Monday, March 23, 2009

Rain on A Glass Of Hot Chocolate

My first day was great..
I tried to adapt to the most suitable action that i can do. And for the first-timer, i did it good.

Kadang gue gak abis pikir, kita bener-bener bisa berada di dalam situasi dan kondisi yang gak pernah kebayang sebelumnya. Kayak salah satu mentor pelatihan gue bilang,

"andaikan kita bertemu lagi suatu hari nanti, saya harap kita bertemu dalam waktu, situasi, kondisi dan keadaan yang berbeda, apapun perbedaan itu (mudah2an ke arah positif), tapi ada perubahan"

Dan gue merasa tiap hari, tiap saat itu berbeda. (in a good way)

Selamat merasa berbeda teman :)

Thursday, February 12, 2009

Chapter 3 - The End of Beginning

The End of Beginning: The Name

Sebenernya bahasan gue tentang Molotov udah selesai. Tapi gue pengen ngasi comment gak penting aja tentang nama-nama orang Rusia. Gue suka jenis-jenis nama mereka, yang kebanyakan berakhiran 'ch', 'v', 'in', atau 'y'.

Contohnya nama yang berakhiran 'V':

Vyacheslav Molotov. Mikhail Kalashnikov. Gerry Kasparov. Dmitri Shepilov. Lev Kamenev. Grigory Zinoviev. Sergei Kirov. Andrei Zhdanov. Nikita Khrushchev. Roy Medvedev. Gorbachev (yang pernah tinggal lama di daerah Jawa Barat dan memasyarakatkan nama 'Cecep'. You know, orang sunda gak bisa bilang huruf 'f' atau 'v', mereka akan spell itu sebagai 'pe' atau 'ep'. Gorbachev. Chev à Cep. Cecep… seriously, I'm kidding. Hehe)

Ini contoh-contoh nama yang berakhiran 'y':

Leo Tolstoy (is it 'y' or 'i'?). Vyshinsky. Trotsky. Starsky (and Hutch? Ups, wrong name).

Dan ini nama yang berakhiran 'in':

Joseph Stalin. Yeltsin. Vladimir Lenin. Vladimir Putin. Vladimir Puding (halah). Bukharin. Bakunin. Kaputkin. Bulganin.

Kesygin. Kremlin.

Udin. Paimin. Tukimin. Sarimin. Benyamin – such a familiar name in Indonesia

Hehe.

Don't take it too seriously.

Have a nice day

Chapter 2 - Molotov Cocktail

The Mid-Beginning…

Kemaren udah cerita sedikit gimana Om Hitler ama Om Stalin nge-teh ama nge-pisgor bareng, yang malah memicu perang Dunia ke-2 itu. Sekarang, gue mo ceritain sedikit gimana salah satu jenis senjata, dinamain Molotov, atau Molotov Cocktail itu. Ini masih ada hubungannya dengan perang dunia ke-2. Begini ceritanya…

Di PD 2, Finlandia menolak nyerahin daerah strategis ke Uni Soviet waktu si Soviet menginvasi Finlandia. Perang antara Tentara Finland (Finnish Army) menghadapi tentara Uni Soviet (Red Army) yang pake tank waktu itu disebut Winter War. Ketika Vyacheslav Molotov yang akrab disapa Molotov, waktu itu masih menjabat Soviet People's Commisar for Foreign Affairs (mungkin setara ama Camat) bilang ke orang-orang Finns yang kelaparan lewat radio:

"Oiy warga Finn, gue bawain nasi berkat nih! Terima yeh!"

Padahal jelas-jelas yang didrop dari pesawat itu bukan bahan makanan, tapi bom. Warga Finn menyebut bom udara itu sebagai 'Molotov bread baskets'. Langsung deh, mereka nyerang tank-tank Soviet dengan 'Molotov cocktails'.

Molotov cocktails adalah nama umum dari variasi improvised incendiary weapons, yang juga dikenal sebagai petrol bomb, gasoline bomb ataupun Molotov bomb. Senjata ini gampang dibuat, dan lebih sering digunakan oleh perusuh (rioters)

Bentuk yang paling sederhananya itu adalah terdiri dari botol kaca (lo bayangin botol soft drink atau botol kecap deh. Nah, that's it!), trus sumbunya itu dari kain yang dicelupin ke bensin dan ditaro di mulut botol. Cara makenya, ya bakar kainnya dan lempar ke target yang dimaksud. Ketika botol itu pecah, otomatis bensin kena api, dan meledak lah itu botol. Jadi kayak bom kan?

Selain pake bensin, juga bisa pake cairan-cairan yang mudah terbakar, kayak alkohol, terpentin, atau mungkin minyak tanah (tapi hari gini minyak tanah udah susah didapet. Mahal pula. Lo mau antri 2 jam dulu untuk bikin bom Molotov? Lagipula, minyak tanah udah di-konversi jadi gas tuh). Ada juga cairan yang lebih kental atau tebal, seperti oli atau tar (kayak yang buat bikin aspal jalanan gitu deh) yang lebih nempel, membakar permukaan target yang dilempar juga menimbulkan asap yang tebal dan bikin sesak napas.

Itu bentuk klasiknya. Ada model-model lain yang udah diperbaikin.

Waktu di Winter War itu, Molotov Cocktails diproduksi massal oleh Alko corp. bom Molotov itu udah termasuk gratis 2 korek api di dua sisi botolnya loh. Bahan bakunya terdiri dari ethanol (ini termasuk alkohol), tar dan bensin di botol bervolume 750 ml. Jangan pikir tu korek api kayak korek api kayu bungkus kuning yang biasa kita beli di warung. Tu korek bentuknya panjang, namanya pyrotechnic storm matches. Mungkin tu korek tahan air, tahan angin, tahan cuaca jelek, gak gampang mati. Ketika mau dipake, nyalain koreknya (pake api, bukan pake lampu), trus lempar deh. Katanya sih itu lebih aman daripada pake sumbu kain yang dicelupin bensin.

Selain digunain dalam perang, Molotov cocktail sering dipake para pembuat kerusuhan, pemberontak atau yang less-armed deh di kerusuhan, dalam baku tembak, karena cara buatnya yang simple itu untuk melawan polisi, tentara or anyone who intend to disable any tanks.

Yeah, tank. Lo tau kan tank yang di film-film itu, yang ada tembakan gedenya, bannya terbuat dari besi dan keliatannya semua dari luar terbuat dari besi? Iya. Yang itu. Well, gue Cuma pengen give a clue aja. Kita kan gak sesering itu nemuin tank waktu ngelewatin Blok M atau ngeliat tank ngetem di deket pasar Kebayoran lama kan?

Walau sering digunain dengan maksud melumpuhkan tank atau kendaraan berat lainnya, itu cuma efektif (melumpuhkan) secara psikologis supaya si sopir atau kenek tank nya itu keluar dari dalem. Kebanyakan tank yang udah modern, hi-tech gitulah kira2, secara fisik nggak bisa diancurin dengan Molotov Cocktails. Paling bisa cuma bikin lumpuh, bukan ancur berkeping-keping (halah).

Sebagai salah satu kendaraan perang, mereka gak dibuat dari kulit kebo yang dikeringin kayak buat bedug. Ya iyalah! tank itu di-desain secara khusus (bukan oleh Oscar Lawalata tentunya), ada sistem perlindungan secara nuklir, biologi dan kimia yang bikin mereka tertutup dan kedap-udara, terlindungi dengan baik dari gas, cairan atau udara yang membahayakan. Tank masa kini (aih, masa kini?) tuh punya composite armour (daripada salah, nggak gue translate yah), yang terdiri dari baja, keramik (jangan bayangin keramik ubin kayak di rumah), plastik (juga jangan bayangin kayak plastik ember atau plastik kresek) dan Kevlar, yang membuat si tank tuh amat sangatlah sulit sekali dihancurkan kalo Cuma pake Molotov Cocktail doang, karena material2 itu punya titik meleleh diatas suhu bensin yang terbakar (bahan baku utama Molotov Cocktail).

