Wednesday, March 15, 2017

Jangan Berhenti

“Silakan hot chocolate-nya kak.”

Aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kepada pelayan dengan tato bertuliskan “4:30” di bagian dalam lengan tangan kanannya, terlihat ketika menyodorkan pesanan ke mejaku yang memang memilih sisi menghadap jendela. Dan aku sempat berpikir, kenapa di menuliskan angka “4:30” itu sebagai campuran tinta permanen seumur hidupnya. Apakah ada kenangan tertentu dengan kombinasi angka itu? Atau itu waktu dia dilahirkan? Atau mungkin ada alasan religius? Semacam surat tertentu dalam kitab suci beserta ayatnya? Bagaimana kalau dia salah memilih tato itu?

Sepertinya terlalu berat untuk dipikirkan lebih lanjut hanya dengan secangkir coklat panas. Sebaiknya aku merenung dengan pikiran yang lebih santai saja.

“Hai Ra, sudah lama?”
Senyum yang sudah sangat familiar itu mengiringi sapaannya.

“Nggak kok, santai. Ini baru datang pesanan ku. Kehujanan?” Aku melihat dia sekilas menyeka yang terlihat sebagai tetesan air dari sebagian rambutnya yang ikal.

“Hahaha. Gerimis mengundang aja. Untung parkirnya dekat.” Dia mendekatkan kursi ke sebelah ku.

“Dan untung lagi bukan gerimis kenangan ya.” Dia mengacak rambutku sambil tertawa. Salah satu gesture favoritku.

“Anyway Ra, masa yah aku nemu di IG katanya kalau dengan makan keju, bisa menurunkan tekanan darah tinggi loh.” matanya berbinar saat mengatakan temuannya itu.

“Kok bisa? Beneran tuh?” alis ku yang terangkat tinggi ke arahnya menandakan keraguanku yang cukup jelas.

“Ya benerlah, taruhan yuk.” Senyumnya terlihat jahil.

“Really?!”

“Iya, karena kamu aja kalau lagi PMS craving any dish with cheese. Jadi korelasinya bener dong. PMS sama dengan darah tinggi. Makan keju, turun deh darah tingginya. Hahahaha.” Dia sepertinya menahan tawa kemenangan itu untuk kunikmati bersama rasa sebal tapi lucu yang muncul.

“Ishhh!” aku meninju bahunya, dan dia meringis kesakitan. Dan aku hafal sekali kalau itu pura-pura.

Dan malam itupun berlalu dengan banyaknya celaan, mindless, pointless conversation dan aku selalu nyaman. Mungkin ada sedikit adiksi dengan kebersamaan itu.

**
Ting Tung

Notif Whatsapp ku berbunyi, dan seperti kuduga, Langit mengirimkan sebuah link tentang film yang akan tayang di tahun ini. Aku sedikit enggan untuk membuka dan membaca link itu, karena aku bisa menebak tidak lama setelah aku read, dia akan melanjutkan mengirim pesan kepadaku.

“Udah diliat link-nya Ra? Gak sabar banget nonton Deadpool 2! Pasti gokil. Si Ryan Reynolds goblik banget. Kayaknya karakter Deadpool emang meant to be ama si Ryan. Sama kayak Po Kung Fu Panda itu ya Jack Black banget!” dengan icon-icon nyengir lebar mengiringi chat WA-nya

Dan aku hanya bisa membalas “hahaha iya, pastilah nanti kita nonton bareng tuh.” dengan icon nyengir berkeringat.

Aku hanya membalas beberapa kali soal link film itu lalu memutuskan untuk menyudahi dengan memberi kabar bahwa aku akan tidur.

**
Ting Tung

Tanpa menebak dari siapa, aku tidak perlu memenuhi rasa penasaranku karena aku memang sudah mengkustomisasi nada notifikasi dari Langit. Dan entah kenapa tanpa aku membaca apa yang dia kirimkan, aku sudah bisa menebak apa isi chat-nya malam ini.

