Monday, March 23, 2009
Rain on A Glass Of Hot Chocolate
I tried to adapt to the most suitable action that i can do. And for the first-timer, i did it good.
Kadang gue gak abis pikir, kita bener-bener bisa berada di dalam situasi dan kondisi yang gak pernah kebayang sebelumnya. Kayak salah satu mentor pelatihan gue bilang,
"andaikan kita bertemu lagi suatu hari nanti, saya harap kita bertemu dalam waktu, situasi, kondisi dan keadaan yang berbeda, apapun perbedaan itu (mudah2an ke arah positif), tapi ada perubahan"
Dan gue merasa tiap hari, tiap saat itu berbeda. (in a good way)
Selamat merasa berbeda teman :)
Thursday, February 12, 2009
Chapter 3 - The End of Beginning
Sebenernya bahasan gue tentang Molotov udah selesai. Tapi gue pengen ngasi comment gak penting aja tentang nama-nama orang Rusia. Gue suka jenis-jenis nama mereka, yang kebanyakan berakhiran 'ch', 'v', 'in', atau 'y'.
Contohnya nama yang berakhiran 'V':
Vyacheslav Molotov. Mikhail Kalashnikov. Gerry Kasparov. Dmitri Shepilov. Lev Kamenev. Grigory Zinoviev. Sergei Kirov. Andrei Zhdanov. Nikita Khrushchev. Roy Medvedev. Gorbachev (yang pernah tinggal lama di daerah Jawa Barat dan memasyarakatkan nama 'Cecep'. You know, orang sunda gak bisa bilang huruf 'f' atau 'v', mereka akan spell itu sebagai 'pe' atau 'ep'. Gorbachev. Chev à Cep. Cecep… seriously, I'm kidding. Hehe)
Ini contoh-contoh nama yang berakhiran 'y':
Leo Tolstoy (is it 'y' or 'i'?). Vyshinsky. Trotsky. Starsky (and Hutch? Ups, wrong name).
Dan ini nama yang berakhiran 'in':
Joseph Stalin. Yeltsin. Vladimir Lenin. Vladimir Putin. Vladimir Puding (halah). Bukharin. Bakunin. Kaputkin. Bulganin.
Kesygin. Kremlin.
Udin. Paimin. Tukimin. Sarimin. Benyamin – such a familiar name in
Hehe.
Don't take it too seriously.
Chapter 2 - Molotov Cocktail
Kemaren udah cerita sedikit gimana Om Hitler ama Om Stalin nge-teh ama nge-pisgor bareng, yang malah memicu perang Dunia ke-2 itu. Sekarang, gue mo ceritain sedikit gimana salah satu jenis senjata, dinamain Molotov, atau Molotov Cocktail itu. Ini masih ada hubungannya dengan perang dunia ke-2. Begini ceritanya…
Di PD 2, Finlandia menolak nyerahin daerah strategis ke Uni Soviet waktu si Soviet menginvasi Finlandia. Perang antara Tentara Finland (Finnish Army) menghadapi tentara Uni Soviet (Red Army) yang pake tank waktu itu disebut Winter War. Ketika Vyacheslav Molotov yang akrab disapa Molotov, waktu itu masih menjabat Soviet People's Commisar for Foreign Affairs (mungkin setara ama Camat) bilang ke orang-orang Finns yang kelaparan lewat radio:
"Oiy warga Finn, gue bawain nasi berkat nih! Terima yeh!"
Padahal jelas-jelas yang didrop dari pesawat itu bukan bahan makanan, tapi bom. Warga Finn menyebut bom udara itu sebagai 'Molotov bread baskets'. Langsung deh, mereka nyerang tank-tank Soviet dengan 'Molotov cocktails'.
