Di Minggu siang yang sedikit
mendung, aku sedang memandang kertas kosong yang terletak di atas meja gambarku
ketika kudengar pintu depan diketuk keras tiga kali. Aku memandang ke arah
pintu sesaat. Kupikir iseng sekali Si Edo, teman satu rumah kontrakanku, pakai
acara mengetuk pintu segala. Biasanya ia langsung mendobrak begitu saja tanpa mengetuk
atau bahkan sekedar untuk mengucapkan salam.
Dengan malas-malasan aku beranjak
dari tempatku duduk, berjalan ke arah pintu dan memutar kenop pintu sambil
berkata,
“Apaan sih Do, pake acara ngetok
pintu sega--,” kata-kataku langsung tenggelam ketika yang kulihat berdiri di
depan pintu itu bukan sosok tinggi besar dan botak-nya si Edo
yang suka nyengir lebar, melainkan seorang perempuan mengenakan kaos berkerah
putih polos, celana panjang blue jeans
membalut kaki, sneakers putih dengan
tiga strip merah dan sebuah post-man-bag
berwarna abu-abu melintang di tubuhnya.
Vio.
“Hai Lang, lagi sibuk yah?” dia
tersenyum lebar ke arahku, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Senyumnya
bagiku lebih membuatku terkejut daripada maskot, maaf, maksudku tokoh yang
meng-endorse sebuah produk sabun cuci
yang berpenampilan nora’ bin ajaib
itu. Bagaimana tidak ajaib, kalau rambut yang di-mohawk secara horizontal itu di-cat dengan empat warna yang sungguh
sangatlah ramai. Belum lagi dengan model dan warna pakaiannya yang cerah
meriah, berwarna ungu dengan kombinasi dasi bermotif polkadot kuning-jingga.
Ah, ya sudahlah. Lupakan si
maskot sabun cuci itu.
Yang pasti makhluk, eh, perempuan
nan manis itu sudah berdiri tepat di depanku. Angin mendung yang menggantung
membawakan wangi aroma shampo yang melekat di rambutnya ke indera penciumanku. Membuatku
menelan ludah, menyadari kalau penampilanku sungguh sangatlah tidak pantas
dibandingkan dengannya. Tadi malam aku begadang, bau asap rokok dari si
‘cerobong-asap’ Edo yang menempel di kaosku,
keringat, ditambah bau badan yang sudah sehari tidak mandi ini pastilah bukan
aroma favoritnya hari ini.
“Errr… hai, Vi. Maaf, aku kira si
Edo ,” kataku sambil mempersilakannya masuk.
Dia membuka sepatu dan kaos kakinya lalu melangkah masuk ke ruang tamu. Dia
sudah berjalan empat langkah ketika ia berbalik badan dan terdiam melihat ke
arahku. Wajahnya masih tersenyum lebar, tapi mungkinkah daritadi ia menahan
napasnya? Sial, sepertinya bau badanku begitu parah. Aku harus segera mandi. Lagian,
ini kan hari
Minggu, buat apa dia tiba-tiba datang?
Vio sedikit melompat ke arahku
dan dia malah memelukku erat.
“Aku kangen banget sama kamu!” katanya riang. Aku tidak membalas pelukannya.
Bukan. Bukan karena aku tidak suka dipeluk, tapi aku semakin merasa tidak pe-de dengan keadaanku yang belum mandi
ini. Dengan gugup aku hanya membelai rambutnya.
Aku sejuta kali lebih merindukanmu, bidadariku.
“Eh, gilaaa… aku belum mandi niih,”
aku mencoba melepaskan pelukannya.
“Trus? Kenapa?” dia mundur
menatapku. Rangkulan tangannya belum lepas dari pinggangku. Aroma tubuhnya yang
manis membuatku merasa ada kupu-kupu indah beterbangan di sekitar bunga warna-warni
dan rumput hijau yang seketika tumbuh di ruang tamuku.
“Hidung kamu mampet kayak got
depan rumah ya? Emang kamu gak cium nih aku bau banget, belum mandi,” aku
menyodorkan kaosku ke hidungnya.
“Itu sih udah kecium dari kamu
buka pintu.”
“Trus? Kenapa aku malah dipeluk?!
Emang kamu gak kebauan?!”