“Ra, keren deh sekarang sudah ada mesin translator portable gitu, jadi kemanapun kita pergi, gak ngerti bahasa, tinggal ngomong di recorder itu, terus di replay ulang dengan bahasa tujuan. Aku tag juga ya di FB mu. Menurut mu gimana? Mau dipakai pake bahasa apa Ra?”

Dia chat beruntun sekitar 7-10 baris. Dan aku agak tertegun lama, dan lagi-lagi tidak terlalu bersemangat membalas. Rutinitas seperti ini kurang lebih sudah berlangsung 3 bulan belakangan ini. Dan akhir-akhir ini makin sering. Jika tidak bertemu atau mengobrol langsung, dia akan melakukan hal seperti itu. Seperti ada saja yang harus dibahas. Aku tidak terganggu, tapi sepertinya, ada itu terasa kurang wajar dan tidak seperti biasanya.

**

Buku Norwegian Wood oleh Haruki Murakami ini menjelang beberapa halaman terakhir saja. Haruki ini punya cara tersendiri untuk membuat kalimat yang darkish yet still bitter but funny in someway. Baru saja aku akan membalik halaman berikut, tiba-tiba pandangan ku gelap seketika. Yah, tentu saja, Langit. Dia melempar topi merahnya ke arahku dan tepat sekali jatuh di atas wajahku dengan posisi tidur di rumput taman kota ini.

“Ha! Three point there!” dia langsung merebahkan diri tidak jauh di sebelahku dengan tas backpack sebagai alas bantalnya.

Aku menyingkirkan topi bertuliskan “All is Well” favorit-nya dan melipat ujung halaman terakhir yang kubaca. Menginterupsi waktu membaca bukan salah satu sikap favoritku. Tapi sudah lama juga aku tidak ngobrol banyak dengan Langit. Memang biasanya banyak bicara itu harusnya menjadi bagianku, kalau in the mood. Tapi akhir-akhir ini Langit seperti berusaha mengambil alih, yang mana aku masih merasa itu bukan kebiasaannya.

“Ra.”
“Uhum.”
“Sudah liat link yang tadi gue WA?”
“Hmm..”
“Seru ya itu.. Coba bisa kayak gitu di Jakarta, menurut mu gimana Ra?”

Aku duduk di sampingnya, dan entah kenapa rasanya ada yang perlu diselesaikan.

“Lang,” aku mencoba mempertimbangkan kata-kata yang akan kusampaikan ini.
“Soal link-link atau foto, fakta menarik, info, meme lucu atau apapun yang kamu kirimkan itu...”
Langit terbangun dan duduk bersila di depanku dengan muka berbinar, seolah aku juga tertarik membahas itu dengannya. Matanya, terlalu coklat untuk kubuat mendung.

“Mau tanya dulu, kenapa lo jadi suka ngirim link-link info gambar video atau apalah kayak gitu ke gue?”

Alis langit terangkat, yang jelas dia tidak menduga pertanyaan ini akan muncul.

“Eh, ya apa ya? Karena menurut ku info itu bagus, related to you, or us. Dan biar bisa jadi bahan obrolan sehari-hari kita, di luar bahasan kampus ku atau kerjaan ku. Is that a problem?”

“Yes, I think it is. A little bit.” Aku mengalihkan pandangan ku ke seorang remaja cowo yang sedang mengambil foto teman wanitanya dengan latar belakang bunga warna-warni.
Aku tidak berani menatap matanya yang meredup.

“Kenapa?”

“Kenapa lo kayaknya perlu banget cari bahan obrolan sama gue? Gue gak pernah pusing mikirin itu” Aku-kamu baginya, dan lo-gue, buat gue.

Dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Karena mungkin, itu bukan jenis pertanyaan yang layak atau tidak terbayangkan untuk dilontarkan ke Langit.

“Maksud kamu Ra?”

“Maksud gue, kenapa harus pusing cari-cari pembahasan buat ngobrol? Kalau emang anggep gue sedeket itu, harusnya ga perlu begitu. Apa adanya lo aja. Kadang gue merasa lo gak being yourself sama gue.”