Molotov cocktails adalah nama umum dari variasi improvised incendiary weapons, yang juga dikenal sebagai petrol bomb, gasoline bomb ataupun Molotov bomb. Senjata ini gampang dibuat, dan lebih sering digunakan oleh perusuh (rioters)
Bentuk yang paling sederhananya itu adalah terdiri dari botol kaca (lo bayangin botol soft drink atau botol kecap deh. Nah, that's it!), trus sumbunya itu dari kain yang dicelupin ke bensin dan ditaro di mulut botol. Cara makenya, ya bakar kainnya dan lempar ke target yang dimaksud. Ketika botol itu pecah, otomatis bensin kena api, dan meledak lah itu botol. Jadi kayak bom kan?
Selain pake bensin, juga bisa pake cairan-cairan yang mudah terbakar, kayak alkohol, terpentin, atau mungkin minyak tanah (tapi hari gini minyak tanah udah susah didapet. Mahal pula. Lo mau antri 2 jam dulu untuk bikin bom Molotov? Lagipula, minyak tanah udah di-konversi jadi gas tuh). Ada juga cairan yang lebih kental atau tebal, seperti oli atau tar (kayak yang buat bikin aspal jalanan gitu deh) yang lebih nempel, membakar permukaan target yang dilempar juga menimbulkan asap yang tebal dan bikin sesak napas.
Itu bentuk klasiknya. Ada model-model lain yang udah diperbaikin.
Waktu di Winter War itu, Molotov Cocktails diproduksi massal oleh Alko corp. bom Molotov itu udah termasuk gratis 2 korek api di dua sisi botolnya loh. Bahan bakunya terdiri dari ethanol (ini termasuk alkohol), tar dan bensin di botol bervolume 750 ml. Jangan pikir tu korek api kayak korek api kayu bungkus kuning yang biasa kita beli di warung. Tu korek bentuknya panjang, namanya pyrotechnic storm matches. Mungkin tu korek tahan air, tahan angin, tahan cuaca jelek, gak gampang mati. Ketika mau dipake, nyalain koreknya (pake api, bukan pake lampu), trus lempar deh. Katanya sih itu lebih aman daripada pake sumbu kain yang dicelupin bensin.
Selain digunain dalam perang, Molotov cocktail sering dipake para pembuat kerusuhan, pemberontak atau yang less-armed deh di kerusuhan, dalam baku tembak, karena cara buatnya yang simple itu untuk melawan polisi, tentara or anyone who intend to disable any tanks.
Yeah, tank. Lo tau kan tank yang di film-film itu, yang ada tembakan gedenya, bannya terbuat dari besi dan keliatannya semua dari luar terbuat dari besi? Iya. Yang itu. Well, gue Cuma pengen give a clue aja. Kita kan gak sesering itu nemuin tank waktu ngelewatin Blok M atau ngeliat tank ngetem di deket pasar Kebayoran lama kan?
Walau sering digunain dengan maksud melumpuhkan tank atau kendaraan berat lainnya, itu cuma efektif (melumpuhkan) secara psikologis supaya si sopir atau kenek tank nya itu keluar dari dalem. Kebanyakan tank yang udah modern, hi-tech gitulah kira2, secara fisik nggak bisa diancurin dengan Molotov Cocktails. Paling bisa cuma bikin lumpuh, bukan ancur berkeping-keping (halah).
Sebagai salah satu kendaraan perang, mereka gak dibuat dari kulit kebo yang dikeringin kayak buat bedug. Ya iyalah! tank itu di-desain secara khusus (bukan oleh Oscar Lawalata tentunya), ada sistem perlindungan secara nuklir, biologi dan kimia yang bikin mereka tertutup dan kedap-udara, terlindungi dengan baik dari gas, cairan atau udara yang membahayakan. Tank masa kini (aih, masa kini?) tuh punya composite armour (daripada salah, nggak gue translate yah), yang terdiri dari baja, keramik (jangan bayangin keramik ubin kayak di rumah), plastik (juga jangan bayangin kayak plastik ember atau plastik kresek) dan Kevlar, yang membuat si tank tuh amat sangatlah sulit sekali dihancurkan kalo Cuma pake Molotov Cocktail doang, karena material2 itu punya titik meleleh diatas suhu bensin yang terbakar (bahan baku utama Molotov Cocktail).
