Dua hari ini, gue diajarin gimana caranya menjual diri...
...
Yea, gue ikut pelatihan dari kantor called "Salesmanship" selama 2 hari kemaren. Pelatihan ini ngundang para Supervisor dari beberapa TB di Jabodetabek. Sebenernya bukan jatah gue ikut pelatihan ini, tapi Mas Wiwit yang seharusnya dateng, dia melimpahkan ke gue, karena dia bilang, "saya udah pernah ikut, lagian saya yang bikin materi training-nya." Yo wes, akhirnya gue menggantikan dia ikutan training ama Bagoes.
Berangkat dari satu tema, 3 orang fasilitator yang akan mengisi di 2 hari pelatihan itu akan membahas soal "Salesmanship" dari point-of-view yang berbeda. Hari pertama diisi oleh Mas Winarta, beliau ini Store Manager yang rupanya juga berprofesi sebagai seorang dosen salah satu universitas di Solo.. Pantes aja gue ngikutin lecture dia dengan terkantuk-kantuk. Hehe.. Nggak deng, itu mah emang gue-nya aja yang ngantukan.
Mas Win, begitu panggilan akrabnya, menjabarkan pengertian dan pemahaman tentang "salesmanship" ini dari konsep orang barat (west-side). Yah, kalo definisi-definisinya sih kayaknya standar lah, nyadur dari buku-buku marketing gitu. Sisanya diisi dengan sharing pengalaman dari tiap-tiap toko. Total yang hadir itu ada 27 orang spv dari posisi yang beda-beda.
Ini kali pertama gue ikut pelatihan. Yaa, standarlah. Pagi dapet cemilan dengan tagline di atas kotak kue-nya bertuliskan "Purimas 73, berdiri sejak 1936", gue pikir lama amat yah berdiri sejak jaman dulu gitu? Emang gak pegel apa? Apa gak lebih baik duduk aja?. Haha. Garing. Siang dapet makan siang nasi bakar, baru kali itu gue makan nasi yang dibungkus daun pisang abis dibakar. Aromanya khas, lauknya ayam, daun singkong, bumbu2an, rasanya sih enak, standar lah, seenggaknya gue nyobain juga setelah sekian kali ngeliat motor delivery-nya seliweran depan gue kalo lagi di jalan.
Seperti pada umumnya pelatihan-pelatihan yang gue tau, si pembicara terusss aja ngomong, coz memang itu temanya. Kalo kelas-nya kelas aerobic atau taebo, ya mungkin dia bakal jingkrak-jingkrak nendang samping di depan kaca lebar. Ouw.. back to the topic. Mas Win ini juga ngasih contoh2 promosi yang udah pernah dia buat di toko yang pernah dia pegang.
Hari ke-2, diisi oleh Kabag PSDM, mas Budi Santoso. Kali ini beliau menerangkan "Salesmanship" dari sisi filosofi budaya orang timur. Dan dari beberapa cerita dan contoh yang dia kasih, lebih condong ke budaya Cina, kayak ajaran Konfusius gitu. Bagus loh ceritanya. Sarat akan pesan moral. Dan gue cuma termanggut-manggut sambil coret-coret gambar sarang laba-laba di hand-out materi gue. Dia less motion daripada Mas Win, alias duduk diem aja di kursi. Kalo Mas Win kan sepanjang ngomong, terus berdiri, bergerak kesana-kemari dan banyak nge-guyon dengan bahasa Jawa. Dan lebih sering lagi guyon yang 'miring' (ada tanda kutip-nya tuh). Yah, mungkin untuk menyegarkan suasana, suasini.
Sesi yang terakhir, dibawain oleh Mas Sulaiman Budiman, beliau itu Store Manager TB. Matraman. Dan baru kali ini gue ikut pelatihan dari beliau. Waw. Amazing. Udah banyak jam terbang jadi pembicara kayaknya, Mas Sulai ngebawain pelatihan kayak training dari motivator handal. Bersemangat, antusias, penuh gerak, dah kayak acara em-el-em gitu deh. Apalagi slide presentation dia diisi dengan banyak cuplikan film. Jadi banyak nonton film-nya juga, tentunya yang berhubungan dengan materi lah yah. Sejarah hidupnya pun layak dicontoh untuk jadi motivasi orang-orang. Cuma presentasi dia yang bikin gue nggak ngantuk. Lebih semangat dan banyak interaksi. Sempet dibikin terharu ama slide foto plus lagu mendayu-dayu-nya.