Komponen bagian luar tank kayak sistem optik, antena, atau sistem persenjataan yang ada dibagian luar tank, mungkin bisa dirusak pake Molotov cocktail dan bikin si tank tuh kayak "buta", lieur, memaksa si sopir ama kenek tank untuk meninggalkan tank.

Mungkin begini percakapan antara sopir dan kenek yang tank-nya dilempari bom Molotov.

"Eh, lay, kenapa jadi panaz kali ini di dalam zini?!"
"Tak tahulah awak, bang! Mungkin kabel kipas anginnya copot?!"
"Coba kau lihat dulu lah itu, intip sedikit ke luar!"
Si kenek mengintip ke luar dengan teropong macem kayak di kapal selam itu, dan dia hanya bisa melihat para perusuh dengan riang menyambit tank dengan bom Molotov.
"Apa yang terjadi di luar zana lay? Ini juga kenapa wipernya gak mau jalan?! Awak gak biza liat apa-apa ini!" (di tank ada wiper?)

Si kenek panik.
"Bang, ada baiknya kita minggat saja bang,"
"Ah, kau ini, penakut sekali! Belum dapat zetoran, sudah mau minggat zaja?!"
"Udah bang, kita nombok aja dari usaha isi angin dan tambal ban tank kita! Daripada kita jadi lupis disini? Kita uda gak bisa liat ke luar, kipas angin juga konslet, perusuh-perusuh itu beringaz sekali bang!"
"Ah! Baiklah! Lagipula ini tank gak di-asuransiin dan belum pernah ikut peremajaan tank. Kita minggat. Cepat! Kau duluan keluar!"

Akhirnya sopir dan kenek itu meninggalkan tank mereka dan lari menjauh dari medan pertempuran dengan handuk yang melingkar di leher dan botol air mineral di tangan mereka.

Waku itu gue lagi di kampus Universitas Pancasila, nonton pertandingan futsal. Tau-tau penonton yang sebagian besar emang anak kampus UP keluar dari gedung. Katanya sih anak-anak ISTN ngajak rusuh. Panik terjadi di sekitar gedung olahraga itu. Yang gak ada hubungannya ama kedua kampus itu mindahin motor, takut kena rusuh. Ada yang lari ke jalan raya juga, tempat tawuran terjadi. Tapi ada juga yang tau-tau lari bawa teh botol yang kosong, en tu orang jongkok di dekat motor dan utak-atik sesuatu di motor itu.

Ternyata orang itu membuka aliran dari selang bensin, dan menampung bensin di botol yang kosong. Dia juga menyobek sedikit kain spanduk trus dia lilitin di sekitar dan menutupi mulut botol. Gue belum sempet nanya dia lagi ngapain, eh, dia udah ngibrit duluan.

Karena gue pernah liat di tipi, tu orang kayaknya bikin bom Molotov yang paling sederhana. Botol beling, diisi bensin, sumbunya dari kain. Tapi setelah gue cari tau lebih lanjut, model begitu yang paling sederhana sekaligus paling berbahaya. Karena secara teknis, kain di mulut botol harus dibakar dulu sebelum dilempar ke sasaran. Nah, kalo kain udah dibakar tapi tu botol masih di tangan, ada kemungkinan gas dari bensin menguap duluan dan bereaksi dengan api, jadilah tu botol bisa meledak waktu masih di tangan.

Katanya ada yang lebih aman. Yaitu pake tampon. By the way, gue agak kurang kurang pasti apa tampon=pembalut menstruasi buat cewe? Kalo gak salah kan ada jenis lain yang fungsinya mirip pembalut itu. Maaf yah gue kurang observe nih, kalo ada salah2, tolong tambahin. Tapi kalo menurut yang gue baca sih kayaknya iya.

Jadi, tu pembalut dicelup dulu ke bensin, diselotip di sekeliling botol yang ada tutupnya, bakar pembalutnya dan lempar keras-keras! Dengan metode kayak gitu, itu botol harus pecah ketika dilempar. Yah, mungkin lemparnya ke bangunan, kendaraan atau pecah jatuh di aspal. Agak kecil kemungkinan pecah kalo ngelemparnya ke jidat atau idung orang.

Selain campuran setengah bensin ama setengah oli, ada juga campuran setengah bensin, setengah tar, tapi mungkin gak mudah untuk didapat. Hasil campuran ini bener-bener panas kalo kebakar dan nempel dengan bagus di permukaan sasaran.

Sejauh ini, campuran yang paling nempel ketika membakar di permukaan itu adalah: 50% bensin, 25% tar, 25% grease. Shake well dan lempar sekeras-kerasnya.

Well, begitulah tulisan singkat gue tentang Molotov (singkat?! 4 halaman A4 di word, spasi 1?). Gue gak bermaksud ngajarin yang jelek tentang cara bikin senjata/bom sederhana. Dan ini bukan untuk melukai orang. Tapi siapa tau, sekali waktu, lo tau sendiri, di sekitar kita, di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini, gak sedikit kejadian dimana rakyat kecil ditindas ama pemerintah melalui cara yang represif, yaitu melalui aparat keparat.

Gue gak mikir akan ada kudeta atau penguasaan pemerintahan oleh pihak militer kayak di Myanmar itu. Gilee, gak segitunya. Tapi percaya aja, sampe detik ini, peperangan dimana-mana masih terjadi. Baik itu skala kecil, sedang, atau besar. Banyak kepentingan, banyak cara juga untuk memuluskan jalan menuju kepentingan itu, dan bukan gak mungkin melalui cara yang buruk. Dan, gue cuma berpikir, yang tertindas, siapapun itu, harus bisa membela diri.

Yah, siapa tau, ada revolusi di negeri ini.

Revolusi terhadap apa-apa yang menyengsarakan rakyat, biar jadi lebih baik. (Reformasi aja nggak beres, apalagi revolusi? Evolusi aja sekalian, kita balik lagi jadi lumut, atau makhluk bersel satu). Contohnya, kalo nemu koruptor, boleh deh tuh lempar bom Molotov ke jidatnya. Kenapa Indonesia gak kayak China yah, yang menghukum mati koruptor tanpa pilih kasih. Yah mungkin, kalo metode itu dijalankan, rakyat Indonesia yang berjumlah 230 juta jiwa, bisa jadi tinggal 75,5 juta jiwa aja.

Sisanya? Dihukum mati karena terbukti korup.

Loh, kok jadi ngomongin ini?

Udah ah, pegel. Nanti ada sambungannya sedikit lagi tentang Molotov… hehe.

Cheers J

Chapter 1 - The Beginning

Chapter 1 - The Beginning
Pernah ngeliat kalo lagi kerusuhan, ada orang yang yang ngelempar botol dan tu botol tau-tau meledak? Banyak orang yang nyebut itu sebagai bom Molotov. Tapi lo tau asal-usulnya? Nggak? Gue juga nggak, sampe gue cari tahu. Nah, nanti gue ceritain deh. Tapi sebelumnya, gue kasi sedikit latar belakang sejarahnya dulu yah, sedikit menyenggol awal-awal perang Dunia ke-2, abis itu, baru soal seluk beluk bom-nya.

Here we go…

The Beginning
Vyacheslav Mikhailovich Molotov, lahir di desa Kukarka (deket Cipete), Uni Soviet, Rusia, pada 9 Maret Nov 1890 (liat angka nya baek2, kakek gue aja belom lahir). Dia itu politikus Soviet, diplomat, dan salah satu tokoh penting di pemerintahan Soviet dari tahun 1920 dan merupakan pendukung/pelindung Stalin. Nama belakang dia sebenernya bukan Molotov, tapi Skryabin. Demi karir politiknya, biar serem gitu, dia gunain kata pseudonym atau nama panggung deh kalo artis gitu mah: 'Molotov', dari bahasa rusia 'molot' (bukan nyolot yah) yang kalo di-inggrisin artinya hammer.

