“Silakan
hot chocolate-nya kak.”
Aku
tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kepada pelayan dengan tato bertuliskan
“4:30” di bagian dalam lengan tangan kanannya, terlihat ketika menyodorkan
pesanan ke mejaku yang memang memilih sisi menghadap jendela. Dan aku sempat
berpikir, kenapa di menuliskan angka “4:30” itu sebagai campuran tinta permanen
seumur hidupnya. Apakah ada kenangan tertentu dengan kombinasi angka itu? Atau
itu waktu dia dilahirkan? Atau mungkin ada alasan religius? Semacam surat
tertentu dalam kitab suci beserta ayatnya? Bagaimana kalau dia salah memilih
tato itu?
Sepertinya
terlalu berat untuk dipikirkan lebih lanjut hanya dengan secangkir coklat
panas. Sebaiknya aku merenung dengan pikiran yang lebih santai saja.
“Hai
Ra, sudah lama?”
Senyum
yang sudah sangat familiar itu mengiringi sapaannya.
“Nggak
kok, santai. Ini baru datang pesanan ku. Kehujanan?” Aku melihat dia sekilas
menyeka yang terlihat sebagai tetesan air dari sebagian rambutnya yang ikal.
“Hahaha.
Gerimis mengundang aja. Untung parkirnya dekat.” Dia mendekatkan kursi ke
sebelah ku.
“Dan
untung lagi bukan gerimis kenangan ya.” Dia mengacak rambutku sambil tertawa.
Salah satu gesture favoritku.
“Anyway
Ra, masa yah aku nemu di IG katanya kalau dengan makan keju, bisa menurunkan
tekanan darah tinggi loh.” matanya berbinar saat mengatakan temuannya itu.
“Kok
bisa? Beneran tuh?” alis ku yang terangkat tinggi ke arahnya menandakan
keraguanku yang cukup jelas.
“Ya
benerlah, taruhan yuk.” Senyumnya terlihat jahil.
“Really?!”
“Iya,
karena kamu aja kalau lagi PMS craving
any dish with cheese. Jadi korelasinya bener dong. PMS sama dengan darah
tinggi. Makan keju, turun deh darah tingginya. Hahahaha.” Dia sepertinya
menahan tawa kemenangan itu untuk kunikmati bersama rasa sebal tapi lucu yang
muncul.
“Ishhh!”
aku meninju bahunya, dan dia meringis kesakitan. Dan aku hafal sekali kalau itu
pura-pura.
Dan
malam itupun berlalu dengan banyaknya celaan, mindless, pointless conversation
dan aku selalu nyaman. Mungkin ada sedikit adiksi dengan kebersamaan itu.
**
Ting
Tung
Notif
Whatsapp ku berbunyi, dan seperti kuduga, Langit mengirimkan sebuah link
tentang film yang akan tayang di tahun ini. Aku sedikit enggan untuk membuka
dan membaca link itu, karena aku bisa menebak tidak lama setelah aku read, dia akan melanjutkan mengirim
pesan kepadaku.
“Udah
diliat link-nya Ra? Gak sabar banget nonton Deadpool 2! Pasti gokil. Si Ryan
Reynolds goblik banget. Kayaknya karakter Deadpool emang meant to be ama si
Ryan. Sama kayak Po Kung Fu Panda itu ya Jack Black banget!” dengan icon-icon
nyengir lebar mengiringi chat WA-nya
Dan
aku hanya bisa membalas “hahaha iya, pastilah nanti kita nonton bareng tuh.”
dengan icon nyengir berkeringat.
Aku
hanya membalas beberapa kali soal link film itu lalu memutuskan untuk menyudahi
dengan memberi kabar bahwa aku akan tidur.
**
Ting
Tung
Tanpa
menebak dari siapa, aku tidak perlu memenuhi rasa penasaranku karena aku memang
sudah mengkustomisasi nada notifikasi dari Langit. Dan entah kenapa tanpa aku
membaca apa yang dia kirimkan, aku sudah bisa menebak apa isi chat-nya malam
ini.