Komponen bagian luar tank kayak sistem optik, antena, atau sistem persenjataan yang ada dibagian luar tank, mungkin bisa dirusak pake Molotov cocktail dan bikin si tank tuh kayak "buta", lieur, memaksa si sopir ama kenek tank untuk meninggalkan tank.
Mungkin begini percakapan antara sopir dan kenek yang tank-nya dilempari bom Molotov.
"Eh, lay, kenapa jadi panaz kali ini di dalam zini?!"
"Tak tahulah awak, bang! Mungkin kabel kipas anginnya copot?!"
"Coba kau lihat dulu lah itu, intip sedikit ke luar!"
Si kenek mengintip ke luar dengan teropong macem kayak di kapal selam itu, dan dia hanya bisa melihat para perusuh dengan riang menyambit tank dengan bom Molotov.
"Apa yang terjadi di luar zana lay? Ini juga kenapa wipernya gak mau jalan?! Awak gak biza liat apa-apa ini!" (di tank ada wiper?)
Si kenek panik.
"Bang, ada baiknya kita minggat saja bang,"
"Ah, kau ini, penakut sekali! Belum dapat zetoran, sudah mau minggat zaja?!"
"Udah bang, kita nombok aja dari usaha isi angin dan tambal ban tank kita! Daripada kita jadi lupis disini? Kita uda gak bisa liat ke luar, kipas angin juga konslet, perusuh-perusuh itu beringaz sekali bang!"
"Ah! Baiklah! Lagipula ini tank gak di-asuransiin dan belum pernah ikut peremajaan tank. Kita minggat. Cepat! Kau duluan keluar!"
Akhirnya sopir dan kenek itu meninggalkan tank mereka dan lari menjauh dari medan pertempuran dengan handuk yang melingkar di leher dan botol air mineral di tangan mereka.
Ternyata orang itu membuka aliran dari selang bensin, dan menampung bensin di botol yang kosong. Dia juga menyobek sedikit kain spanduk trus dia lilitin di sekitar dan menutupi mulut botol. Gue belum sempet nanya dia lagi ngapain, eh, dia udah ngibrit duluan.
Karena gue pernah liat di tipi, tu orang kayaknya bikin bom Molotov yang paling sederhana. Botol beling, diisi bensin, sumbunya dari kain. Tapi setelah gue cari tau lebih lanjut, model begitu yang paling sederhana sekaligus paling berbahaya. Karena secara teknis, kain di mulut botol harus dibakar dulu sebelum dilempar ke sasaran. Nah, kalo kain udah dibakar tapi tu botol masih di tangan, ada kemungkinan gas dari bensin menguap duluan dan bereaksi dengan api, jadilah tu botol bisa meledak waktu masih di tangan.
Katanya ada yang lebih aman. Yaitu pake tampon. By the way, gue agak kurang kurang pasti apa tampon=pembalut menstruasi buat cewe? Kalo gak salah kan ada jenis lain yang fungsinya mirip pembalut itu. Maaf yah gue kurang observe nih, kalo ada salah2, tolong tambahin. Tapi kalo menurut yang gue baca sih kayaknya iya.
Jadi, tu pembalut dicelup dulu ke bensin, diselotip di sekeliling botol yang ada tutupnya, bakar pembalutnya dan lempar keras-keras! Dengan metode kayak gitu, itu botol harus pecah ketika dilempar. Yah, mungkin lemparnya ke bangunan, kendaraan atau pecah jatuh di aspal. Agak kecil kemungkinan pecah kalo ngelemparnya ke jidat atau idung orang.