Gue gak akan panjang lebar soal sejarah politiknya si Molotov ini. Gimana dia bisa jadi perdana menteri dan menteri luar negerinya Uni Soviet, trus dia juga yang menandatangani perjanjian Molotov – Ribbentrop pact (Soviet – German) atas suruhan Om Stalin ama Om Hitler. Mungkin begini obrolan dua diktator gila di suatu sore yang cerah, antara Stalin ama Hitler.
"Ler (Hitler), kayaknya seru nih ngejajah tetangga2 sebelah kite?", kata Stalin suatu sore, di bale-bale teras rumahnya Hitler.
"Iye juga yeh Lin (Stalin), kite perluas tanah kite ye, tapi gimana caranye ye?"
"Kita bikin perjanjian abal-abal aje," Stalin mencomot pisang goreng di depannya.
"Tapi gue gak mau repot Lin, suruh aja pembantu kite," Hitler menyeruput teh manis anget jahenya.
"Pastinye! Gue utus si Otov ajah, kumis dia baplang, orang-orang pasti percaya kalo dia orang baek"
"Ya udin, gue suruh si Ribentrop, gue yakin hasilnya top markotop," sahut Hitler sambil menepak tangan Stalin yang mau mencomot pisang goreng terakhir di piring.

Jadilah Molotov dan Ribbentrop ke Moscow untuk bikin, tadinya sih perjanjian dagang, tapi intinya yang penting sih pembagian Polandia dan Baltic States antara Nazi Jerman ama Uni Soviet, dan pencaplokan Bessarabia oleh Soviet. Protokol ini juga memberikan lampu ijo buat Hitler untuk menginvasi Polandia yang dimulai pada tanggal 1 September.

Dan si Om Stalin ikutan invasi negara tetangganya, antara lain Estonia, Latvia dan Bessarabia. Gak ketinggalan Finlandia. Dua orang yang punya kecenderungan diktator absolut, ngobrol sore-sore sambil ditemenin pisang goreng ama teh manis anget, ya begitu deh jadinya, Perang Dunia ke-2.

Jadi intinya, si Hitler ama Stalin udah bagi-bagi jatah jajahan. Tapi emang dasar si Hitler itu menderita megalomaniac akut. Nafsu banget dia caplok sana-sini, eh, dia belok ke timur en nyerang negara si Om Stalin, Uni Soviet.
"Eh, iler! Gimana sih lo, orang udah bagi-bagi jatahan, masih aja lo mau caplok tanah gue!" kumis baplang Stalin bergerak-gerak tanda marah.
"Sori pren, tanah lo luas, rakyat lo banyak, kan mayan kalo gue invest disitu. Nanti-nanti tanah mahal Lin. Daripada kena gusur ama pemerintah gak dapet ganti rugi, nanti-nanti gue bisa jual dengan harga tinggi," kumis Hitler yang Cuma seuprit itu ternyata asli (apa hubungannya?)
"Wah, parah lo iler! Gue kira lo baek! Temen makan temen lo! Tega amat gebuk gue dari belakang, awas lo!"
Stalin yang menyadari kekuatan dia gak sebanding ama keagresifan dan ke-maniak perang-an si Hitler, Molotov buru-buru ngadain negosiasi darurat dengan Inggris, dan Amerika untuk ngikut jadi sekutu pada masa perang dunia ke-2. bareng Stalin, mereka ngikutin beberapa konferensi yang pada akhirnya membentuk United Nations (PBB) untuk pertama kalinya yang diikuti dengan kekalahan Jerman.
"Sukurin lo iler, maruk sih!" mungkin begitu kata Stalin setelah nebeng pasukan sekutu dan berhasil mengalahkan Jerman.

Mungkin itu sekelumit cerita yang ada kaitannya dengan Molotov. Dan perang dunia ke-2 itu ada hubungannya dengan penggunaan bom Molotov, atau dikenal dengan Molotov Cocktail. Tapi itu nanti, kalo mau tau cerita tentang Molotov-nya sendiri, lo bisa liat disini.
Wait for my next story…

Alasan

Alasan

Aku sedang membuka-buka file-ku untuk mencatat kuliah “Perencanaan Pesan 2” ketika kutemukan secarik kertas yang ditempel dengan selotip transparan menggunakan spidol merah, jelas tulisan itu adalah tulisan seorang cewek, yang pasti bukan tulisanku yang cenderung “merumput”.

- Ta, bulan depan tanggal 29 kita anniversary 1 tahun loh. How about we make it super special? – Luph u much, Nina.

Ah, Nina. Aku mengenali tulisan tangannya. Pikiranku melayang. Tidak terasa sudah hampir setahun aku bersamanya. Perbedaan umur dan tingkat pendidikan tidak menghalangi kami untuk memiliki hubungan istimewa itu. Nina masih duduk di bangku kelas 3 sebuah sekolah menengah atas favorit di selatan Jakarta. Dan aku sendiri sudah memasuki tahun terakhir kuliah diploma fakultas ilmu sosial di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia.

Sejauh ini hubungan kami bisa dibilang lancar. Banyak kecocokan diantara kami. Dia tidak seperti bayanganku tentang anak-anak SMA pada umumnya. Dia mandiri, tidak banyak menuntut, tidak manja dan cara berpikirnya cukup cerdas untuk mengimbangi pikiranku yang ‘sudah kuliah’ ini. Dan mempunyai pacar seperti dia memang benar-benar mencerahkan hari-hariku. Teman berbagi dan mendukung yang menyenangkan.

Tapi memang akhir-akhir ini kegiatanku menumpuk sesak sekali. Andaikan aku bisa menggandakan diriku menjadi lima, dan bisa kubagi-bagi tugas kuliah, urusan senat, latihan bola dan kerja paruh-waktuku dan tentu saja waktu untuk Nina, pasti sudah kulakukan. Tapi sayangnya keajaiban itu tidak akan pernah bisa terjadi sampai kapan pun. Raga dan jiwaku cuma satu, dan harus bisa kubagi-bagi waktu untuk semua kegiatan itu.

Yang membuat keadaan makin memburuk dari semua hal itu, Nina-lah yang paling tidak bisa kuajak kompromi. Ia seperti tidak mau mengerti dengan situasi dan kondisiku.

“Kenapa sih kita jadi jarang hangout bareng lagi?!” katanya suatu hari padaku.

“Loh? Kita kan udah dateng bareng di pensi sekolah kamu minggu lalu?”

“Iya, tapi cuma itu. Besok-besoknya udah nggak jalan bareng lagi!”

“Aku lagi sibuk buat tugas akhir aku, sayang,” aku coba menjelaskan.

“Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu?!” ia semakin bersikeras.

“Ya nggak segitunya juga, kan aku juga kerja, latihan, ngurusin senat.”

“Terus…? Nggak ada waktu buat aku?!”

“Ya ada, kan kita tetap SMS dan telpon-telponan?”

“Apaan?! Sekarang kamu jarang banget balas SMS dan miscal-miscal aku.”

Kan malamnya aku telepon kamu.”

“Iya. Tapi malam doang, itupun cuma sebentar. Biasanya kamu langsung nge-respon SMS atau telepon-telepon aku. Mana HP kamu jarang diangkat kalo aku telepon.”

“Mungkin aku lagi di jalan, jadi gak denger telepon dari kamu.”

“Ah. Kamu selalu beralasan.”

“Please Nin, ngertiin kondisi aku.”

“Iya! Aku bisa ngerti kondisi kamu, kalo kamu juga ngerti permintaan aku!”