“Emangnya kalau mau peluk, ketika
kamu harus wangi?! Aku juga suka waktu kamu belum mandi begini, atau bahkan
dalam keadaan apapun,” nada suaranya terdengar ringan, tapi membuatku makin
tenggelam dalam cintaku terhadapnya.
Aku menatap kedua matanya
bergantian. Bibir merah mungil itu masih tersenyum ke arahku.
Kamu bisa membunuhku dengan senyummu itu.
“Ya udah. Ngapain dulu kek sana . Aku mau mandi,” aku melepaskan
pelukannya dan berjalan ke arah kamar mandi.
“Oke,” dia menaruh tasnya di atas
sofa dan berjalan ke ruang kerjaku dan Edo .
“Jangan nge-geratak, jangan bikin berantakan, jangan bandel,” kataku padanya.
“Iya baweeelll…! Mandi aja sana , sikat tiga puluh tiga
kali giginya, biar gak bau!” kata-katanya masih terdengar jelas ketika aku
sudah berada dalam kamar mandi. Dia tidak tahu betapa senyumku sangat lebar dan
sumringah. Saking senangnya, aku ingin menceburkan diriku ke dalam bak mandi.
Tapi tentu itu tidak mungkin dilakukan.
Setelah selesai mandi dan
berpakaian, aku menghampirinya yang ternyata sudah berada di teras depan sambil
memegang gelas yang mengepul. Di atas meja di depannya ada satu lagi gelas
bermotif bulat-bulat coklat yang juga mengepul. Aku yakin gelas yang
dipegangnya berisi teh manis panas. Dan gelas yang satunya,
“Tuh, dah aku buatin kopi rebus
kesukaan kamu,” katanya tanpa melihatku.
Aku mengambil gelas dan mencium
aromanya, “sok tahu banget kamu kalo aku suka kopi rebus,” aku mencibir ke
arahnya.
“Kalo nggak mau, buang aja ke dalam
pot tanaman,” dia mendelik ke arahku.
Aku malah tertawa, “duileh si
neng, jadi judes gitu. Hihi, lucu deh mukanya kalo lagi cemberut, mirip kayak
marmut,” aku menggodanya. Dia tersenyum dan memukul pelan bahuku. Kalau sudah begitu,
jadi terlihat sisi manjanya.
Setengah hari berikutnya, aku
merasa langit menjadi cerah meriah. Kami mengobrol di teras dengan bangku yang
mirip bangku taman itu tentang banyak hal sambil menikmati teh manis dan kopi
rebus buatannya. Penuh dengan sebaris canda dan sederet tawa. Atau kadang kami
hanya terdiam sambil berpegangan tangan. Mencubit pipi dan hidungnya, mengelus
punggung dan rambutnya, memainkan daun telinganya, mendengarkan suaranya yang
banyak bercerita. Ia seperti es krim strawberry yang tidak habis dimakan dan tidak
meleleh terkena panas.
Lalu kami pergi makan siang di
suatu kafe yang juga ada toko bukunya di dekat rumahku. Meluangkan waktu untuk
membahas satu buku tertentu, ada diskusi ringan dan berbagi pendapat dengan suasana yang menyenangkan. Aku mengagumi
pikirannya yang cerdas untuk perempuan seumurnya. Sorenya kami pergi ke bioskop
terdekat, menonton film pilihan kami. Aku merasa menonton film bersamanya
selama ini selalu menyenangkan. Kami berdua sama-sama pencinta film, yah,
walaupun bukan tingkat berat, tapi selera film kami saling melengkapi.
Semua kegiatan kami hari itu
kembali lagi ke ‘bangku taman’ di teras rumahku. Keriaan malam itu ditemani
lagi dengan segelas kopi rebus, dan susu coklat hangat dan tanpa temanku Edo yang seperti ditelan bumi, katanya ia menginap di
rumah salah satu teman kami. Sambil memandangi pohon mangga di depan rumahku, kami
melepas lelah dan tetap saling membahas kegiatan kami seharian. Terkadang ia mengusap
punggungku agar ku merasa nyaman, pijat-pijat kecil di bahu dan belaiannya di
rambutku membuatku ingin segera terlelap di dekatnya.
Tiba-tiba ponsel-nya berdering.