Kali ini wajah Langit juga berangsur gelap. Rambut ikalnya berantakan tertiup angin. Matanya yang biasa teduh itu cenderung kelabu. Kalau ada soundtrack biola instrumental, mungkin akan terlihat seperti drama India dengan kamera yang zoom-in dan zoom-out berulang-ulang antara wajah datar-ku dan mukanya. Lebih dramatis lagi mungkin jika ada efek petir menyambar.

Aku masih terdiam, sesekali melihat ke sekitar karena pandangan Langit mulai membuatku trenyuh. Merasa bersalah. Dan membuatku berharap aku memiliki kekuatan Hiro Takamura, seorang penjelajah ruang dan waktu di serial TV “Heroes” aku akan mengulang waktu ke 10 menit terakhir agar aku tidak perlu menatapnya seperti ini. Dan kita harusnya bisa seru membaca Norwegian Wood yang absurd itu.

Tapi dia hanya tersenyum, “Jadi ternyata aku sendiri yang ribet ya.” Dia seperti tersenyum menyesal sambil melihat jarinya.

“Eh gak gitu Lang, maksudku, setahuku, lo kan lebih cenderung pendiam, dan gue juga kadang, tapi gue senang kalau dengar lo cerita, dan gue juga senang menanggapi. Cuma memang, ya lo tau, gue bukan tipe suka curhat-an gitu. Ya gue akan cerita kalau memang gue merasa perlu cerita. Dan gue ngerasa, yang kayak gitu-gitu nggak lo banget Lang. Why don’t you be yourself?”

Langit menatapku seperti aku baru meyakini dan mendeklarasikan diriku ikut dalam sekte yang meyakini bahwa “Bumi itu Datar”.

“I do Ra. Aku selalu menjadi diriku sendiri kalau sama kamu. Dan kamu lah segelintir orang yang mana aku nyaman untuk menjadi aku apa adanya.”

Aku kurang bisa menerima begitu saja perkatannya barusan. Dan aku mulai meragukan kenapa kita jadi terjebak percakapan ini.

Tidak lama kemudian, aku mulai merasakan basah di pipiku. Di telapak tanganku. Ternyata rintik hujan mulai tumpah. Heran. Padahal tadi cuaca cerah sekali.

Kami pun bertatapan sejenak dan mulai beranjak dari tempat kami duduk. Sebelum aku berdiri, Langit memakaikan topi warna merahnya ke kepalaku, memastikan aku cukup terlindungi dan tangannya sesaat seperti menggenggam kepalaku.

“Maaf ya kalau kamu gak nyaman. Maaf ya aku pulang duluan. Kamu hati-hati menyetir mobilnya. Kabarin aja kalau sudah sampai rumah.”

Dan aku hanya bisa melihat tas ranselnya terayun mengikuti larinya meninggalkanku dan langsung menumpangi bus di halte Taman. Rintik hujan mulai deras, sebaiknya aku juga segera bergegas ke parkiran mobil untuk pulang.

**
Beberapa hari kemudian, aku pikir keadaan akan normal kembali. Tapi tidak sepenuhnya. Langit tetap berkomunikasi seperti biasa, namun terasa sekali jarang ada obrolan berlanjut di chatting. Tidak ada lagi kiriman link artikel atau apapun itu. Dan karena kupikir dia sibuk dengan proyek iklan baru-nya, aku juga jadi segan menyapa lebih dulu. Masih lebih sering dia yang menyapaku.

Buku Norwegian Wood masih tergeletak di depanku dengan topi merah “All is Well” di sampingnya. Tanpa sadar, topi itu sering kupakai, walau aku sebenarnya bukan orang tipe yang senang menggunakan aksesoris fashion tambahan itu. Ada wangi shampoo yang khas dari Langit. Dan ada sedikit kehilangan di keseharian ku.

Suasana café langganan dimana aku dan Langit biasa hang-out Sabtu siang itu cukup lengang. Hanya ada beberapa meja terisi. Tidak lama aku mendapati wajah yang sangat kucari beberapa hari ini tepat di samping jendela besar itu. Dia membuat wajah konyol, mengetuk jendela dan membuat isyarat bahwa dia akan menghampiriku.

Jujur saja aku sedikit gelisah. Tapi senang.