Aku menghela nafas. Lelah sekali kalau aku harus terus berkonfrontasi dengannya.

Minggu-minggu selanjutnya menjadi teror untukku. Kadang dia menuntut perhatian karena hal-hal sepele. Misalnya seperti minta diantar ke rumah temannya, padahal ia biasa pergi sendiri. Kalau lagi sedikit kesal atau uring-uringan, ia akan mengirim SMS dengan size 5 SMS sekali kirim. Isinya macam-macam, cenderung tidak jelas dan sulit kumengerti. Dan jika ia benar-benar lagi bad-mood ia akan menelepon aku terus menerus bahkan di tengah malam atau pagi dini hari! Tapi ketika kuangkat, ia matikan teleponnya. Memang caller ID-nya tidak dikenali, tapi aku tahu itu perbuatan dia.

Jika ada kesempatan aku mengangkat teleponnya, itupun dengan perasaan agak terpaksa, ia pasti ngomel-ngomel tidak karuan, cerewet, meradang, meminta perhatian. Aku tidak bisa me-nonaktifkan HP-ku, karena aku juga butuh komunikasi dengan teman-teman dan untuk urusan pekerjaanku. Sampai saat ini kutelan saja semua tingkah lakunya. Padahal ada saat-saat dimana aku benar-benar butuh pengertian, perhatian dan dukungan dari dia sebagai pasangan.

Bulan selanjutnya, aku sudah hampir berhasil menyingkirkan segala pikiran yang berkaitan dengannya. Nina pun seperti kehabisan kata-kata dan perbuatan untuk menarik perhatianku lagi. Teror-teror itu mereda. Akupun bisa lebih fokus kepada kuliah, tugas akhir dan pekerjaanku. Sampai suatu hari ia datang ke tempat kostku. Kulihat ia membawa buku yang sebulan lalu dipinjamnya. Aku yakin buku itu belum dibaca atau bahkan dibuka halamannya, ia meminjam buku itu agar ada alasan untuk bisa bertemu denganku lagi.

“Nin, ada yang aku pengen aku omongin sama kamu,” aku mendahului kata-katanya.

Dia terkesiap, seperti diserobot, “iya, aku juga pengen ngomong sesuatu.”

“Aku ingin sendiri dulu,” aku mengucapkan kata-kata itu dengan pelan tetapi tegas.

“Kenapa?” sorot mata yang tadinya keras perlahan berubah menjadi sendu.

“Aku ingin fokus ke kuliah, tugas akhir dan pekerjaanku,” kataku menjelaskan.

“Lalu? Kenapa harus sendiri? Emang gak bisa kita hadapin bareng?!” ada nada penolakan dalam pertanyaannya.

“Sepertinya sulit. Aku takut kalau lebih lama lagi kita begini, aku akan terus menyakiti dan membuatmu kecewa,” aku menatap matanya dalam-dalam.

Dia hanya menunduk diam.

“Memangnya aku salah apa sampai kamu tega mutusin aku begini?!”

“Nggak, kamu gak salah apa-apa kok Nin.”

“Aku tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan kan, Ta?”

“Tidak, kamu tidak pernah meminta macam-macam, justru itu yang membuatku makin merasa bersalah sama kamu. Aku bahkan tidak bisa memenuhi permintaan dan harapan sederhana dari kamu,” aku seperti ingin cepat-cepat menyudahi pembicaraan ini. Aku mengenal Nina, aku tahu dia tidak akan banyak melempar argumen lagi. Mungkin ia menyadari kalau toh ia akan menghadapi saat seperti ini.

“Sepertinya aku gak bisa mengubah keputusan kamu lagi,” nada suaranya terdengar bergetar. Kulihat ada yang mengalir di pipinya yang pucat. Sebenarnya aku tidak tahan melihat perempuan menangis. Hatiku pun luluh juga. Aku mengusap air mata di kedua pipinya.

“Maafin aku ya Nin, mungkin ini yang terbaik untuk kita,” dengan lembut aku membelai kepalanya.

“Ya, mungkin begini lebih baik,” ia cepat-cepat menghapus air matanya dan mencoba berkata-kata dengan biasa lagi. Ada jeda yang aneh melanda kami.

“Oh iya, aku pengen balikin buku kamu,” dia menyodorkan buku kehadapanku. Dan tepat ketika aku ingin mengambil buku itu dari tangannya, ada selembar kertas putih berukuran kartu pos yang jatuh di dekat kakinya. Sebuah foto dengan gambar aku sedang merangkul pundak seorang perempuan berambut panjang dengan latar belakang rumah di tepi pantai. Aku bisa menebak dengan persis apa yang akan dikatakan Nina ketika ia memandang foto itu dan melemparkan pandangan penuh curiga kepadaku.

“Siapa ini?!” nadanya suaranya terdengar meninggi.

“Oh, itu…” ada hening sejenak sebelum kalimatku berikutnya, “itu adalah perempuan yang pernah aku sayang dan sekaligus pernah nyakitin aku,” aku menghela napas panjang dan dalam. Sekilas kulihat sorot mata Nina masih menunjukkan kecurigaan.

“Tolong jangan tanya apa, kenapa, kapan ataupun bagaimana… Please?” kataku pelan.

Ia hanya terdiam, ekspresinya masih penuh dengan pertanyaan tetapi matanya menunjukkan kepedulian terhadapku. Ia meletakkan foto itu di atas meja di sebelah tumpukan tiga buah buku itu. Ia berdiri mendekatiku dan memegang tanganku.

“Maaf, aku hanya ingin tahu,” suaranya pelan sekali.

“Iya, gak apa-apa,” aku tersenyum kepadanya.

Aku memegang kedua tangannya, mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningnya, dan memeluknya agak lama. Tidak tahu mengapa kulakukan itu, kurasa biar ada judul bahwa ini adalah ‘putus-baik-baik’ dengan pasangan. Dan kuharap selanjutnya akan baik-baik saja.

“Sudah malam, sebaiknya kamu pulang, nanti mama nyariin kamu,” aku segera melepas pelukan dan pegangan tanganku.

“Iya,” kelihatan sekali kalau dia sedih dan terpukul.

“Kita masih bisa berteman baik kan Nin?” aku tersenyum kepadanya. Dia hanya mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Lebih baik aku pulang. Maaf, dan terima kasih untuk semuanya,” dia beranjak dari teras kostku.

“Ya, I will. Hati-hati di jalan,” aku melambai dengan pelan padanya. Ia tidak membalas lambaianku, dan langsung berjalan keluar pagar. She doesn’t even look back at me, like she used to do. Gak apalah, pikirku. Toh semua kericuhan ini sudah berakhir. Mungkin memang lebih baik begini. Ya, jauh lebih baik. Tidak akan ada lagi teror-teror dan tuntutan dari Nina.

Aku duduk dan mengambil selembar foto tadi di atas meja. Kupandangi gambar diriku dan seorang cewe berambut panjang di dalam foto itu. Dia cantik sekali. Dan wajah itu tidak pernah lepas dari ingatan dan keseharianku dalam tiga tahun terakhir ini. Ya, yang Nina tidak tahu adalah foto itu diambil waktu aku merayakan ulang tahun Marissa, yang sampai sekarang menjadi pacarku, anak jurusan filsafat angkatan 2000 universitas yang sama denganku, di vila tepi pantai milik orangtuanya,

Kuselipkan kembali foto itu di buku. Cukup mengejutkan foto itu muncul di saat-saat terakhir aku memutuskan hubungan dengan Nina. Tidak percuma aku pernah ikut dan tekun latihan teater di fakultas sastra.

Kurasa aku cukup meyakinkan di hadapan Nina.

***

Penentuan

Jangan-jangan, jam dinding itu rusak tiba-tiba?

