu berat untuk dipikirkan lebih lanjut hanya dengan secangkir coklat panas. Sebaiknya aku merenung dengan pikiran yang lebih santai saja.

“Hai Ra, sudah lama?”
Senyum yang sudah sangat familiar itu mengiringi sapaannya.

“Nggak kok, santai. Ini baru datang pesanan ku. Kehujanan?” Aku melihat dia sekilas menyeka yang terlihat sebagai tetesan air dari sebagian rambutnya yang ikal.

“Hahaha. Gerimis mengundang aja. Untung parkirnya dekat.” Dia mendekatkan kursi ke sebelah ku.

“Dan untung lagi bukan gerimis kenangan ya.” Dia mengacak rambutku sambil tertawa. Salah satu gesture favoritku.

“Anyway Ra, masa yah aku nemu di IG katanya kalau dengan makan keju, bisa menurunkan tekanan darah tinggi loh.” matanya berbinar saat mengatakan temuannya itu.

“Kok bisa? Beneran tuh?” alis ku yang terangkat tinggi ke arahnya menandakan keraguanku yang cukup jelas.

“Ya benerlah, taruhan yuk.” Senyumnya terlihat jahil.

“Really?!”

“Iya, karena kamu aja kalau lagi PMS craving any dish with cheese. Jadi korelasinya bener dong. PMS sama dengan darah tinggi. Makan keju, turun deh darah tingginya. Hahahaha.” Dia sepertinya menahan tawa kemenangan itu untuk kunikmati bersama rasa sebal tapi lucu yang muncul.

“Ishhh!” aku meninju bahunya, dan dia meringis kesakitan. Dan aku hafal sekali kalau itu pura-pura.

Dan malam itupun berlalu dengan banyaknya celaan, mindless, pointless conversation dan aku selalu nyaman. Mungkin ada sedikit adiksi dengan kebersamaan itu.

**
Ting Tung

Notif Whatsapp ku berbunyi, dan seperti kuduga, Langit mengirimkan sebuah link tentang film yang akan tayang di tahun ini. Aku sedikit enggan untuk membuka dan membaca link itu, karena aku bisa menebak tidak lama setelah aku read, dia akan melanjutkan mengirim pesan kepadaku.

“Udah diliat link-nya Ra? Gak sabar banget nonton Deadpool 2! Pasti gokil. Si Ryan Reynolds goblik banget. Kayaknya karakter Deadpool emang meant to be ama si Ryan. Sama kayak Po Kung Fu Panda itu ya Jack Black banget!” dengan icon-icon nyengir lebar mengiringi chat WA-nya

Dan aku hanya bisa membalas “hahaha iya, pastilah nanti kita nonton bareng tuh.” dengan icon nyengir berkeringat.

Aku hanya membalas beberapa kali soal link film itu lalu memutuskan untuk menyudahi dengan memberi kabar bahwa aku akan tidur.

**
Ting Tung

Tanpa menebak dari siapa, aku tidak perlu memenuhi rasa penasaranku karena aku memang sudah mengkustomisasi nada notifikasi dari Langit. Dan entah kenapa tanpa aku membaca apa yang dia kirimkan, aku sudah bisa menebak apa isi chat-nya malam ini.

“Ra, keren deh sekarang sudah ada mesin translator portable gitu, jadi kemanapun kita pergi, gak ngerti bahasa, tinggal ngomong di recorder itu, terus di replay ulang dengan bahasa tujuan. Aku tag juga ya di FB mu. Menurut mu gimana? Mau dipakai pake bahasa apa Ra?”

Dia chat beruntun sekitar 7-10 baris. Dan aku agak tertegun lama, dan lagi-lagi tidak terlalu bersemangat membalas. Rutinitas seperti ini kurang lebih sudah berlangsung 3 bulan belakangan ini. Dan akhir-akhir ini makin sering. Jika tidak bertemu atau mengobrol langsung, dia akan melakukan hal seperti itu. Seperti ada saja yang harus dibahas. Aku tidak terganggu, tapi sepertinya, ada itu terasa kurang wajar dan tidak seperti biasanya.

**

Buku Norwegian Wood oleh Haruki Murakami ini menjelang beberapa halaman terakhir saja. Haruki ini punya cara tersendiri untuk membuat kalimat yang darkish yet still bitter but funny in someway. Baru saja aku akan membalik halaman berikut, tiba-tiba pandangan ku gelap seketika. Yah, tentu saja, Langit. Dia melempar topi merahnya ke arahku dan tepat sekali jatuh di atas wajahku dengan posisi tidur di rumput taman kota ini.

“Ha! Three point there!” dia langsung merebahkan diri tidak jauh di sebelahku dengan tas backpack sebagai alas bantalnya.

Aku menyingkirkan topi bertuliskan “All is Well” favorit-nya dan melipat ujung halaman terakhir yang kubaca. Menginterupsi waktu membaca bukan salah satu sikap favoritku. Tapi sudah lama juga aku tidak ngobrol banyak dengan Langit. Memang biasanya banyak bicara itu harusnya menjadi bagianku, kalau in the mood. Tapi akhir-akhir ini Langit seperti berusaha mengambil alih, yang mana aku masih merasa itu bukan kebiasaannya.