“Hai, tumben sendiri. Gak ngajak aku? Hehehe.” Gayanya yang kepedean masih saja dipelihara.

“Mending saya hang-out Hannibal Lecter kali,” aku menggeser buku dan topi di depanku

“Hahaha, are you sure wanted to have some your fingers, literally, as his snack?”

“Noooo… I will give him my nose instead, this is not really aesthetically functioning” kami berdua tertawa.

Ada keheningan sesaat melewati kami. Biasanya kami langsung saling bercerita tentang apa saja. Tapi Langit sepertinya menahan diri dan menatap aku seolah berkata “silakan bicara, aku hanya akan mendengarkan.”

“Langit, gue mau minta maaf untuk pertemuan kita terakhir kemarin di taman.” Wajahnya masih tenang dan mengangkat alis sambil tersenyum. “Gue tidak mempertimbangkan benar-benar perkataan sendiri. Walaupun memang benar, kadang gue khawatir ada yang ‘dipaksakan’ dengan keseharian kita, karena gue tau lo sebelumnya gak begitu. Bukan tipe orang yang terlalu cerewet, dan gue merasa lo ‘maksa’, gak jadi diri lo sendiri.”

Memanglah, memandang laki-laki di depan ku ini bisa membuat ku merasa bisa menceritakan apa saja, dan yakin bahwa dia tidak akan keberatan sama sekali dengan semua cerita ku.

“Sudah bicaranya Ra?”

“Eh? Iya sudah. Itu aja.” aku bingung dengan reaksinya.

“Ra, begini. Mungkin karena kamu kenal banget aku, ada benarnya kamu berpendapat bahwa ya memang aku bukan tipe bawel atau banyak ngomong, itu bagian mu, aku dominan banyak mendengar dan menangapi cerita mu.”

“Tapi kamu salah kalau berpendapat aku tidak menjadi diriku sendiri dan terkesan ‘memaksa’. Justru disini aku mencoba ‘improve’ myself. Be a better version of myself. Karena memang kalau mau dituruti dan dijalani benar, aku cenderung pasif, segan untuk memulai pembicaraan atau bahasa anak sekarang ‘gak seru’ lah untuk diajak ngobrol. Bahkan cenderung cuek dan soliter. ”

“Dan dengan kamu yang banyak cerita, aku khawatir kalau kamu suatu hari yaa, memang tidak pengen ngobrol, atau gantian ngomong, aku kesulitan untuk mengimbangimu.”

“Aku khawatir kamu bosan dengan kebersamaan kita, kalau tidak ada hal-hal yang membuat kita terus berkomunikasi, apapun itu. Walaupun tidak harus terus bicara, kadang diam pun tidak apa, tapi setidaknya aku berusaha.”

“Bersama kamu, aku mencoba menjadi orang yang lebih baik. Setidaknya dalam komunikasi atau obrolan kita selalu berwarna. Dan ya intinya, kamu tetap nyaman dengan aku.”

“Aku tidak memaksakan diri, dan aku tetap merasa nyaman dengan perubahan yang aku memang sedang belajar dan usahakan ini. Tapi intinya, aku tetap menjadi Langit yang kamu kenal, hanya saja dia sedang mencoba untuk menjadi lebih baik.”

Aku terdiam dengan penjelasannya.

“Don’t you see me trying here?”

Rasanya kosa kata yang selama ini kupelajari dan kusimpan di memori otak tiba-tiba di-reset ulang. Dan aku kesulitan untuk membalas penjelasannya.

Dan kepala kerasku ini akhirnya menyadari, laki-laki di depanku, Langit, hati seluas namanya, and this is him, a man trying to be a better person.

Untuk aku.

I guess I couldn’t ask for more.


**

Tuesday, December 20, 2016

Pindah Lagi

“Move to a new country and you quickly see that visiting a place as a tourist, and actually moving there for good, are two very different things.” -- Tahir Shah 

Ada yang bilang hakikatnya manusia itu adalah hijrah, pindah. Entah dalam arti kiasan maupun harfiah. 