Pikiran konyolku itu baru saja melintas di benakku. Ya, konyol, karena sejak satu jam empat puluh lima menit yang lalu aku tidak lepas memperhatikan jarum detik, menit dan jam beringsut dari angka ke angka.
Ya ampun, mengapa 1 jam itu harus 60 menit, dan kenapa 1 menit itu harus 60 detik. Berarti aku harus melewati 900 detik lagi untuk keluar dari tempat ini.

Bangku kayu yang rata dan tak berbusa ini benar-benar membuat bokongku panas. Tidak heran kalau bokong terlihat lebih gelap dari bagian tubuh yang lain. Padahal itu bagian tubuh yang paling jarang terkena matahari. Kecuali kalau ada orang yang tiap harinya cuma memakai baju dan celana dalam, tapi tidak memakai celana panjang, atau celana luar. Dan, dia berjalan merayap. Maka bokongnya akan benar-benar gosong secara harfiah.

“Bener Ran, Haryo beneran bilang gitu ke gue.”
“Ah, kepentok jendela kali tuh orang, trus ngalamin disorientasi.”
“Ya ampun, Raniii, masa lo gak percaya sih ama gue?”
“Gue percaya 101 persen ama lo, tapi gue gak percaya 101 persen ama Haryo.”
“Dia udah 1 bulan kayak orang bego cerita ke gue, dikit-dikit Rani, dikit-dikit Rani.”
“Masa iya lo percaya ama Haryo Res?”
“Eh, mmm, yah, gimana yah. Tadinya gue gak percaya…”
“Trus apa yang bikin lo iya percaya?”
“Ya gitu deh, kayaknya dia tulus, gak kayak biasanya.”

Itu pembicaraan 1 bulan lalu dengan Nares. Aku berbalik untuk memasukkan 1 dari 4 buku yang bertebaran terbuka di meja ke tas. Dan dengan posisi berbalik badan itu, aku mencuri pandang ke tempat duduk di urutan kedua dari belakang. Ternyata sosok yang kutuju itu sedang tertawa tanpa suara sambil menulis, kulihat teman sebangkunya, Anggoro, juga tersenyum lebar. Aku yakin mereka sedang main bingo. Salah satu dari sekian permainan untuk menghilangkan jenuh maupun kantuk di tengah pelajaran.

Aku kembali menatap jam dinding dengan latar belakang angka 65 itu. Suara Bu Retno tidak beritme, tidak berirama, bernada datar. Mungkin konstan di kunci D minor. Dia benar-benar seperti membaca kata per kata dari buku cetak yang dimiliki semua anak di kelas. Dan buat apa membacakan dongeng dari buku yang bisa dibaca sendiri oleh anak-anak murid? Sungguh monoton.

Aku bersandar dengan topangan tangan kiriku, sementara tangan kananku mencoret-coret bagian belakang buku tulis “Catatan Bahasa Indonesia” dengan pola yang tak menentu. Sesekali aku menatap jam dinding di atas papan tulis itu. Aku bersyukur pihak sekolah meletakkan jam dinding di atas papan tulis di setiap kelas. Kalau diletakkan di bagian belakang kelas, mungkin aku akan duduk membelakangi guru, papan tulis dan akan selalu menengok ke belakang. Dan tidak lama setelah itu, mungkin aku akan disuruh untuk ‘menutup pintu dari luar’ alias keluar selama pelajaran berlangsung.

“Rani, masa yah, tadi si Haryo cerita, kalo dia seneng banget dipinjemin handuk sama lo, katanya tu handuk mau dibawa tidur.”
“Heh? Aneh banget, itu anduk bekas keringet ama ingus gue juga.”
“Ih, lo jorok banget”
“Apaan yang jorok? Emang gue lagi pilek.”
“Trus kenapa lo kasih ke Haryo? Masa dia kena ingus lo gitu?”
“Ya abis, gue lagi makan somay, tau-tau dia abis main bola, lari sambil nyamber anduk gue. Gue panggil-panggil, udah jauh. Gue males ngejar, somay gue masih banyak.”
“Yeh, dudul lo.”
“Haryo tuh yang dudul… eh, ngapain sih si Haryo cerita yang gak penting-gak penting gitu ama lo Res? Emang apa hubungannya ama lo?”
“Denger ya tong, orang-orang juga pada tau, kalo gue ama lo itu, kayak sepatu ama kaos kaki… bau! Eh, salah, maksudnya, kayak kembar siam nempel di jidat. Kemana-mana bareng, pulang bareng, ke kantin bareng. Cuma ke toilet ama kelas aja yang gak bareng!”
“Yah, lo tau kan kita simbiosis parasit, eh, mutualisme deng, hehe.”
“Tega lo.”
“Trus kalo udah cerita ama lo, trus lo cerita ama gue. Trus kenapa?”
“Ya supaya lo tau kalo dia suka sama lo, dia seneng apa-apa yang berhubungan sama lo.”
“Tapi itu gak ada ngaruhnya buat gue.”
“Loh emang kenapa? Lo gak suka ama dia?”
“Apaan yang bisa bikin gue suka ama dia? Cuma karena dia cerita ama lo kalo dia suka gue? Apa buktinya?”
“Lah? Elo kan yang sekelas ama dia. Masa iya dia gak pernah nunjukin sedikit-sedikit acan kalo dia suka ama lo?!”
“Res, itu sama aja lo nanya gue ‘Rani, lo udah pernah liat lemur jalan kayang belum?’”
“Emang lo belum pernah liat?”
“Ampun. Maksud gue, itu hal yang mustahil akan gue lihat.”
“Yang artinya…?”
“Masya ampun Naresss. Itu artinya, Haryo gak pernah sekalipun nunjukin apa-apa yang dia ceritain ke elo!”
“HAH?!”
“Udah 1 bulan sejak lo cerita, dan sikap dia ke gue ya biasa aja. Perlakuan dia sama kayak perlakuan dia ke 29 orang temen cewe sekelas dia. Termasuk gue yang ke-30.”
“Tapi Ran, dia bilang ke gue kalo dia suka banget ama lo. Lo tuh beda, unik, dan dia belum pernah ngerasa suka kayak gitu ama cewe.”
“Nares, gue lebih percaya ada nyamuk yang berdenging di kuping gue walau tu nyamuk gak ngegigit gue. Daripada ngeliat Haryo yang hampir setiap hari ketemu, tapi gak sekalipun menunjukkan apa yang lo bilang. Jangan kan memperlihatkan, ngajak ngobrol aja nggak. Jangan kan ngajak ngobrol, menyapa aja jarang. Gue harus percaya bagian mana yang lo bilang kalo dia suka banget ama gue?”

Nah, kalo yang itu dua minggu yang lalu. Sekuat tenaga aku tidak ingin percaya dengan omongan Nares. Kalau memang Haryo suka padaku, mengapa dia lebih menceritakan itu ke Nares, yang ada di kelas 3-3 dan bukan aku, teman sekelasnya di 3-7?
“Dia itu ternyata pemalu Ran, gue juga udah berpuluh kali ratus kali bilang ama dia ‘kenapa lo nggak deketin aja, lo kan sekelas ama dia’, gitu Ran”
“Trus dia bilang apa?”
“Dia bilang gini, ‘nggak ah, gue malu. Bingung gue, ngajak ngobrol apaan? Paling maksimal gue cuma pinjem penghapus, itupun cuma gue tusuk-tusuk pake pulpen, eh, pas gue balikin dia malah sewot ke gue’”
“Ya iya lah gue marah. Itu penghapus bagus boleh nemu, malah dibolongin”
“Yee, lo kan juga nemu tu penghapus.”
“Justru karena nemu, jadi susah dapetnya. Kalo beli kan gampang.”
“Aneh lo Ran”

Bukannya aku tidak berusaha mencari tahu. Bahasa sok tingginya, aku mencari affirmation, bukti. Seeing is believing. Apalah istilah-istilah itu. Aku memang paling menghindari urusan antara perempuan dan laki-laki yang diberi sub-judul ‘percintaan’ itu. Tapi, ya tidak ada salahnya mencoba.