“Ra.”
“Uhum.”
“Sudah liat link yang tadi gue WA?”
“Hmm..”
“Seru ya itu.. Coba bisa kayak gitu di Jakarta, menurut mu gimana Ra?”

Aku duduk di sampingnya, dan entah kenapa rasanya ada yang perlu diselesaikan.

“Lang,” aku mencoba mempertimbangkan kata-kata yang akan kusampaikan ini.
“Soal link-link atau foto, fakta menarik, info, meme lucu atau apapun yang kamu kirimkan itu...”
Langit terbangun dan duduk bersila di depanku dengan muka berbinar, seolah aku juga tertarik membahas itu dengannya. Matanya, terlalu coklat untuk kubuat mendung.

“Mau tanya dulu, kenapa lo jadi suka ngirim link-link info gambar video atau apalah kayak gitu ke gue?”

Alis langit terangkat, yang jelas dia tidak menduga pertanyaan ini akan muncul.

“Eh, ya apa ya? Karena menurut ku info itu bagus, related to you, or us. Dan biar bisa jadi bahan obrolan sehari-hari kita, di luar bahasan kampus ku atau kerjaan ku. Is that a problem?”

“Yes, I think it is. A little bit.” Aku mengalihkan pandangan ku ke seorang remaja cowo yang sedang mengambil foto teman wanitanya dengan latar belakang bunga warna-warni.
Aku tidak berani menatap matanya yang meredup.

“Kenapa?”

“Kenapa lo kayaknya perlu banget cari bahan obrolan sama gue? Gue gak pernah pusing mikirin itu” Aku-kamu baginya, dan lo-gue, buat gue.

Dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Karena mungkin, itu bukan jenis pertanyaan yang layak atau tidak terbayangkan untuk dilontarkan ke Langit.

“Maksud kamu Ra?”

“Maksud gue, kenapa harus pusing cari-cari pembahasan buat ngobrol? Kalau emang anggep gue sedeket itu, harusnya ga perlu begitu. Apa adanya lo aja. Kadang gue merasa lo gak being yourself sama gue.”

Kali ini wajah Langit juga berangsur gelap. Rambut ikalnya berantakan tertiup angin. Matanya yang biasa teduh itu cenderung kelabu. Kalau ada soundtrack biola instrumental, mungkin akan terlihat seperti drama India dengan kamera yang zoom-in dan zoom-out berulang-ulang antara wajah datar-ku dan mukanya. Lebih dramatis lagi mungkin jika ada efek petir menyambar.

Aku masih terdiam, sesekali melihat ke sekitar karena pandangan Langit mulai membuatku trenyuh. Merasa bersalah. Dan membuatku berharap aku memiliki kekuatan Hiro Takamura, seorang penjelajah ruang dan waktu di serial TV “Heroes” aku akan mengulang waktu ke 10 menit terakhir agar aku tidak perlu menatapnya seperti ini. Dan kita harusnya bisa seru membaca Norwegian Wood yang absurd itu.

Tapi dia hanya tersenyum, “Jadi ternyata aku sendiri yang ribet ya.” Dia seperti tersenyum menyesal sambil melihat jarinya.

“Eh gak gitu Lang, maksudku, setahuku, lo kan lebih cenderung pendiam, dan gue juga kadang, tapi gue senang kalau dengar lo cerita, dan gue juga senang menanggapi. Cuma memang, ya lo tau, gue bukan tipe suka curhat-an gitu. Ya gue akan cerita kalau memang gue merasa perlu cerita. Dan gue ngerasa, yang kayak gitu-gitu nggak lo banget Lang. Why don’t you be yourself?”

Langit menatapku seperti aku baru meyakini dan mendeklarasikan diriku ikut dalam sekte yang meyakini bahwa “Bumi itu Datar”.

“I do Ra. Aku selalu menjadi diriku sendiri kalau sama kamu. Dan kamu lah segelintir orang yang mana aku nyaman untuk menjadi aku apa adanya.”

Aku kurang bisa menerima begitu saja perkatannya barusan. Dan aku mulai meragukan kenapa kita jadi terjebak percakapan ini.

Tidak lama kemudian, aku mulai merasakan basah di pipiku. Di telapak tanganku. Ternyata rintik hujan mulai tumpah. Heran. Padahal tadi cuaca cerah sekali.

Kami pun bertatapan sejenak dan mulai beranjak dari tempat kami duduk. Sebelum aku berdiri, Langit memakaikan topi warna merahnya ke kepalaku, memastikan aku cukup terlindungi dan tangannya sesaat seperti menggenggam kepalaku.

“Maaf ya kalau kamu gak nyaman. Maaf ya aku pulang duluan. Kamu hati-hati menyetir mobilnya. Kabarin aja kalau sudah sampai rumah.”

Dan aku hanya bisa melihat tas ranselnya terayun mengikuti larinya meninggalkanku dan langsung menumpangi bus di halte Taman. Rintik hujan mulai deras, sebaiknya aku juga segera bergegas ke parkiran mobil untuk pulang.