“Ra,
keren deh sekarang sudah ada mesin translator portable gitu, jadi kemanapun
kita pergi, gak ngerti bahasa, tinggal ngomong di recorder itu, terus di replay
ulang dengan bahasa tujuan. Aku tag juga ya di FB mu. Menurut mu gimana? Mau
dipakai pake bahasa apa Ra?”
Dia
chat beruntun sekitar 7-10 baris. Dan aku agak tertegun lama, dan lagi-lagi
tidak terlalu bersemangat membalas. Rutinitas seperti ini kurang lebih sudah
berlangsung 3 bulan belakangan ini. Dan akhir-akhir ini makin sering. Jika
tidak bertemu atau mengobrol langsung, dia akan melakukan hal seperti itu.
Seperti ada saja yang harus dibahas. Aku tidak terganggu, tapi sepertinya, ada itu
terasa kurang wajar dan tidak seperti biasanya.
**
Buku
Norwegian Wood oleh Haruki Murakami ini menjelang beberapa halaman terakhir
saja. Haruki ini punya cara tersendiri untuk membuat kalimat yang darkish yet still bitter but funny in
someway. Baru saja aku akan membalik halaman berikut, tiba-tiba pandangan
ku gelap seketika. Yah, tentu saja, Langit. Dia melempar topi merahnya ke
arahku dan tepat sekali jatuh di atas wajahku dengan posisi tidur di rumput
taman kota ini.
“Ha!
Three point there!” dia langsung merebahkan diri tidak jauh di sebelahku dengan
tas backpack sebagai alas bantalnya.
Aku
menyingkirkan topi bertuliskan “All is Well” favorit-nya dan melipat ujung
halaman terakhir yang kubaca. Menginterupsi waktu membaca bukan salah satu
sikap favoritku. Tapi sudah lama juga aku tidak ngobrol banyak dengan Langit.
Memang biasanya banyak bicara itu harusnya menjadi bagianku, kalau in the mood.
Tapi akhir-akhir ini Langit seperti berusaha mengambil alih, yang mana aku
masih merasa itu bukan kebiasaannya.
“Ra.”
“Uhum.”
“Sudah
liat link yang tadi gue WA?”
“Hmm..”
“Seru
ya itu.. Coba bisa kayak gitu di Jakarta, menurut mu gimana Ra?”
Aku
duduk di sampingnya, dan entah kenapa rasanya ada yang perlu diselesaikan.
“Lang,”
aku mencoba mempertimbangkan kata-kata yang akan kusampaikan ini.
“Soal
link-link atau foto, fakta menarik, info, meme lucu atau apapun yang kamu
kirimkan itu...”
Langit
terbangun dan duduk bersila di depanku dengan muka berbinar, seolah aku juga
tertarik membahas itu dengannya. Matanya, terlalu coklat untuk kubuat mendung.
“Mau
tanya dulu, kenapa lo jadi suka ngirim link-link info gambar video atau apalah kayak
gitu ke gue?”
Alis
langit terangkat, yang jelas dia tidak menduga pertanyaan ini akan muncul.
“Eh,
ya apa ya? Karena menurut ku info itu bagus, related to you, or us. Dan biar
bisa jadi bahan obrolan sehari-hari kita, di luar bahasan kampus ku atau
kerjaan ku. Is that a problem?”
“Yes,
I think it is. A little bit.” Aku mengalihkan pandangan ku ke seorang remaja
cowo yang sedang mengambil foto teman wanitanya dengan latar belakang bunga
warna-warni.
Aku
tidak berani menatap matanya yang meredup.
“Kenapa?”
“Kenapa
lo kayaknya perlu banget cari bahan obrolan sama gue? Gue gak pernah pusing
mikirin itu” Aku-kamu baginya, dan lo-gue, buat gue.
Dia
tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Karena mungkin, itu bukan jenis
pertanyaan yang layak atau tidak terbayangkan untuk dilontarkan ke Langit.
“Maksud
kamu Ra?”
“Maksud
gue, kenapa harus pusing cari-cari pembahasan buat ngobrol? Kalau emang anggep
gue sedeket itu, harusnya ga perlu begitu. Apa adanya lo aja. Kadang gue merasa
lo gak being yourself sama gue.”