“Eh, gue pinjem buku cetak sejarah lo dong. Buku gue waktu itu dijadiin ganjelan meja guru, trus, abis itu gak tau lagi kemana. Gue belum ngerjain PR. Dikumpulin hari ini,” kataku suatu hari menyambangi tempat duduknya.

“Ha?” tidak ada sambutan meriah atau wajah sumringah darinya.

Ada nggak?” aku menatapnya. Dan dia menatap meja. Mungkin ini kejadian langka, selangka Komet Halley lewat di atas langit kota Jombang. Karena aku tahu, jenis cowo seperti dia, tidak pernah memikirkan buku catatan Geografi di pinjam siapa, buku cetak Sejarahnya diletakkan dimana. Hari ini ada PR apa saja. Pelajaran apa. Meminjam buku dari dia, sama hal nya dengan mengharap Elton John menikah dengan wanita. One in a million chances, I think.

“Gak tau deh gue taro dimana,” pandangannya tidak lepas dari meja tulisnya. Aku heran, apa yang menarik dari meja itu. Apa ada peninggalan ukiran Mpu Gandring di meja itu?

“Mmm, gue beneran lagi butuh nih, lo bisa tolong cariin gak?” aku sedikit memelas ingin menguji, apakah dia akan berusaha untuk menolongku.

“Sebentar,” Tiba-tiba dia berlari keluar kelas setelah menabrak meja paling depan hingga miring. Belum sempat aku berteriak memanggil, langkah cepat dia sudah menghilang di kejauhan, meninggalkan aku yang tertegun bingung.

“Mungkin dia kebelet pengen ke toilet,” aku berbicara dengan meja, sedikit kecewa. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin saja. Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa. Tapi kalau menelaah kejadian tadi, aku bisa saja memberi penilaian negatif. Tidak mendapat afirmasi dari cerita-cerita Nares.

Kulirik jam dinding di atas papan tulis, yang diapit foto kedua presiden. Kalau diapit fotoku, mungkin jam dinding itu tidak akan ditaruh ditempat yang mudah dilihat orang, tapi akan berada di gudang yang gelap, pengap dan bau, bersama fotoku tentunya.

“Istirahat masih 15 menit lagi. Ah, masih bisa makan mi ayam nih,” pikirku.

Aku membuka sebelah pintu kelas ku sebelum ada suara langkah cepat yang mendekat, disusul dengan suara ‘brakk’ yang keras. Aku benar-benar kaget mendengar suara keras itu, kupikir aku telah membuat tulang tengkorak seseorang retak.

“Haryo!!!” aku mengenali sesosok tubuh yang sedang tergelimpang di lantai dengan memegang hidung. Dia berusaha bangun dengan meringis. Aku cepat-cepat membantu dia berdiri sambil kubantu dia berjalan ke kelas sebelum terjadi keributan dan aku dikenakan pasal “penganiayaan yang terencana”.

“Duhhh,” aku meringis, mewakili Haryo yang tidak bersuara ketika kami sudah duduk bersebelahan di bangku dia dan Anggoro. Tangan kanan dia masih menutupi hidung dan mulutnya. Keningnya berkerut seperti menahan sakit. Tapi dia tidak bersuara. Aku sedikit panik melihatnya.

“Haryo, aduh, maaf banget. Gue gak liat lo lari. Idung lo gak apa-apa? Coba sini gue liat,” aku berusaha melepas tangan yang menutupi hidungnya. Dia bahkan tidak melihat ke arahku. Pandangannya tetap tertuju ke meja. Aku heran, apa bagusnya sih meja penuh coretan itu? Aku malah ikut melihat meja itu sekilas.

“Jangan-jangan idung lo patah. Eh, tapi tadi kena idung aja kan? Kena jidat juga nggak? Apa kena bibir juga? Pusing nggak?” aku malah mencecarnya dengan pertanyaan.

Satu menit…
Dua menit…
Tiga menit berlalu…

Dia masih diam. Aku menduga mungkin dia terkena gegar otak ringan dan benar-benar mengalami disorientasi. Karena dia tetap memandangi meja di depannya. Sempat terpikir untuk membakar meja itu. Karena Haryo lebih memilih memandangi benda mati itu daripada aku yang berusaha menolong dia. Tapi aku yakin dia tidak apa-apa, karena pandangan matanya masih fokus, tidak kosong.

Aku bergegas mengambil P3K di laci meja guru dan kembali ke sebelah Haryo yang masih diam tak bergeming. Mudah-mudahan kotak P3K ini benar-benar berisi perlengkapan yang dibutuhkan untuk menolong seseorang dalam keadaan darurat. Bukan hanya sekedar formalitas, penghabisan budget uang Kas Kelas untuk pembelian barang-barang yang seharusnya ada di kelas, selain kemoceng, pengki dan sapu kelas. Oiya, juga bunga-bunga plastik murahan dengan tetesan air tiruan di daun beserta vasnya.

Yang ada di kotak P3K itu adalah:
Satu kantong plastik berisi kapas dengan merek “Cap Halus”. Satu botol obat merah. Satu botol Betadine. Satu botol alkohol 70% dengan label kecil di belakangnya bertuliskan “Jangan diminum, bisa menyebabkan kantuk”. Satu pak kain kasa. Satu buah gunting lipat. Satu pak band-ain merek “Warna Warni”. Satu botol minyak angin yang isinya tinggal setengah. Satu jepit jemuran. Aku heran siapa yang meletakkannya disitu, apa dia pikir dengan menjepit bagian luka, bisa menghentikan pendarahan atau semacamnya?

Tapi yang paling bikin aku ingin muntah adalah sebuah kaos kaki yang sangat kumal, kotor, berwarna coklat kehijauan, ada sedikit rumput yang menempel dan yang pasti baunya yang bisa membuat seekor gajah dewasa pingsan. Aku yakin kaos kaki ini sangat ampuh untuk menyadarkan anak-anak yang pingsan ketika kepanasan upacara atau ada yang tidak sadarkan diri setelah menabrak tiang basket. Yah, kejadian itu memang ada di sekolahku.

Kembali ke kotak P3K, kaos kaki dan Haryo.

Aku segera membuang jauh-jauh kaos kaki buluk itu sebelum aku yang semaput mencium baunya. Sesaat aku berpikir, apa yang diderita Haryo? Aku agak bingung ketika mau mengobatinya. Apakah aku harus menjepit hidung dan menyumpal hidungnya dengan kapas jika memang benar hidungnya patah? Atau aku harus mengoles bibirnya dengan alkohol dan memplester bibirnya jika berdarah. Aku perlu pendekatan yang berbeda.

“Haryo, sini gue liat dulu luka lo. Kalo telat diobatin nanti bisa infeksi. Tar siapa yang repot? lo juga. Gak ada yang sudi ngurusin lo di kelas ini. Sebagai anak paling iseng, belagu, suka bikin keributan, anak-anak mungkin akan lebih mensyukuri celakanya lo daripada sehatnya lo,” mungkin kata-kata ini agak kasar, tapi berhasil menggugah kesadaran dia akan adanya gue hampir 10 menit yang lalu di sebelahnya.

Matanya beralih ke arahku. Aku tersenyum canggung. Dia membiarkanku menarik tangannya dari mulutnya. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi dengan wajahnya. Celakalah aku kalau telah membuat cacat wajah yang cukup ganteng itu. Bisa-bisa aku ditenung oleh sebagian besar cewe-cewe di sekolah ini yang suka padanya.