**
Beberapa hari kemudian, aku pikir keadaan akan normal kembali. Tapi tidak sepenuhnya. Langit tetap berkomunikasi seperti biasa, namun terasa sekali jarang ada obrolan berlanjut di chatting. Tidak ada lagi kiriman link artikel atau apapun itu. Dan karena kupikir dia sibuk dengan proyek iklan baru-nya, aku juga jadi segan menyapa lebih dulu. Masih lebih sering dia yang menyapaku.

Buku Norwegian Wood masih tergeletak di depanku dengan topi merah “All is Well” di sampingnya. Tanpa sadar, topi itu sering kupakai, walau aku sebenarnya bukan orang tipe yang senang menggunakan aksesoris fashion tambahan itu. Ada wangi shampoo yang khas dari Langit. Dan ada sedikit kehilangan di keseharian ku.

Suasana café langganan dimana aku dan Langit biasa hang-out Sabtu siang itu cukup lengang. Hanya ada beberapa meja terisi. Tidak lama aku mendapati wajah yang sangat kucari beberapa hari ini tepat di samping jendela besar itu. Dia membuat wajah konyol, mengetuk jendela dan membuat isyarat bahwa dia akan menghampiriku.

Jujur saja aku sedikit gelisah. Tapi senang.

“Hai, tumben sendiri. Gak ngajak aku? Hehehe.” Gayanya yang kepedean masih saja dipelihara.

“Mending saya hang-out Hannibal Lecter kali,” aku menggeser buku dan topi di depanku

“Hahaha, are you sure wanted to have some your fingers, literally, as his snack?”

“Noooo… I will give him my nose instead, this is not really aesthetically functioning” kami berdua tertawa.

Ada keheningan sesaat melewati kami. Biasanya kami langsung saling bercerita tentang apa saja. Tapi Langit sepertinya menahan diri dan menatap aku seolah berkata “silakan bicara, aku hanya akan mendengarkan.”

“Langit, gue mau minta maaf untuk pertemuan kita terakhir kemarin di taman.” Wajahnya masih tenang dan mengangkat alis sambil tersenyum. “Gue tidak mempertimbangkan benar-benar perkataan sendiri. Walaupun memang benar, kadang gue khawatir ada yang ‘dipaksakan’ dengan keseharian kita, karena gue tau lo sebelumnya gak begitu. Bukan tipe orang yang terlalu cerewet, dan gue merasa lo ‘maksa’, gak jadi diri lo sendiri.”

Memanglah, memandang laki-laki di depan ku ini bisa membuat ku merasa bisa menceritakan apa saja, dan yakin bahwa dia tidak akan keberatan sama sekali dengan semua cerita ku.

“Sudah bicaranya Ra?”

“Eh? Iya sudah. Itu aja.” aku bingung dengan reaksinya.

“Ra, begini. Mungkin karena kamu kenal banget aku, ada benarnya kamu berpendapat bahwa ya memang aku bukan tipe bawel atau banyak ngomong, itu bagian mu, aku dominan banyak mendengar dan menangapi cerita mu.”

“Tapi kamu salah kalau berpendapat aku tidak menjadi diriku sendiri dan terkesan ‘memaksa’. Justru disini aku mencoba ‘improve’ myself. Be a better version of myself. Karena memang kalau mau dituruti dan dijalani benar, aku cenderung pasif, segan untuk memulai pembicaraan atau bahasa anak sekarang ‘gak seru’ lah untuk diajak ngobrol. Bahkan cenderung cuek dan soliter. ”

“Dan dengan kamu yang banyak cerita, aku khawatir kalau kamu suatu hari yaa, memang tidak pengen ngobrol, atau gantian ngomong, aku kesulitan untuk mengimbangimu.”

“Aku khawatir kamu bosan dengan kebersamaan kita, kalau tidak ada hal-hal yang membuat kita terus berkomunikasi, apapun itu. Walaupun tidak harus terus bicara, kadang diam pun tidak apa, tapi setidaknya aku berusaha.”

“Bersama kamu, aku mencoba menjadi orang yang lebih baik. Setidaknya dalam komunikasi atau obrolan kita selalu berwarna. Dan ya intinya, kamu tetap nyaman dengan aku.”

“Aku tidak memaksakan diri, dan aku tetap merasa nyaman dengan perubahan yang aku memang sedang belajar dan usahakan ini. Tapi intinya, aku tetap menjadi Langit yang kamu kenal, hanya saja dia sedang mencoba untuk menjadi lebih baik.”

Aku terdiam dengan penjelasannya.

“Don’t you see me trying here?”

Rasanya kosa kata yang selama ini kupelajari dan kusimpan di memori otak tiba-tiba di-reset ulang. Dan aku kesulitan untuk membalas penjelasannya.

Dan kepala kerasku ini akhirnya menyadari, laki-laki di depanku, Langit, hati seluas namanya, and this is him, a man trying to be a better person.

Untuk aku.

I guess I couldn’t ask for more.


**