Selain campuran setengah bensin ama setengah oli, ada juga campuran setengah bensin, setengah tar, tapi mungkin gak mudah untuk didapat. Hasil campuran ini bener-bener panas kalo kebakar dan nempel dengan bagus di permukaan sasaran.
Sejauh ini, campuran yang paling nempel ketika membakar di permukaan itu adalah: 50% bensin, 25% tar, 25% grease. Shake well dan lempar sekeras-kerasnya.
Well, begitulah tulisan singkat gue tentang Molotov (singkat?! 4 halaman A4 di word, spasi 1?). Gue gak bermaksud ngajarin yang jelek tentang cara bikin senjata/bom sederhana. Dan ini bukan untuk melukai orang. Tapi siapa tau, sekali waktu, lo tau sendiri, di sekitar kita, di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini, gak sedikit kejadian dimana rakyat kecil ditindas ama pemerintah melalui cara yang represif, yaitu melalui aparat keparat.
Gue gak mikir akan ada kudeta atau penguasaan pemerintahan oleh pihak militer kayak di Myanmar itu. Gilee, gak segitunya. Tapi percaya aja, sampe detik ini, peperangan dimana-mana masih terjadi. Baik itu skala kecil, sedang, atau besar. Banyak kepentingan, banyak cara juga untuk memuluskan jalan menuju kepentingan itu, dan bukan gak mungkin melalui cara yang buruk. Dan, gue cuma berpikir, yang tertindas, siapapun itu, harus bisa membela diri.
Yah, siapa tau, ada revolusi di negeri ini.
Revolusi terhadap apa-apa yang menyengsarakan rakyat, biar jadi lebih baik. (Reformasi aja nggak beres, apalagi revolusi? Evolusi aja sekalian, kita balik lagi jadi lumut, atau makhluk bersel satu). Contohnya, kalo nemu koruptor, boleh deh tuh lempar bom Molotov ke jidatnya. Kenapa Indonesia gak kayak China yah, yang menghukum mati koruptor tanpa pilih kasih. Yah mungkin, kalo metode itu dijalankan, rakyat Indonesia yang berjumlah 230 juta jiwa, bisa jadi tinggal 75,5 juta jiwa aja.
Sisanya? Dihukum mati karena terbukti korup.
Loh, kok jadi ngomongin ini?
Udah ah, pegel. Nanti ada sambungannya sedikit lagi tentang Molotov… hehe.
Chapter 1 - The Beginning
Here we go…
The Beginning
Gue gak akan panjang lebar soal sejarah politiknya si Molotov ini. Gimana dia bisa jadi perdana menteri dan menteri luar negerinya Uni Soviet, trus dia juga yang menandatangani perjanjian Molotov – Ribbentrop pact (Soviet – German) atas suruhan Om Stalin ama Om Hitler. Mungkin begini obrolan dua diktator gila di suatu sore yang cerah, antara Stalin ama Hitler.
"Iye juga yeh Lin (Stalin), kite perluas tanah kite ye, tapi gimana caranye ye?"
"Kita bikin perjanjian abal-abal aje," Stalin mencomot pisang goreng di depannya.
"Tapi gue gak mau repot Lin, suruh aja pembantu kite," Hitler menyeruput teh manis anget jahenya.
"Pastinye! Gue utus si Otov ajah, kumis dia baplang, orang-orang pasti percaya kalo dia orang baek"
"Ya udin, gue suruh si Ribentrop, gue yakin hasilnya top markotop," sahut Hitler sambil menepak tangan Stalin yang mau mencomot pisang goreng terakhir di piring.
Jadilah Molotov dan Ribbentrop ke Moscow untuk bikin, tadinya sih perjanjian dagang, tapi intinya yang penting sih pembagian Polandia dan Baltic States antara Nazi Jerman ama Uni Soviet, dan pencaplokan Bessarabia oleh Soviet. Protokol ini juga memberikan lampu ijo buat Hitler untuk menginvasi Polandia yang dimulai pada tanggal 1 September.