Gue nulis ini dengan posisi sudah bertugas di kota Kendari. Padahal sebelum ini gue sudah tugas di Medan 2 tahun, dan tugas di Palembang 1 tahun. Entah di Kendari ini akan berapa tahun lagi. Tapi kayaknya sih sekarang konsep-nya tiap 2 tahun akan ada mutasi lagi. Untuk pekerjaan yang mobile seperti ini memang, 1 tahun terlalu cepat, 2 tahun ya pas lah, ada progress yang bisa diukur, sudah ada perbandingan dengan tahun sebelumnya.

Well, Kenapa bisa pindah hampir dua ribuan kilometer jauhnya dari Palembang? Mungkin karena gue punya determinasi betapa gue ingin sekali ke Indonesia bagian Timur. Bagian Indonesia yang bagi sebagian besar karyawan senior, bahkan untuk laki-laki sering menjadi momok yang kurang menyenangkan. Karena di wilayah ini sering dibayangkan lebih banyak kesulitan daripada kemudahan untuk memfasilitasi sebuah kehidupan yang aman nyaman layak untuk tinggal dan bekerja.

Nah sekarang, Alhamdulillah. Gue masih cewe *rasa-rasanya sih belum ada mengajukan perubahan ke Dinas Kependudukan* dan sepertinya gue menjadi cewe yang pertama (untuk posisi level ini) yang dipindahkan ke Indonesia Timur. Sebenernya ini salah satu strategi juga, kalau gue memilih Jawa atau Jabodetabek, sepertinya akan kecil kemungkinan gue akan ber-progress lagi. You must be outstanding karena skill atau karena kemauan. Mudah-mudah gue diamanahkan karena dua hal itu.

Much more story awaits. 

And I am so excited.




Sunday, May 15, 2016

Nostos. Algos.

Here are some words that i found while i read a book.

**
 I wish you could see you from my eyes, how you're worth it.
I wish you could see you from my eyes, how your imperfections drive me crazy, but i dont mind.
I wish you could see you from my eyes, how you are loved


**
It's amazing how a memory can pull you into the darkest pit of sorrow, isn't it?


**
At a moment like this, my eyes can choose not to see, my ears can chose not to listen, but my heart can never be given a choice not to love.


**
Addicted to pain is not an escape from reality


**
That's the thing about pain.
It demands to be felt.

**
“The Greek word for "return" is nostos. Algos means "suffering." 
So nostalgia is the suffering caused by an unappeased yearning to return.” 
― Milan KunderaIgnorance


This too shall pass, Ay? :)

Wednesday, May 4, 2016

Sok Puitis

Karena lagi happening banget film AADC yang sudah tayang di bioskop kesayangan Anda, tapi belum tentu jadi kesayangan ibu mertua, eike sebagai generasi emas 90-an, most of us kurang gizi dan cacingan tapi hepi karena banyak main di luar *gak main gadget dong kecuali gimbot "bego lu.. bego lu"* jadi saya merasa wajib nonton dong.
Well, gak banyak komentar sih tentang filmnya apalagi jalan ceritanya yang sangat FTV-ish sekali dan happy ending. Tapi okelah menatap mbak Distro yang walau sudah anak dua yang mungkin bikin pengen banyak suami mendadak-duda atau yang jomblo jadi sekeren Al-Gazali anaknya Dhani Dewa.
Intinya saya sih mau copas puisi aja sih, dari si Charil Anwar.
Udah. Itu aja.
Here we go:
***
Sia-sia
Penghabisan kali itu kau datang
Membawaku kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Chairil Anwar, Februari 1943

***

Tuesday, February 9, 2016

Suatu Ketika di Hari Minggu

Di Minggu siang yang sedikit mendung, aku sedang memandang kertas kosong yang terletak di atas meja gambarku ketika kudengar pintu depan diketuk keras tiga kali. Aku memandang ke arah pintu sesaat. Kupikir iseng sekali Si Edo, teman satu rumah kontrakanku, pakai acara mengetuk pintu segala. Biasanya ia langsung mendobrak begitu saja tanpa mengetuk atau bahkan sekedar untuk mengucapkan salam.