Ada darah yang mengalir dari lubang hidungnya. Aku tidak bisa memastikan tulang hidungnya patah atau tidak sampai ada suara “aw!” ketika aku menyentuhnya. Ada sedikit lecet dan memar di keningnya. Rupanya pintu kelas telah menghantam hidung dan kening bersamaan. Dengan kecepatan lari 2 km/jam, kurasa dia mendapatkan benturan yang cukup keras.

“Kayaknya idung lo patah dikit deh,” aku berkata pelan sambil berusaha menghilangkan darah di hidungnya. Haryo sedikit menjauhkan kepala, tapi akhirnya diam membiarkan aku mengobati lukanya.

“Tapi berita bagusnya, tulang hidung itu tulang rawan, asal lo rajin minum susu atau minum suplemen kalsium, tulang lo bisa cepet sembuh,” aku menggunakan kapas, minyak angin, untuk menjaganya tetap sadar tentu saja, betadine untuk keningnya.

“…”

“Nah, udah beres. Mungkin nggak separah yang gue kira, tapi ada baiknya nanti lo cek ke dokter,” aku menempelkan band-aid berwarna kuning dengan gambar buaya kecil-kecil di keningnya sebagai sentuhan akhir. Di dalam hidung sebelah kiri ada gumpalan kapas besar yang mencuat keluar.

Haryo masih saja diam. Tidak ada satu kata percakapan pun yang keluar dari mulutnya.
“Haryo, gue minta maaf bangeeet. Gue gak sengaja. Gue gak tau kalo lo lari ke arah kelas,” aku merasa sangat tidak enak telah menyebabkan kecelakaan kecil itu.
Ajaib. Dia mengangguk pelan.

“Syukurlah, kalo ada apa-apa, jangan nyalahin gue ya, hehe,” aku segera beranjak dari bangkunya bersamaan dengan bunyi bel sekolah tanda waktu istirahat telah usai.

Aku kembali ke bangkuku setelah mengembalikan kotak P3K ke laci meja guru dan berjanji akan membereskan isi P3K yang aneh itu suatu hari nanti. Satu persatu anak-anak mulai berdatangan. Aku masih merasa tidak enak dengan kejadian tadi. Ditambah lagi perutku yang mulai bersahutan minta diisi. Aku tidak sempat ke kantin.

Tiba-tiba sebuah buku dengan judul “Sejarah 3” diletakkan di mejaku. Aku kaget dan reflek melihat ke arah orang yang meletakkan buku itu. Haryo menatapku sekilas dan segera meninggalkan mejaku. Aku segera meraih dan membuka bagian tengah buku itu. Kudapati sebungkus roti coklat yang membuat perutku bersorak girang.

Aku membalik halaman depan buku dan tertulis:
Dede Bitraman
Kelas 3-1
Warning! Yang berasa minjem, balikin dalam keadaan utuh! Atau elo yang gue buat nggak utuh! Thx!
PS: buku ini belum lunas…

Aku menengok ke bangku urutan belakang. Anggoro sedang mentertawakan plester berwarna kuning dan menunjuk-nunjuk gumpalan kapas di hidung kiri Haryo yang hanya bisa menghalau tangan Anggoro sambil tertawa.

Dia bahkan tidak menyadari kalau hari ini tidak ada pelajaran Sejarah.
*

“Rani, kok si Haryo jadi lebih maju jidatnya? Idungnya jadi aneh gitu?”
“Oh, itu. Gak gue apa-apain kok.”
“Dia seneng banget ama plester kuning norak yang nempel di jidatnya, katanya dari lo?”
“Oh ya? Itu plester dari kotak P3K kelas.”
“Mukanya semi-bonyok gitu, tapi kok seneng?”
“Emang dia gak cerita kenapa mukanya bisa jadi kayak gitu?”
“Nggak.”
“Yah, dia lari dan nabrak pintu kelas yang lagi gue buka.”
“HAH?! Kok bisa? Trus gimana? Dia gapapa tuh?”
“Ya lo liat sendiri kan dia masih idup, jalan, berarti dia gapapa.”
“Ya ampun. Kok bisa. Emang dia lagi mau ngapain lari-lari gitu?”
“Entahlah. Mungkin mau minjem buku Sejarah yang gue minta?”
“Lo minta tolong dia?”
“Iya.”
“Dia minjemin lo buku, tapi kenapa lo hantam pake pintu?”
”Yeh, siapa juga yang niat bikin anak orang patah idung pake pintu?”
“Lo aneh Ran.”

Haryo lebih aneh lagi Res…
Apa dengan kejadian kemaren udah membuktikan kalo Haryo bener ada perasaan ama gue? Trus gue gimana ke dia? Apa dengan orang suka ke gue, trus gue harus suka ke dia? Kalo emang suka trus gue harus apa? Bilang ke dia?
Kalo gue nggak suka?
*

Syukurlah, sepertinya jam dinding itu berfungsi dengan baik. Waktu hampir menunjukkan jam 2 yang artinya bel sekolah akan segera berbunyi. Sebagian besar anak-anak di kelas sudah membereskan bukunya dan bersiap-siap pulang. Bu Retno merapikan buku dan peralatan tulisnya dengan lambat. Tapi tidak selambat perasaanku. Aku melihat sekeliling dengan perasaan gelisah. Kutengok sekilas bangku di urutan ke dua dari belakang. Dia ada. Tentu saja dia ada. Setiap 10 menit dari jam 12 aku selalu mencari sosoknya.

“Kalo dia suka, kenapa dia gak ngedeketin gue?”
“Dia takut.”
“Apa gue keliatan kayak orang kanibal yang langsung makan orang yang deket gue?”
“Dia malu mungkin?”
“Dia orang yang paling gak tau malu yang pernah gue kenal. Dia gak punya tali malu Res, dia cuma tau tali kolor!”
“Sabar Ran, mungkin beda kalo ama cewe?”
“Yah, berapa orang cewe yang lo tau pernah jadi gebetannya?”
”Mungkin lo bener-bener beda, dan gak kayak cewe yang biasa jadi gebetannya.”
“Huh!”
“Emangnya… lo juga suka?”
“Menurut lo?!”
“Mmm… dalam kasus yang unik ini, mungkin gak ada salahnya lo ngomong duluan.”
“Gue? Ngomong duluan?! Tar gue dikira cewe agresif. Lagian, kalo gue boleh milih suka ama siapa, gue gak mau suka ama dia. Cowo yang disuka ama cewe-cewe satu sekolah. Gue gak mau jadi bagian cewe-cewe itu.”
“Lo nggak sama ama cewe kebanyakan di sekolah ini. Mungkin kali ini dia bener-bener sembuh dan gak gonta-ganti gebetan lagi? Dia sebenernya baik Ran, cuma lo yang bisa bikin dia lebih menghargai cewe, maksud gue, gak main-main dengan perasaan orang.”
“…”
“Lo juga suka kan ama Haryo?”
“…”
“Dari segala curhatan Haryo tentang lo, gue pribadi berpendapat kalo bener dia suka banget ama lo.”
“…”
Go for him. Gue selalu ada buat lo. Apapun yang terjadi.”

Kriiiiinnngggg…!!!

Ah, itu suara terindah yang kudengar seharian ini. Aku segera memasukkan semua bukuku kedalam tas. Nampaknya anak-anak yang lain jauh lebih bersemangat untuk segera meninggalkan kelas. Riuh tawa dan celotehan siswa SMA 65 segera memenuhi gedung sekolah. Tapi ada yang membuatku lebih bersemangat dibanding hari biasanya. Ada daya yang mendorong sekaligus menenggelamkan tubuhku. Kakiku terasa ringan sekaligus seperti dipaku ke tanah.