Dan si Om Stalin ikutan invasi negara tetangganya, antara lain Estonia, Latvia dan Bessarabia. Gak ketinggalan Finlandia. Dua orang yang punya kecenderungan diktator absolut, ngobrol sore-sore sambil ditemenin pisang goreng ama teh manis anget, ya begitu deh jadinya, Perang Dunia ke-2.
Jadi intinya, si Hitler ama Stalin udah bagi-bagi jatah jajahan. Tapi emang dasar si Hitler itu menderita megalomaniac akut. Nafsu banget dia caplok sana-sini, eh, dia belok ke timur en nyerang negara si Om Stalin, Uni Soviet.
Mungkin itu sekelumit cerita yang ada kaitannya dengan Molotov. Dan perang dunia ke-2 itu ada hubungannya dengan penggunaan bom Molotov, atau dikenal dengan Molotov Cocktail. Tapi itu nanti, kalo mau tau cerita tentang Molotov-nya sendiri, lo bisa liat disini.
Alasan
Aku sedang membuka-buka file-ku untuk mencatat kuliah “Perencanaan Pesan 2” ketika kutemukan secarik kertas yang ditempel dengan selotip transparan menggunakan spidol merah, jelas tulisan itu adalah tulisan seorang cewek, yang pasti bukan tulisanku yang cenderung “merumput”.
- Ta, bulan depan tanggal 29 kita anniversary 1 tahun loh. How about we make it super special? – Luph u much, Nina.
Ah, Nina. Aku mengenali tulisan tangannya. Pikiranku melayang. Tidak terasa sudah hampir setahun aku bersamanya. Perbedaan umur dan tingkat pendidikan tidak menghalangi kami untuk memiliki hubungan istimewa itu. Nina masih duduk di bangku kelas 3 sebuah sekolah menengah atas favorit di selatan
Sejauh ini hubungan kami bisa dibilang lancar. Banyak kecocokan diantara kami. Dia tidak seperti bayanganku tentang anak-anak SMA pada umumnya. Dia mandiri, tidak banyak menuntut, tidak manja dan cara berpikirnya cukup cerdas untuk mengimbangi pikiranku yang ‘sudah kuliah’ ini. Dan mempunyai pacar seperti dia memang benar-benar mencerahkan hari-hariku. Teman berbagi dan mendukung yang menyenangkan.
Tapi memang akhir-akhir ini kegiatanku menumpuk sesak sekali. Andaikan aku bisa menggandakan diriku menjadi
Yang membuat keadaan makin memburuk dari semua hal itu, Nina-lah yang paling tidak bisa kuajak kompromi. Ia seperti tidak mau mengerti dengan situasi dan kondisiku.
“Kenapa sih kita jadi jarang hangout bareng lagi?!” katanya suatu hari padaku.
“Loh? Kita
“Iya, tapi cuma itu. Besok-besoknya udah nggak jalan bareng lagi!”
“Aku lagi sibuk buat tugas akhir aku, sayang,” aku coba menjelaskan.
“Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu?!” ia semakin bersikeras.
“Ya nggak segitunya juga,
“Terus…? Nggak ada waktu buat aku?!”
“Ya ada,
“Apaan?! Sekarang kamu jarang banget balas SMS dan miscal-miscal aku.”
“
“Iya. Tapi malam doang, itupun cuma sebentar. Biasanya kamu langsung nge-respon SMS atau telepon-telepon aku. Mana HP kamu jarang diangkat kalo aku telepon.”
“Mungkin aku lagi di jalan, jadi gak denger telepon dari kamu.”
“Ah. Kamu selalu beralasan.”
“Please Nin, ngertiin kondisi aku.”
“Iya! Aku bisa ngerti kondisi kamu, kalo kamu juga ngerti permintaan aku!”
Aku menghela nafas. Lelah sekali kalau aku harus terus berkonfrontasi dengannya.