Dengan malas-malasan aku beranjak dari tempatku duduk, berjalan ke arah pintu dan memutar kenop pintu sambil berkata,

“Apaan sih Do, pake acara ngetok pintu sega--,” kata-kataku langsung tenggelam ketika yang kulihat berdiri di depan pintu itu bukan sosok tinggi besar dan botak-nya si Edo yang suka nyengir lebar, melainkan seorang perempuan mengenakan kaos berkerah putih polos, celana panjang blue jeans membalut kaki, sneakers putih dengan tiga strip merah dan sebuah post-man-bag berwarna abu-abu melintang di tubuhnya.

Vio.

“Hai Lang, lagi sibuk yah?” dia tersenyum lebar ke arahku, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Senyumnya bagiku lebih membuatku terkejut daripada maskot, maaf, maksudku tokoh yang meng-endorse sebuah produk sabun cuci yang berpenampilan nora’ bin ajaib itu. Bagaimana tidak ajaib, kalau rambut yang di-mohawk secara horizontal itu di-cat dengan empat warna yang sungguh sangatlah ramai. Belum lagi dengan model dan warna pakaiannya yang cerah meriah, berwarna ungu dengan kombinasi dasi bermotif polkadot kuning-jingga.

Ah, ya sudahlah. Lupakan si maskot sabun cuci itu.

Yang pasti makhluk, eh, perempuan nan manis itu sudah berdiri tepat di depanku. Angin mendung yang menggantung membawakan wangi aroma shampo yang melekat di rambutnya ke indera penciumanku. Membuatku menelan ludah, menyadari kalau penampilanku sungguh sangatlah tidak pantas dibandingkan dengannya. Tadi malam aku begadang, bau asap rokok dari si ‘cerobong-asap’ Edo yang menempel di kaosku, keringat, ditambah bau badan yang sudah sehari tidak mandi ini pastilah bukan aroma favoritnya hari ini.

“Errr… hai, Vi. Maaf, aku kira si Edo,” kataku sambil mempersilakannya masuk. Dia membuka sepatu dan kaos kakinya lalu melangkah masuk ke ruang tamu. Dia sudah berjalan empat langkah ketika ia berbalik badan dan terdiam melihat ke arahku. Wajahnya masih tersenyum lebar, tapi mungkinkah daritadi ia menahan napasnya? Sial, sepertinya bau badanku begitu parah. Aku harus segera mandi. Lagian, ini kan hari Minggu, buat apa dia tiba-tiba datang?

Vio sedikit melompat ke arahku dan dia malah memelukku erat.

“Aku kangen banget sama kamu!”  katanya riang. Aku tidak membalas pelukannya. Bukan. Bukan karena aku tidak suka dipeluk, tapi aku semakin merasa tidak pe-de dengan keadaanku yang belum mandi ini. Dengan gugup aku hanya membelai rambutnya.

Aku sejuta kali lebih merindukanmu, bidadariku.

“Eh, gilaaa… aku belum mandi niih,” aku mencoba melepaskan pelukannya.

“Trus? Kenapa?” dia mundur menatapku. Rangkulan tangannya belum lepas dari pinggangku. Aroma tubuhnya yang manis membuatku merasa ada kupu-kupu indah beterbangan di sekitar bunga warna-warni dan rumput hijau yang seketika tumbuh di ruang tamuku.

“Hidung kamu mampet kayak got depan rumah ya? Emang kamu gak cium nih aku bau banget, belum mandi,” aku menyodorkan kaosku ke hidungnya.

“Itu sih udah kecium dari kamu buka pintu.”
“Trus? Kenapa aku malah dipeluk?! Emang kamu gak kebauan?!”
“Emangnya kalau mau peluk, ketika kamu harus wangi?! Aku juga suka waktu kamu belum mandi begini, atau bahkan dalam keadaan apapun,” nada suaranya terdengar ringan, tapi membuatku makin tenggelam dalam cintaku terhadapnya.

Aku menatap kedua matanya bergantian. Bibir merah mungil itu masih tersenyum ke arahku.

Kamu bisa membunuhku dengan senyummu itu.