Kali
ini wajah Langit juga berangsur gelap. Rambut ikalnya berantakan tertiup angin.
Matanya yang biasa teduh itu cenderung kelabu. Kalau ada soundtrack biola instrumental,
mungkin akan terlihat seperti drama India dengan kamera yang zoom-in dan zoom-out berulang-ulang antara wajah datar-ku dan mukanya. Lebih
dramatis lagi mungkin jika ada efek petir menyambar.
Aku
masih terdiam, sesekali melihat ke sekitar karena pandangan Langit mulai
membuatku trenyuh. Merasa bersalah. Dan membuatku berharap aku memiliki
kekuatan Hiro Takamura, seorang penjelajah ruang dan waktu di serial TV
“Heroes” aku akan mengulang waktu ke 10 menit terakhir agar aku tidak perlu
menatapnya seperti ini. Dan kita harusnya bisa seru membaca Norwegian Wood yang
absurd itu.
Tapi
dia hanya tersenyum, “Jadi ternyata aku sendiri yang ribet ya.” Dia seperti
tersenyum menyesal sambil melihat jarinya.
“Eh
gak gitu Lang, maksudku, setahuku, lo kan lebih cenderung pendiam, dan gue juga
kadang, tapi gue senang kalau dengar lo cerita, dan gue juga senang menanggapi.
Cuma memang, ya lo tau, gue bukan tipe suka curhat-an gitu. Ya gue akan cerita
kalau memang gue merasa perlu cerita. Dan gue ngerasa, yang kayak gitu-gitu
nggak lo banget Lang. Why don’t you be yourself?”
Langit
menatapku seperti aku baru meyakini dan mendeklarasikan diriku ikut dalam sekte
yang meyakini bahwa “Bumi itu Datar”.
“I
do Ra. Aku selalu menjadi diriku sendiri kalau sama kamu. Dan kamu lah
segelintir orang yang mana aku nyaman untuk menjadi aku apa adanya.”
Aku
kurang bisa menerima begitu saja perkatannya barusan. Dan aku mulai meragukan
kenapa kita jadi terjebak percakapan ini.
Tidak lama kemudian, aku mulai merasakan basah di pipiku. Di telapak tanganku. Ternyata rintik hujan mulai tumpah. Heran. Padahal tadi cuaca cerah sekali.
Kami
pun bertatapan sejenak dan mulai beranjak dari tempat kami duduk. Sebelum aku
berdiri, Langit memakaikan topi warna merahnya ke kepalaku, memastikan aku
cukup terlindungi dan tangannya sesaat seperti menggenggam kepalaku.
“Maaf
ya kalau kamu gak nyaman. Maaf ya aku pulang duluan. Kamu hati-hati menyetir
mobilnya. Kabarin aja kalau sudah sampai rumah.”
Dan
aku hanya bisa melihat tas ranselnya terayun mengikuti larinya meninggalkanku
dan langsung menumpangi bus di halte Taman. Rintik hujan mulai deras, sebaiknya
aku juga segera bergegas ke parkiran mobil untuk pulang.
**
Beberapa
hari kemudian, aku pikir keadaan akan normal kembali. Tapi tidak sepenuhnya.
Langit tetap berkomunikasi seperti biasa, namun terasa sekali jarang ada
obrolan berlanjut di chatting. Tidak ada lagi kiriman link artikel atau apapun
itu. Dan karena kupikir dia sibuk dengan proyek iklan baru-nya, aku juga jadi
segan menyapa lebih dulu. Masih lebih sering dia yang menyapaku.
Buku
Norwegian Wood masih tergeletak di depanku dengan topi merah “All is Well” di
sampingnya. Tanpa sadar, topi itu sering kupakai, walau aku sebenarnya bukan
orang tipe yang senang menggunakan aksesoris fashion tambahan itu. Ada wangi
shampoo yang khas dari Langit. Dan ada sedikit kehilangan di keseharian ku.