Aku sempat mencari sosok itu di lapangan. Tetapi nihil. Aku segera menuruni tangga. Aku bergerak sambil mencari-cari orang yang kutuju diantara puluhan anak-anak lain di koridor utama. Tapi tidak ada. Aku segera menuju ke gerbang utama menghampiri warung tempat anak-anak cowo berkumpul. Bahkan di sekitar gerobak penjual es kelapa muda kesukaannya. Dia tidak ada. Aku seperti mencari hantu.

Aku kembali masuk ke sekolah dan berbelok menuju ke kantin. Aku tahu warung-warung dan penjual di kantin kebanyakan sudah tutup. Tapi tidak ada salahnya aku mendatangi tempat itu.

Akhirnya pencarian yang membuat kepalaku pening dan mataku hampir berkunang-kunang itu selesai. Aku melihat dia sedang duduk di bangku panjang di kantin pojok. Aku sempat terdiam di tempatku berdiri. Dengan tidak perlunya kupandangi kedua sepatuku. Tidak penting. Yang penting aku harus menghampirinya dengan gagah berani. Seperti Raja Leonidas atas nama bangsa Sparta menolak dijajah oleh bangsa Persia. Ah, kenapa aku jadi teringat film “300” itu?

Aku berjalan dengan berusaha mengkoordinasikan langkah kaki. Kiri, kanan, setelah kanan, lalu kiri lagi. Sebenarnya itu tidak perlu juga, karena langkah kaki merupakan gerak refleks dari tubuh manusia, selama otak kanan dan kiri berfungsi dengan baik, begitu juga dengan kondisi kaki.

Sial! Mengapa harus aku yang repot-repot membawa perasaan ini. seharusnya aku tidak perlu ada beban. Apa seharusnya aku tidak perlu melakukan ini? Sudah terlanjur Rani, tidak ada kata mundur dalam kosa katamu. Dia sudah 1 meter lebih sedikit di depanmu. Lakukan saja.

“Hey Yo, tumben sendiri?” aku duduk di sebelahnya, dengan ada jarak tentunya.
“Iya,” Haryo hanya tersenyum sekilas dan langsung melihat ke arah lain.
“Kok gak bareng Anggoro, kembar identik lo? Hehe,” aku coba mencairkan suasana.
“Dia mau jemput ade-nya,” aku hanya meng-ow-kan jawaban dia.
“Idung lo udah gapapa?” mudah-mudahan aku tidak mengingatkan dirinya sebagai korban tindak kekerasan.
“Udah gapapa. Tapi untuk seminggu pertama gue bernapas dengan satu lobang idung,” ah, rupanya sudah ada beberapa kalimat panjang. Dia nampak senang sekaligus gelisah. Aku tidak pandai membaca bahasa tubuh manusia. Mungkin benar apa yang dikatakan Nares, perasaan dia kepadaku memang tidak biasa.
“Lo gak dendam ama gue kan?” aku mencari pandangan matanya yang lebih sering menatap lantai.
Dia melihat mataku sekilas dan sedikit tertawa, “ah, ngapain dendam, lo kan gak sengaja, lagian juga lo udah bertanggung jawab atas tindakan brutal lo itu, hehe.”

Aku sedikit tersenyum sekaligus heran, tapi aku tahu dia hanya bercanda.
“Haryo.”
“Hm?”
“Gue pengen bilang sesuatu ama lo,” aku terdiam. Harus kah aku membuat pernyataan atau pertanyaan? Ada baiknya pernyataan, karena tidak ada keinginan dari dia untuk menunjukkan pernyataan duluan. Dalam hati aku merutuki Nares, jangan-jangan selama ini dia hanya membual. Cuma ingin membuatku besar kepala dan memikirkan orang yang bahkan tidak menatap ketika berbicara denganku.

“Apa?” layaknya orang yang sering membaca majalah dan menonton film bertema cinta, dan ketika ada orang yang mengatakan ‘ada yang ingin aku sampaikan’, artinya antara suka dan benci, atau rahasia bahwa dia homosexual.
“Gue…”
Haryo menatap tajam ke arahku. Menanti kalimatku selanjutnya. Dan ini membuatku berharap bangku panjang yang kududuki ini hidup, memiliki mulut lebar dan memakanku hidup-hidup. Dan aku rela ditelan bulat-bulat, dan tidak perlu menerima pandangan seperti itu darinya.
“Gue pengen nanya, lo sering ngobrol ama Nares?” sedikit memastikan omongan Nares.
“Hmm, iya, kadang-kadang,”
“Lo deket ama dia?”
“Ya, bisa dibilang gitu. Karena ternyata dia itu sepupu jauh dari ade suaminya tante gue,”
Aku hanya bisa menaikkan kedua alis tanda keheranan.
“Ouw…” aku hanya mengangguk-angguk.
“Emang kenapa?”
“Oh, nggak. Ga apa-apa, sebenernya gue mau bilang kalo…” aku belum sampai satu tarikan nafas ketika ada suara di memanggil nama salah satu dari kami di bangku panjang ini.
“Haryo!” kami berdua menoleh ke sumber suara.
Seorang cewe dengan rambut sebahu, berparas cantik indo, kira-kira setinggi aku, dengan gaya berpakaian yang feminine, kaos kaki menutupi betis, tas yang diselempangkan di bahunya, menghampiri kami. Haryo tampak terkesiap, dia tidak menanggapi panggilan itu.
“Udah lama nunggu aku?” dia duduk sangat dekat dengan Haryo dan menaruh tangan di paha Haryo.
“Oh, belum, gak kok, belum lama,” Haryo gelagapan.
“Maaf yah, tadi rapat OSIS-nya ribet,” dia mengibaskan rambut ke belakang dengan gaya slow motion. Aku dapat mencium aroma jeruk terbawa angin ke hidungku.
“Gapapa,” Haryo tersenyum salah tingkah ke arahnya dan sekilas melirikku.
Sesaat hening melanda. Cewe itu sedang mengikat rambutnya menjadi ikatan kuncir kuda. Haryo terlihat meremas kedua tangannya sendiri. Dan aku hanya berusaha menebak siapa gerangan cewe itu.
“Rani, udah kenal belum, ini…”
Cewe itu mengulurkan tangannya, “Ami…”
“Rani,” aku mengulurkan tangan dan kami bersalaman menyeberangi Haryo.
“… cewe gue,” Haryo meneruskan kalimatnya.
“Hay,” aku tersenyum lebar sambil mengingatkan diri untuk bernafas. Aku lupa kalau bernafas juga mekanisme refleks dari tubuh. Yah, untuk saat ini, sepertinya aku harus secara sadar memerintahkan otak untuk bernafas.
“Kakak temen sekelasnya Haryo yah?”
Ternyata dia adik kelas, tapi aku jarang melihatnya.
“Iya, kok gue jarang liat lo ya?” aku mencoba memenuhi rasa ingin tahu ku.
“Iya, aku baru pindah dua minggu lalu,” dia tersenyum sangat manis dengan suara manja kepadaku. Haryo mematung di antara kami.
“Ow, baru pindah. Pantas…”
“Udah yuk say, we gotta go,” aksen berbicaranya kentara kalau dia bukan pindahan dari luar kota, tapi dari luar negeri.
“Oh, iya. Mm, Ran, gue duluan yah,” Haryo seperti tak berani melihatku.
“Iya, gue juga mesti balik,” sebelum mereka berdiri, aku sudah berdiri duluan.
“Thanks Yo, ati-ati idungnya dijaga, hehe,” aku melambai ke arah mereka dan berjalan cepat ke arah koridor utama sekolah dan keluar gerbang sekolah. Keluar dari ruang yang selalu aku hindari. Ruang yang disesaki dengan perasaan.

I went and even before I asked him,
He already got the answer.
I supposed not to asked him anything
Maybe before I qive him the curiosity
I should questioning myself,
Did I ever really fall for him?
A tree fall down in the middle of forest
Who ever heard it fallen?
No one
-THE END-