“Ya udah. Ngapain dulu kek sana. Aku mau mandi,” aku melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah kamar mandi.

“Oke,” dia menaruh tasnya di atas sofa dan berjalan ke ruang kerjaku dan Edo.
“Jangan nge-geratak, jangan bikin berantakan, jangan bandel,” kataku padanya.
“Iya baweeelll…! Mandi aja sana, sikat tiga puluh tiga kali giginya, biar gak bau!” kata-katanya masih terdengar jelas ketika aku sudah berada dalam kamar mandi. Dia tidak tahu betapa senyumku sangat lebar dan sumringah. Saking senangnya, aku ingin menceburkan diriku ke dalam bak mandi. Tapi tentu itu tidak mungkin dilakukan.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku menghampirinya yang ternyata sudah berada di teras depan sambil memegang gelas yang mengepul. Di atas meja di depannya ada satu lagi gelas bermotif bulat-bulat coklat yang juga mengepul. Aku yakin gelas yang dipegangnya berisi teh manis panas. Dan gelas yang satunya,

“Tuh, dah aku buatin kopi rebus kesukaan kamu,” katanya tanpa melihatku.

Aku mengambil gelas dan mencium aromanya, “sok tahu banget kamu kalo aku suka kopi rebus,” aku mencibir ke arahnya.

“Kalo nggak mau, buang aja ke dalam pot tanaman,” dia mendelik ke arahku.

Aku malah tertawa, “duileh si neng, jadi judes gitu. Hihi, lucu deh mukanya kalo lagi cemberut, mirip kayak marmut,” aku menggodanya. Dia tersenyum dan memukul pelan bahuku. Kalau sudah begitu, jadi terlihat sisi manjanya.

Setengah hari berikutnya, aku merasa langit menjadi cerah meriah. Kami mengobrol di teras dengan bangku yang mirip bangku taman itu tentang banyak hal sambil menikmati teh manis dan kopi rebus buatannya. Penuh dengan sebaris canda dan sederet tawa. Atau kadang kami hanya terdiam sambil berpegangan tangan. Mencubit pipi dan hidungnya, mengelus punggung dan rambutnya, memainkan daun telinganya, mendengarkan suaranya yang banyak bercerita. Ia seperti es krim strawberry yang tidak habis dimakan dan tidak meleleh terkena panas.

Lalu kami pergi makan siang di suatu kafe yang juga ada toko bukunya di dekat rumahku. Meluangkan waktu untuk membahas satu buku tertentu, ada diskusi ringan dan berbagi pendapat dengan suasana yang menyenangkan. Aku mengagumi pikirannya yang cerdas untuk perempuan seumurnya. Sorenya kami pergi ke bioskop terdekat, menonton film pilihan kami. Aku merasa menonton film bersamanya selama ini selalu menyenangkan. Kami berdua sama-sama pencinta film, yah, walaupun bukan tingkat berat, tapi selera film kami saling melengkapi.

Semua kegiatan kami hari itu kembali lagi ke ‘bangku taman’ di teras rumahku. Keriaan malam itu ditemani lagi dengan segelas kopi rebus, dan susu coklat hangat dan tanpa temanku Edo yang seperti ditelan bumi, katanya ia menginap di rumah salah satu teman kami. Sambil memandangi pohon mangga di depan rumahku, kami melepas lelah dan tetap saling membahas kegiatan kami seharian. Terkadang ia mengusap punggungku agar ku merasa nyaman, pijat-pijat kecil di bahu dan belaiannya di rambutku membuatku ingin segera terlelap di dekatnya.

Tiba-tiba ponsel-nya berdering. Kami sempat berpandangan bingung. Lalu dia merogoh kantung sebelah kanan celana jeans dan mengambil ponsel-nya. Sekilas ia memandang layar ponsel itu dengan kening berkerut. Perlahan ia bangkit dari sisiku dan berjalan agak menjauh.

“Halo?”