The most bold point that i got from that training is about "Selling" yourself. Menjual diri. Yap, tapi ini bukan menjual diri dalam konotasi negatif, tapi lebih cenderung ke "Marketing" yourself. Ini kan udah sering dan banyak kita lakuin dalam kehidupan sehari-hari, tapi mungkin kita gak memasukkan apa yang kita lakuin itu sebagai 'menjual diri'.
Simple deh, lo lagi pedekate ma cewe, atau ma cowo, tentu aja lo berusaha ngeyakinin dia kalo lo worthed untuk jadi pasangan dia kan? Biar dia mau ama lo, lo bakal ngeluarin the best of you di depan dan untuk dia. Sehingga bisa aja calon pacar lo akhirnya percaya dan yakin kalo lo emang baik untuk jadi pacarnya dia. Let say kata-kata kayak, "gue care banget ama lo", "gue setia loh" and the bla and the bla.. yea, you're selling yourself, sampe akhirnya pasangan lo 'membeli' persepsi yang lo tanem ke kepala dia. Mirip iklan lah. Tapi gak se-rude itu lah, you can't buy the love :P haha.. jadi ngaco
Sama juga ketika lo ngelamar kerjaan, pasti perusahaan pengen tau apa yang lo punya, apa yang bisa lo 'jual' ke perusahaan sehingga mereka mau nerima lo jadi salah satu karyawannya. Tentu aja lo 'jual' kemampuan lo, ide-ide lo, tenaga dan waktu lo. That's the reason the numbers pour to your accoun at the end of every month. You're selling yourself
Katanya, yang bikin beda kalo kita lagi promosiin, bikin atau jual produk adalah.. you have to put a lil bit of yourself into the product, service or idea. Dan gue yakin, semua, siapapun diri loe, siapapun kita, adalah pribadi yang unique, satu sama lain beda. We have to stress this out once again, everyone of us is unique! One of a kind. Contohnya gini, semua orang bisa aja disuruh jual sendal jepit. Semua orang bisa. Tapi mungkin akan beda kalo itu sendal jepit lo beli dari Angelina Jolie, atau Luna Maya.
"Ehh.. gue beli ni sendal dari Luna Maya loh, lucu yah warnanya, kuning2 butek gitu, limited edition loh.. " padahal cuma sendal swalow biasa yang empat ribu-an
atau
"Iya nih kemaren gue beli dari tukang sendal, adanya ini, terpaksa gue beli, kan kmrn ujyan, bechyekk, gak ada ojhyeek.." ini kalo beli sendal dari gue, padahal gue jual sendal Dolce and Gaban, Sharivan (ini mah jagoan jepang yah?) yang 10 juta-an. Ini contohhnya..
Begitulah, gue kadang suka menganggap, kalo ada customer yang minta tolong cariin buku ama gue, gue suka menganggap kalo tu customer adalah orang terakhir di dunia yang mau beli buku. Dan gue akan berjuang sampe titik ingus meleleh penghabisan di ujung idung sampe dapetin yang dia mau (lebay bangettt).
The point is, you have to proud of yourself, gak cuma kalo lo lagi jual barang, ide atau apapun. Kalo lo lagi present kerjaan lo, lagi follow up klien lo, put a lots of you in there. It's you who's talking, it's you who's fight for your idea, it's you who show to them what you got Bukan narsis atau sombong, tapi lo berhak bilang.. "Itu ide gue, gue yang bikin." Dan kalo emang bagus, gak usah sampe ngomong kayak gitu orang lain pasti admitted that you're great.
U never know what will happen tomorrow.
So make each of what you're doing count.
It's priceless... (kayak iklan kartu kredit aja)
pesan mi ayam gak pedes : jangan sia2in cemilan buah semangka yang dikasih abis makan siang, lumayan bisa cegah ngantuk dengan cara lo culekin aja tu semangka ke mata lo.. yakin deh, seger berair...
piss ah
...