Kami sempat berpandangan bingung. Lalu dia merogoh kantung sebelah kanan celana
jeans dan mengambil ponsel-nya. Sekilas ia memandang layar ponsel itu dengan kening
berkerut. Perlahan ia bangkit dari sisiku dan berjalan agak menjauh.
“Halo?”
Kata-kata percakapannya dengan
entah-siapa-yang-menelepon sudah tidak terdengar jelas. Rasanya jauh sekali.
Dan aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan lawan bicaranya. Aku meneguk
kopi di gelasku. Rasanya kok makin pahit ya? Tidak lama kemudian pembicaraan
Vio berakhir, dan ia kembali duduk di sampingku. Ia menggamit tangan kananku dan
menarik tatapan mataku ke dalam matanya.
“Langit, maaf ya, aku harus
pulang…” ekspresinya suram seperti ditelan malam, kata-katanya seperti tidak
mau lebih lanjut lagi dilontarkan oleh mulutnya.
“… Dio nyariin aku…”
Ah ya, Dio. Orang lain yang
mempunyai tempat yang sedikiiit lebih besar di hatinya dibandingkan posisi ku. Aku
berharap punya hati yang cukup besar lagi untuk mengatakan ‘ya’ kepadanya.
“Ya udah, pulang. Nanti kemalaman
sampai rumah,” aku beranjak masuk dan mengambil tasnya yang terletak di sofa
ruang tamu dan kembali duduk di sampingnya. Aku merasa matanya mengikutiku.
Lalu ia memakai sepatunya
perlahan-lahan, berharap itu bisa menambah waktu kebersamaan kami. Setelah ia
selesai menalikan sepatunya, ia kembali menatapku.
“Kalau bisa, aku ingin terus
bersamamu terus, Lang,” ia menghela napas.
Aku menginginkan hal itu lebih dari yang kamu tahu Vi.
“Tapi kita tidak bisa, ini sudah
malam. Besok-besok kita bisa ketemu lagi, kan ?” aku seperti meyakinkan perasan kami
berdua.
Ia mengangguk pelan. Ia mengecup
keningku dan gantian aku mengecup keningnya.
“Hati-hati di jalan ya, maaf aku
gak bisa mengantar kamu.”
“Iya, gak apa-apa. Makasih ya untuk
semuanya hari ini.”
“Sama-sama, aku juga senang
banget kamu datang.”
“Bye, Langit,” ia melambai pelan
padaku.
“Bye, Vi, hati-hati di jalan ya,
kabari aku kalau dah sampai rumah,” kataku.
Aku hanya bisa duduk bersandar
menatap punggungnya yang makin lama makin menjauh dan hilang berbelok di
tikungan depan rumahku. Aku seperti lupa bernapas. Dadaku rasanya sesak sekali.
Udara yang kuhirup seperti habis tiba-tiba. Aku mencoba minum kopi di gelasku
yang tinggal sedikit. Ugh, pahitnya seperti bertambah lima kali.
Aku membawa kedua gelas ke dalam
rumah dan menutup pintu depan. Kududuk di depan meja gambarku dan menatap
kertas kosong yang dari tadi siang masih di sana . Kertas putih itu kosong, belum ada
coretan atau tulisan. Sekosong hatiku yang menemui kenyataan bahwa aku harus
berpisah lagi dengannya. Cukup lama aku terdiam dengan pandangan hampa keatas
selembar kertas itu. Sampai kuambil spidol hitam dan aku menumpahkan apa yang
selama ini selalu mengganggu pikiran, hati dan harapanku.
Vio,
Aku gak ngira kalau kamu benar-benar datang hari ini
Aku kira orang lain yang mengetuk pintu rumahku
tapi ternyata itu kamu
Mungkin kamu harus belajar ilmu bedah atau kamu bisa nyewa tukang bedah
Biar kamu bisa bedah hatiku
Di dalamnya cuma ada kamu
Trus kamu bedah kepala dan otakku
Semua memori dan harapan aku ada kamunya
Aku kangen kamu banget
Meskipun aku bingung
Kamu belum tegasin status kita sebagai apa?
Atau kamu mau gak ada status?
Aku pengen ada.
Meskipun dekat dengan kamu bisa membuat semuanya
Jadi merasa di genggamanku
Tanpa aku harus menyandang status
- Langit-
Jakarta, 2008
***
No comments:
Post a Comment