Kata-kata percakapannya dengan entah-siapa-yang-menelepon sudah tidak terdengar jelas. Rasanya jauh sekali. Dan aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan lawan bicaranya. Aku meneguk kopi di gelasku. Rasanya kok makin pahit ya? Tidak lama kemudian pembicaraan Vio berakhir, dan ia kembali duduk di sampingku. Ia menggamit tangan kananku dan menarik tatapan mataku ke dalam matanya.

“Langit, maaf ya, aku harus pulang…” ekspresinya suram seperti ditelan malam, kata-katanya seperti tidak mau lebih lanjut lagi dilontarkan oleh mulutnya.

“… Dio nyariin aku…”

Ah ya, Dio. Orang lain yang mempunyai tempat yang sedikiiit lebih besar di hatinya dibandingkan posisi ku. Aku berharap punya hati yang cukup besar lagi untuk mengatakan ‘ya’ kepadanya.

“Ya udah, pulang. Nanti kemalaman sampai rumah,” aku beranjak masuk dan mengambil tasnya yang terletak di sofa ruang tamu dan kembali duduk di sampingnya. Aku merasa matanya mengikutiku.

Lalu ia memakai sepatunya perlahan-lahan, berharap itu bisa menambah waktu kebersamaan kami. Setelah ia selesai menalikan sepatunya, ia kembali menatapku.

“Kalau bisa, aku ingin terus bersamamu terus, Lang,” ia menghela napas.

Aku menginginkan hal itu lebih dari yang kamu tahu Vi.

“Tapi kita tidak bisa, ini sudah malam. Besok-besok kita bisa ketemu lagi, kan?” aku seperti meyakinkan perasan kami berdua.

Ia mengangguk pelan. Ia mengecup keningku dan gantian aku mengecup keningnya.

“Hati-hati di jalan ya, maaf aku gak bisa mengantar kamu.”
“Iya, gak apa-apa. Makasih ya untuk semuanya hari ini.”
“Sama-sama, aku juga senang banget kamu datang.”
“Bye, Langit,” ia melambai pelan padaku.
“Bye, Vi, hati-hati di jalan ya, kabari aku kalau dah sampai rumah,” kataku.

Aku hanya bisa duduk bersandar menatap punggungnya yang makin lama makin menjauh dan hilang berbelok di tikungan depan rumahku. Aku seperti lupa bernapas. Dadaku rasanya sesak sekali. Udara yang kuhirup seperti habis tiba-tiba. Aku mencoba minum kopi di gelasku yang tinggal sedikit. Ugh, pahitnya seperti bertambah lima kali.

Aku membawa kedua gelas ke dalam rumah dan menutup pintu depan. Kududuk di depan meja gambarku dan menatap kertas kosong yang dari tadi siang masih di sana. Kertas putih itu kosong, belum ada coretan atau tulisan. Sekosong hatiku yang menemui kenyataan bahwa aku harus berpisah lagi dengannya. Cukup lama aku terdiam dengan pandangan hampa keatas selembar kertas itu. Sampai kuambil spidol hitam dan aku menumpahkan apa yang selama ini selalu mengganggu pikiran, hati dan harapanku.

Vio,
Aku gak ngira kalau kamu benar-benar datang hari ini
Aku kira orang lain yang mengetuk pintu rumahku
tapi ternyata itu kamu

Mungkin kamu harus belajar ilmu bedah atau kamu bisa nyewa tukang bedah
Biar kamu bisa bedah hatiku
Di dalamnya cuma ada kamu
Trus kamu bedah kepala dan otakku
Semua memori dan harapan aku ada kamunya

Aku kangen kamu banget
Meskipun aku bingung
Kamu belum tegasin status kita sebagai apa?
Atau kamu mau gak ada status?
Aku pengen ada.

Meskipun dekat dengan kamu bisa membuat semuanya
Jadi merasa di genggamanku

Tanpa aku harus menyandang status
- Langit-
Jakarta, 2008

***

Friday, December 6, 2013

Keep Off

"What others think of you is none of your business" -- mengutip pakde Paulo 😊

Friday, May 10, 2013

It Ain't Over til It's Over

Seperti judulnya.
Ya. Kira-kira begitulah adanya.

Semoga menjawab
*seruput es teh manis* :)