Yea, gue ikut pelatihan dari kantor called "Salesmanship" selama 2 hari kemaren. Pelatihan ini ngundang para Supervisor dari beberapa TB di Jabodetabek. Sebenernya bukan jatah gue ikut pelatihan ini, tapi Mas Wiwit yang seharusnya dateng, dia melimpahkan ke gue, karena dia bilang, "saya udah pernah ikut, lagian saya yang bikin materi training-nya." Yo wes, akhirnya gue menggantikan dia ikutan training ama Bagoes.
Berangkat dari satu tema, 3 orang fasilitator yang akan mengisi di 2 hari pelatihan itu akan membahas soal "Salesmanship" dari point-of-view yang berbeda. Hari pertama diisi oleh Mas Winarta, beliau ini Store Manager yang rupanya juga berprofesi sebagai seorang dosen salah satu universitas di Solo.. Pantes aja gue ngikutin lecture dia dengan terkantuk-kantuk. Hehe.. Nggak deng, itu mah emang gue-nya aja yang ngantukan.
Mas Win, begitu panggilan akrabnya, menjabarkan pengertian dan pemahaman tentang "salesmanship" ini dari konsep orang barat (west-side). Yah, kalo definisi-definisinya sih kayaknya standar lah, nyadur dari buku-buku marketing gitu. Sisanya diisi dengan sharing pengalaman dari tiap-tiap toko. Total yang hadir itu ada 27 orang spv dari posisi yang beda-beda.
Ini kali pertama gue ikut pelatihan. Yaa, standarlah. Pagi dapet cemilan dengan tagline di atas kotak kue-nya bertuliskan "Purimas 73, berdiri sejak 1936", gue pikir lama amat yah berdiri sejak jaman dulu gitu? Emang gak pegel apa? Apa gak lebih baik duduk aja?. Haha. Garing. Siang dapet makan siang nasi bakar, baru kali itu gue makan nasi yang dibungkus daun pisang abis dibakar. Aromanya khas, lauknya ayam, daun singkong, bumbu2an, rasanya sih enak, standar lah, seenggaknya gue nyobain juga setelah sekian kali ngeliat motor delivery-nya seliweran depan gue kalo lagi di jalan.
Seperti pada umumnya pelatihan-pelatihan yang gue tau, si pembicara terusss aja ngomong, coz memang itu temanya. Kalo kelas-nya kelas aerobic atau taebo, ya mungkin dia bakal jingkrak-jingkrak nendang samping di depan kaca lebar. Ouw.. back to the topic. Mas Win ini juga ngasih contoh2 promosi yang udah pernah dia buat di toko yang pernah dia pegang.
Hari ke-2, diisi oleh Kabag PSDM, mas Budi Santoso. Kali ini beliau menerangkan "Salesmanship" dari sisi filosofi budaya orang timur. Dan dari beberapa cerita dan contoh yang dia kasih, lebih condong ke budaya Cina, kayak ajaran Konfusius gitu. Bagus loh ceritanya. Sarat akan pesan moral. Dan gue cuma termanggut-manggut sambil coret-coret gambar sarang laba-laba di hand-out materi gue. Dia less motion daripada Mas Win, alias duduk diem aja di kursi. Kalo Mas Win kan sepanjang ngomong, terus berdiri, bergerak kesana-kemari dan banyak nge-guyon dengan bahasa Jawa. Dan lebih sering lagi guyon yang 'miring' (ada tanda kutip-nya tuh). Yah, mungkin untuk menyegarkan suasana, suasini.
Sesi yang terakhir, dibawain oleh Mas Sulaiman Budiman, beliau itu Store Manager TB. Matraman. Dan baru kali ini gue ikut pelatihan dari beliau. Waw. Amazing. Udah banyak jam terbang jadi pembicara kayaknya, Mas Sulai ngebawain pelatihan kayak training dari motivator handal. Bersemangat, antusias, penuh gerak, dah kayak acara em-el-em gitu deh. Apalagi slide presentation dia diisi dengan banyak cuplikan film. Jadi banyak nonton film-nya juga, tentunya yang berhubungan dengan materi lah yah. Sejarah hidupnya pun layak dicontoh untuk jadi motivasi orang-orang. Cuma presentasi dia yang bikin gue nggak ngantuk. Lebih semangat dan banyak interaksi. Sempet dibikin terharu ama slide foto plus lagu mendayu-dayu-nya.