Minggu-minggu selanjutnya menjadi teror untukku. Kadang dia menuntut perhatian karena hal-hal sepele. Misalnya seperti minta diantar ke rumah temannya, padahal ia biasa pergi sendiri. Kalau lagi sedikit kesal atau uring-uringan, ia akan mengirim SMS dengan size 5 SMS sekali kirim. Isinya macam-macam, cenderung tidak jelas dan sulit kumengerti. Dan jika ia benar-benar lagi bad-mood ia akan menelepon aku terus menerus bahkan di tengah malam atau pagi dini hari! Tapi ketika kuangkat, ia matikan teleponnya. Memang caller ID-nya tidak dikenali, tapi aku tahu itu perbuatan dia.
Jika ada kesempatan aku mengangkat teleponnya, itupun dengan perasaan agak terpaksa, ia pasti ngomel-ngomel tidak karuan, cerewet, meradang, meminta perhatian. Aku tidak bisa me-nonaktifkan HP-ku, karena aku juga butuh komunikasi dengan teman-teman dan untuk urusan pekerjaanku. Sampai saat ini kutelan saja semua tingkah lakunya. Padahal ada saat-saat dimana aku benar-benar butuh pengertian, perhatian dan dukungan dari dia sebagai pasangan.
Bulan selanjutnya, aku sudah hampir berhasil menyingkirkan segala pikiran yang berkaitan dengannya. Nina pun seperti kehabisan kata-kata dan perbuatan untuk menarik perhatianku lagi. Teror-teror itu mereda. Akupun bisa lebih fokus kepada kuliah, tugas akhir dan pekerjaanku. Sampai suatu hari ia datang ke tempat kostku. Kulihat ia membawa buku yang sebulan lalu dipinjamnya. Aku yakin buku itu belum dibaca atau bahkan dibuka halamannya, ia meminjam buku itu agar ada alasan untuk bisa bertemu denganku lagi.
“Nin, ada yang aku pengen aku omongin sama kamu,” aku mendahului kata-katanya.
Dia terkesiap, seperti diserobot, “iya, aku juga pengen ngomong sesuatu.”
“Aku ingin sendiri dulu,” aku mengucapkan kata-kata itu dengan pelan tetapi tegas.
“Kenapa?” sorot mata yang tadinya keras perlahan berubah menjadi sendu.
“Aku ingin fokus ke kuliah, tugas akhir dan pekerjaanku,” kataku menjelaskan.
“Lalu? Kenapa harus sendiri? Emang gak bisa kita hadapin bareng?!” ada nada penolakan dalam pertanyaannya.
“Sepertinya sulit. Aku takut kalau lebih lama lagi kita begini, aku akan terus menyakiti dan membuatmu kecewa,” aku menatap matanya dalam-dalam.
Dia hanya menunduk diam.
“Memangnya aku salah apa sampai kamu tega mutusin aku begini?!”
“Nggak, kamu gak salah apa-apa kok Nin.”
“Aku tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan
“Tidak, kamu tidak pernah meminta macam-macam, justru itu yang membuatku makin merasa bersalah sama kamu. Aku bahkan tidak bisa memenuhi permintaan dan harapan sederhana dari kamu,” aku seperti ingin cepat-cepat menyudahi pembicaraan ini. Aku mengenal Nina, aku tahu dia tidak akan banyak melempar argumen lagi. Mungkin ia menyadari kalau toh ia akan menghadapi saat seperti ini.
“Sepertinya aku gak bisa mengubah keputusan kamu lagi,” nada suaranya terdengar bergetar. Kulihat ada yang mengalir di pipinya yang pucat. Sebenarnya aku tidak tahan melihat perempuan menangis. Hatiku pun luluh juga. Aku mengusap air mata di kedua pipinya.
“Maafin aku ya Nin, mungkin ini yang terbaik untuk kita,” dengan lembut aku membelai kepalanya.