Suasana
café langganan dimana aku dan Langit biasa hang-out
Sabtu siang itu cukup lengang. Hanya ada beberapa meja terisi. Tidak lama aku
mendapati wajah yang sangat kucari beberapa hari ini tepat di samping jendela
besar itu. Dia membuat wajah konyol, mengetuk jendela dan membuat isyarat bahwa
dia akan menghampiriku.
Jujur
saja aku sedikit gelisah. Tapi senang.
“Hai,
tumben sendiri. Gak ngajak aku? Hehehe.” Gayanya yang kepedean masih saja
dipelihara.
“Mending
saya hang-out Hannibal Lecter kali,”
aku menggeser buku dan topi di depanku
“Hahaha,
are you sure wanted to have some your fingers, literally, as his snack?”
“Noooo…
I will give him my nose instead, this is not really aesthetically functioning”
kami berdua tertawa.
Ada
keheningan sesaat melewati kami. Biasanya kami langsung saling bercerita
tentang apa saja. Tapi Langit sepertinya menahan diri dan menatap aku seolah berkata
“silakan bicara, aku hanya akan mendengarkan.”
“Langit,
gue mau minta maaf untuk pertemuan kita terakhir kemarin di taman.” Wajahnya
masih tenang dan mengangkat alis sambil tersenyum. “Gue tidak mempertimbangkan
benar-benar perkataan sendiri. Walaupun memang benar, kadang gue khawatir ada
yang ‘dipaksakan’ dengan keseharian kita, karena gue tau lo sebelumnya gak
begitu. Bukan tipe orang yang terlalu cerewet, dan gue merasa lo ‘maksa’, gak
jadi diri lo sendiri.”
Memanglah,
memandang laki-laki di depan ku ini bisa membuat ku merasa bisa menceritakan
apa saja, dan yakin bahwa dia tidak akan keberatan sama sekali dengan semua
cerita ku.
“Sudah
bicaranya Ra?”
“Eh?
Iya sudah. Itu aja.” aku bingung dengan reaksinya.
“Ra,
begini. Mungkin karena kamu kenal banget aku, ada benarnya kamu berpendapat
bahwa ya memang aku bukan tipe bawel atau banyak ngomong, itu bagian mu, aku
dominan banyak mendengar dan menangapi cerita mu.”
“Tapi
kamu salah kalau berpendapat aku tidak menjadi diriku sendiri dan terkesan ‘memaksa’.
Justru disini aku mencoba ‘improve’ myself. Be a better version of myself. Karena
memang kalau mau dituruti dan dijalani benar, aku cenderung pasif, segan untuk
memulai pembicaraan atau bahasa anak sekarang ‘gak seru’ lah untuk diajak
ngobrol. Bahkan cenderung cuek dan soliter. ”
“Dan
dengan kamu yang banyak cerita, aku khawatir kalau kamu suatu hari yaa, memang
tidak pengen ngobrol, atau gantian ngomong, aku kesulitan untuk mengimbangimu.”
“Aku
khawatir kamu bosan dengan kebersamaan kita, kalau tidak ada hal-hal yang
membuat kita terus berkomunikasi, apapun itu. Walaupun tidak harus terus
bicara, kadang diam pun tidak apa, tapi setidaknya aku berusaha.”
“Bersama
kamu, aku mencoba menjadi orang yang lebih baik. Setidaknya dalam komunikasi
atau obrolan kita selalu berwarna. Dan ya intinya, kamu tetap nyaman dengan
aku.”
“Aku
tidak memaksakan diri, dan aku tetap merasa nyaman dengan perubahan yang aku
memang sedang belajar dan usahakan ini. Tapi intinya, aku tetap menjadi Langit
yang kamu kenal, hanya saja dia sedang mencoba untuk menjadi lebih baik.”
Aku
terdiam dengan penjelasannya.
“Don’t
you see me trying here?”
Rasanya
kosa kata yang selama ini kupelajari dan kusimpan di memori otak tiba-tiba
di-reset ulang. Dan aku kesulitan untuk membalas penjelasannya.
Dan
kepala kerasku ini akhirnya menyadari, laki-laki di depanku, Langit, hati
seluas namanya, and this is him, a man trying to be a better person.
Untuk
aku.
I
guess I couldn’t ask for more.
**
No comments:
Post a Comment