The most bold point that i got from that training is about "Selling" yourself. Menjual diri. Yap, tapi ini bukan menjual diri dalam konotasi negatif, tapi lebih cenderung ke "Marketing" yourself. Ini kan udah sering dan banyak kita lakuin dalam kehidupan sehari-hari, tapi mungkin kita gak memasukkan apa yang kita lakuin itu sebagai 'menjual diri'.
Simple deh, lo lagi pedekate ma cewe, atau ma cowo, tentu aja lo berusaha ngeyakinin dia kalo lo worthed untuk jadi pasangan dia kan? Biar dia mau ama lo, lo bakal ngeluarin the best of you di depan dan untuk dia. Sehingga bisa aja calon pacar lo akhirnya percaya dan yakin kalo lo emang baik untuk jadi pacarnya dia. Let say kata-kata kayak, "gue care banget ama lo", "gue setia loh" and the bla and the bla.. yea, you're selling yourself, sampe akhirnya pasangan lo 'membeli' persepsi yang lo tanem ke kepala dia. Mirip iklan lah. Tapi gak se-rude itu lah, you can't buy the love :P haha.. jadi ngaco
Sama juga ketika lo ngelamar kerjaan, pasti perusahaan pengen tau apa yang lo punya, apa yang bisa lo 'jual' ke perusahaan sehingga mereka mau nerima lo jadi salah satu karyawannya. Tentu aja lo 'jual' kemampuan lo, ide-ide lo, tenaga dan waktu lo. That's the reason the numbers pour to your accoun at the end of every month. You're selling yourself
Katanya, yang bikin beda kalo kita lagi promosiin, bikin atau jual produk adalah.. you have to put a lil bit of yourself into the product, service or idea. Dan gue yakin, semua, siapapun diri loe, siapapun kita, adalah pribadi yang unique, satu sama lain beda. We have to stress this out once again, everyone of us is unique! One of a kind. Contohnya gini, semua orang bisa aja disuruh jual sendal jepit. Semua orang bisa. Tapi mungkin akan beda kalo itu sendal jepit lo beli dari Angelina Jolie, atau Luna Maya.
"Ehh.. gue beli ni sendal dari Luna Maya loh, lucu yah warnanya, kuning2 butek gitu, limited edition loh.. " padahal cuma sendal swalow biasa yang empat ribu-an
atau
"Iya nih kemaren gue beli dari tukang sendal, adanya ini, terpaksa gue beli, kan kmrn ujyan, bechyekk, gak ada ojhyeek.." ini kalo beli sendal dari gue, padahal gue jual sendal Dolce and Gaban, Sharivan (ini mah jagoan jepang yah?) yang 10 juta-an. Ini contohhnya..
Begitulah, gue kadang suka menganggap, kalo ada customer yang minta tolong cariin buku ama gue, gue suka menganggap kalo tu customer adalah orang terakhir di dunia yang mau beli buku. Dan gue akan berjuang sampe titik ingus meleleh penghabisan di ujung idung sampe dapetin yang dia mau (lebay bangettt).
The point is, you have to proud of yourself, gak cuma kalo lo lagi jual barang, ide atau apapun. Kalo lo lagi present kerjaan lo, lagi follow up klien lo, put a lots of you in there. It's you who's talking, it's you who's fight for your idea, it's you who show to them what you got Bukan narsis atau sombong, tapi lo berhak bilang.. "Itu ide gue, gue yang bikin." Dan kalo emang bagus, gak usah sampe ngomong kayak gitu orang lain pasti admitted that you're great.
U never know what will happen tomorrow.
So make each of what you're doing count.
It's priceless... (kayak iklan kartu kredit aja)
pesan mi ayam gak pedes : jangan sia2in cemilan buah semangka yang dikasih abis makan siang, lumayan bisa cegah ngantuk dengan cara lo culekin aja tu semangka ke mata lo.. yakin deh, seger berair...
piss ah
No comments:
Post a Comment