“Ya, mungkin begini lebih baik,” ia cepat-cepat menghapus air matanya dan mencoba berkata-kata dengan biasa lagi.
“Oh iya, aku pengen balikin buku kamu,” dia menyodorkan buku kehadapanku. Dan tepat ketika aku ingin mengambil buku itu dari tangannya, ada selembar kertas putih berukuran kartu pos yang jatuh di dekat kakinya. Sebuah foto dengan gambar aku sedang merangkul pundak seorang perempuan berambut panjang dengan latar belakang rumah di tepi pantai. Aku bisa menebak dengan persis apa yang akan dikatakan Nina ketika ia memandang foto itu dan melemparkan pandangan penuh curiga kepadaku.
“Siapa ini?!” nadanya suaranya terdengar meninggi.
“Oh, itu…” ada hening sejenak sebelum kalimatku berikutnya, “itu adalah perempuan yang pernah aku sayang dan sekaligus pernah nyakitin aku,” aku menghela napas panjang dan dalam. Sekilas kulihat sorot mata Nina masih menunjukkan kecurigaan.
“Tolong jangan tanya apa, kenapa, kapan ataupun bagaimana… Please?” kataku pelan.
Ia hanya terdiam, ekspresinya masih penuh dengan pertanyaan tetapi matanya menunjukkan kepedulian terhadapku. Ia meletakkan foto itu di atas meja di sebelah tumpukan tiga buah buku itu. Ia berdiri mendekatiku dan memegang tanganku.
“Maaf, aku hanya ingin tahu,” suaranya pelan sekali.
“Iya, gak apa-apa,” aku tersenyum kepadanya.
Aku memegang kedua tangannya, mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningnya, dan memeluknya agak lama. Tidak tahu mengapa kulakukan itu, kurasa biar ada judul bahwa ini adalah ‘putus-baik-baik’ dengan pasangan. Dan kuharap selanjutnya akan baik-baik saja.
“Sudah malam, sebaiknya kamu pulang, nanti mama nyariin kamu,” aku segera melepas pelukan dan pegangan tanganku.
“Iya,” kelihatan sekali kalau dia sedih dan terpukul.
“Kita masih bisa berteman baik
“Lebih baik aku pulang. Maaf, dan terima kasih untuk semuanya,” dia beranjak dari teras kostku.
“Ya, I will. Hati-hati di jalan,” aku melambai dengan pelan padanya. Ia tidak membalas lambaianku, dan langsung berjalan keluar pagar. She doesn’t even look back at me, like she used to do. Gak apalah, pikirku. Toh semua kericuhan ini sudah berakhir. Mungkin memang lebih baik begini. Ya, jauh lebih baik. Tidak akan ada lagi teror-teror dan tuntutan dari Nina.
Aku duduk dan mengambil selembar foto tadi di atas meja. Kupandangi gambar diriku dan seorang cewe berambut panjang di dalam foto itu. Dia cantik sekali. Dan wajah itu tidak pernah lepas dari ingatan dan keseharianku dalam tiga tahun terakhir ini. Ya, yang Nina tidak tahu adalah foto itu diambil waktu aku merayakan ulang tahun Marissa, yang sampai sekarang menjadi pacarku, anak jurusan filsafat angkatan 2000 universitas yang sama denganku, di vila tepi pantai milik orangtuanya,
Kuselipkan kembali foto itu di buku. Cukup mengejutkan foto itu muncul di saat-saat terakhir aku memutuskan hubungan dengan Nina. Tidak percuma aku pernah ikut dan tekun latihan teater di fakultas sastra.
Kurasa aku cukup meyakinkan di hadapan Nina.
Penentuan
”Yeh, siapa juga yang niat bikin anak orang patah idung pake pintu?”
”Mungkin lo bener-bener beda, dan gak kayak cewe yang biasa jadi gebetannya.”